Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir teh tawar panas dan seorang pemimpi …

Teh tawar panas menghangatkan tenggorokan gatal akibat terserang common cold. DosenGila ambil libur hari ini dengan alasan “common cold“, sudah agak mendingan sekarang meskipun hidung masih sering tersumbat.

Di postingan sebelumnya sempat muncul pernyataan kisah mirip laskar pelangi. Ya, memang beberapa kisah yang didengar DosenGila minggu yang lalu beberapa mirip-mirip kisah di Laskar Pelangi. Ada benang merah yang dapat ditarik dari kisah-kisah tersebut: “mimpi” dan usaha mewujudkan “mimpi”.

“Some men see things as they are and say why. I dream things that never were and say why not.”(Tribute to Robert F. Kennedy; June 8, 1968)

Salah satu kisah yang menarik adalah kisah Rob Lane, kolega DosenGila dalam payung proyek TI Pharma. Ini dikisahkan saat DosenGila menhadiri pesta di rumah Andreas Bender hari Sabtu minggu lalu (dengan sekitar 8 gelas red wine jadi korban DosenGila). Masa kecilnya adalah masa kecil di sebuah desa dengan total populasi tidak lebih dari lima puluh orang. Bagi penggemar Paulo Coelho yang pasti sudah membaca “The Devil and Miss Prym” sangat mudah membayangkan suasana desa tempat Rob Lane menghabiskan masa kecilnya. Satu kenangan tidak terlupakan di masa kecilnya adalah ketika orang tuanya mengundang teman-teman sebaya dalam perayaan ulang tahun yang ke-7. Saat itu mereka memainkan petak umpet dengan ada satu hadiah. Pemenangnya adalah yang bisa sembunyi dan ditemukan paling akhir. Secara Rob dibesarkan di rumah itu, dia bisa menemukan tempat persembunyian yang cukup strategis. Hingga setelah cukup lama dia keluar dari persembunyian (sekitar dua jam bersembunyi) dan mendapati semua teman-temannya sudah pulang. Dia dengan bangga mengambil hadiah yang tersedia. Namun, 4 jam berikutnya muncul satu anak lagi dari lemari dan menanyakan hadiah yang dijanjikan. Dan orangtua Rob pun mengambil hadiah dari Rob dan memberikan ke anak tersebut. Sirna sudah harapan Rob untuk bermain dengan hadiahnya. ~padahal mungkin permainan petak umpet direncanakan oran tua Rob supaya anak-anak tidak ribut he..he..he.. Rob juga bercerita, dari desanya dia butuh bersepeda sekitar 10 mil untuk sekolah. Bagi DosenGila ini mengingatkan pada Lintang di Laskar Pelangi. Di UK yang cuacanya jarang bersahabat apalagi saat musim dingin, bersepeda untuk ke sekolah?

However, Rob mampu mengatasi itu. Dia juga bercerita, anak-anak dari desa itu hanya punya dua pilihan: keluar dari desa dan tidak kembali selama-lamanya (kecuali untuk sekedar berkunjung/liburan) atau tinggal di desa itu selama-lamanya melanjutkan tradisi orant tua sebagai petani. Rob bermimpi untuk keluar dari desa tersebut, maka ia memilih pilihan pertama. Dia pergi ke Bristol Uni untuk menyelesaikan S1 dan S2-nya yang dilanjutkan ke Glasgow Uni untuk meraih PhDnya dan sekarang bergabung di Leiden Uni sebagai peneliti post doc dan tahun 2008 ini berhasil mengguncangkan dunia persilatan “penemuan obat” dengan keberhasilan dia dan beberapa kolega mengkristalkan adenosine A2A receptor dengan senyawa ZM241385 di dalamnya.

Penemuan ini dipublikasikan di Science Express 21 November 2008 (IF= 23.372; Merupakan impian seorang peneliti untuk publikasi di Science atau Nature.). Mengapa mengguncangkan? Karena penemuan ini menjadi falsifikasi model-model, hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang telah dipakai puluhan tahun. Penemuan ini pula menerangkan efek kafein secara molekular. Ya, bagi penggemar kopi ini merupakan berita bahagia. Penggemar kopi (secangkir kapucino sehari) memiliki kecenderungan untuk terhindar dari Parkinson. Lengkapnya dapat dibaca di sini.

Oh ya, teman Rob Lane yang berhasil “merebut” hadiah dengan bersembunyi di lemari melanjutkan sekolah di Oxford Uni dan sepertinya juga mengukir prestasi yang tidak kalah dari Rob Lane. DosenGila cukup tertarik dengan cerita masa kecil Rob, yaitu tentang ingatan dia tentang pesta ulang tahunnya yang ke-7. Karena ketika ditanya pesta ulang tahun yang lain dia lupa. Salah satu analisis yang muncul di pesta tersebut adalah bahwa peristiwa kehilangan “hadiah” menjadi luka batin yang masih terbawa sampai sekarang. Wow, betapa dahsyatnya efek “luka batin”.

Dalam postingan sebelumnya ada kisah lain mengenai seorang neglected scientist dan seorang Profesor Gaek. Kali lain mungkin diceritakan. Sudah terlalu panjang postingan kali ini. Dan hidung ini semakin susah bernafas.

~DosenGila lalu menenggak pil berisi parasetamol 500 mg.

Iklan

18 Desember 2008 - Posted by | Secangkir ... | ,

4 Komentar »

  1. bermimpi adalah awal dari sesuatu yang luar biasa. jangan pernah berhenti bermimpi

    Komentar oleh kishandono | 19 Desember 2008 | Balas

  2. tapi juga jangan terus2an bermimpi ya Kis? *malah ceting*

    kata orang bijak: bermimpilah, lalu keluarlah dari kamar untuk mengejar mimpi itu..

    PakDos, cepet sembuh yaaa…. *makanya jangan bandel, hehe*

    Komentar oleh tukang ngomel | 19 Desember 2008 | Balas

  3. Yak, saya sedang di tengah hutan Kalimantan, dan apakah akan bermimpi juga ya…

    Btw, 8 gelas red wine? 😆

    Komentar oleh Gunawan Rudy | 21 Desember 2008 | Balas

  4. @ kishandono: Kadang aku takut untuk bermimpi. Karena setelah bermimpi biasanya energi terkuras untuk merencanakan perwujudan mimpi. 😀

    @ tukang ngomel: He..he..he.. siap tidak bandel ….

    @ Goen: Iya E … 8 gelas gak kerasa koq setelah gelas ke 4 he..he..he..

    Komentar oleh Enade | 22 Desember 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: