Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir air putih dan hari kebangkitan nasional ….

PPI Amsterdam 2008

PPI Amsterdam 2008

bangkitlah wahai bangsaku … songsong masa depan
kejar ketinggalan entaskan kemiskinan
jalin persatuan kesatuan …

Sepertinya itu penggalan lirik sebuah lagu. Lagu apa ya …?

Anyhow, ayo semangat … bangkit … Bangkit … BANGKIT!!!!

~Memperingati hari Kebangkitan Nasional Indonesia ke 101 … Merdeka! Eh iya, foto diambil dari blognya Binsar dengan semena-mena

Iklan

20 Mei 2009 Posted by | Secangkir ... | 8 Komentar

Secangkir seduhan rosella dan undangan …

“Bro, ini Mawar (bukan nama sebenarnya) kirim sms, minta masukan kutipan ayat untuk undangan pernikahan. Ada saran?”, tanya seorang teman yang sedang menjalani proses dan prosedur pernikahan secara Katholik.

“Lha biasanya cewek itu sudah ada usulan dan kau tinggal menyetujui aja toch?”

“Usul dia sih ‘Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya’ dari Pengkotbah 13 ayat 11a”

“So? Bagus toch?”

“Bagus gimana? Kesannya pathetic sekali.”

Pathetic gimana?”

“Kebayang gak sih? Sepertinya pernikahan ini jadi puncak dari segala-galanya kalau pakai ayat itu. Padahal pernikahan ini hanyalah suatu pintu gerbang petualangan baru … Toch?”

“Sentimen amat sih kau pada ayat itu.”

“Iya, karena kesannya pathetic dan fatalistis. Padahal, dalam kasus Yunus, Allah membatalkan rencana menghukum Niniwe setelah mereka bertobat. Jujur untuk pernikahan, aku prefer sesuatu yang menguatkan …”

“Seperti?”

“Ayat yang melarang perceraian tuh apa?”

“Matius 19 ayat 6b? ‘Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia’

“Kalau nambah boleh dong?”

“Maksudnya?”

“Nikah lagi asal gak menceraikan ..he..he..he..”

“Dasar cah gemblung!”

… hening sesaat … Teman itu sepertinya berpikir keras memilih kutipan ayat yang pas. DosGil sengaja diam karena memang tidak berniat intervensi dalam hal “sakral” ini. Pernikahan (semoga) hanya sekali, semoga ayat yang dipilih cocok buat dia dan belahan jiwanya, dan mampu menjadi mercusuar jika bahtera rumah tangga itu digoyang badai.

Pembicaraan pun beralih ke masa-masa 4-5 tahun ke belakang, ketika darah panas ini mudah bergejolak dan dalam pencarian jati diri itu sering kali menyerempet-nyerempet bahaya dan berkubang “dosa”.

“Eh Bro, aku tahu ayat yang mungkin tepat buat dikau.”

“Mana?”

“Yohanes 8 ayat 11b.”

Lalu teman itu membuka aplikasi alkitab di komputernya dan melihat apa isi ayat tersebut. Sesaat kemudian dia mengambil bantal di sampingnya dan melempar ke arah DosGil sambil tertawa terbahak-bahak.

Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. (Yohanes 8:11B)

Volendam menatap horison ...

Volendam menatap horison ...

ingin rasanya menatap lekat
wajahmu setiap saat
memelukmu erat
dan memintal cinta dalam naungan berkat …

(sedikit untaian kata di halaman belakang liturgi pemberkatan nikah DosGil, 1 Agustus 2006)

19 Mei 2009 Posted by | Secangkir ... | 7 Komentar

Secangkir seduhan rosella dan “Do you believe in God?”

“I am an academic, and my mind tells me I will never understand God”

Begitulah jawaban Prof. Langdon ketika ditanya Sang Camerlengo dalam film Angels and Demons. Hmm..hm..hm.. bolehlah mendapat 7.1 di imdb, secara ending-nya meleset dari perkiraan penonton yang sudah membaca novel karangan Dan Brown dengan judul yang sama. Ada dua poin utama yang membuat kecewa saat menonton film ini:
1. “Cap” yang digunakan di akhir cerita diganti! Gak seru!
2. Karena terlambat lima menit, gagal menikmati film di Pathe Tuschinski ~kalau ini salah sendiri …he..he..he..

Grote Zaal Tuschinski

Grote Zaal Tuschinski

Untuk hiburan mengawali akhir pekan cukup seru, sama serunya saat menikmati film Wolverine minggu lalu di Pathe Tuschinski. Antimateri menjadi fokus cerita di Angels and Demons, sementara adamantium dan mutant merupakan nafas film Wolverine. Apakah ini yang dinamakan science fiction? Bagaimana dengan kisah “teh botol sosro dan hydroxylic acid“? Apakah ini juga science fiction?

“Dalam batasan wajar memang bisa berguna bagi tubuh kita, dan tubuh kita punya mekanisme untuk menetralisir kelebihan zat ini. Namun begitu melebihi ambang batas, tidak ada satupun manusia yang bisa selamat.”

Kutipan di atas diambil dari “hoax” tersebut. Kalau melihat “fakta-2” yang disajikan di “hoax” tersebut … sepertinya tidak ada yang salah. Silakan refer ke salah satu kasus yang sering dipakai di pembukaan kuliah “ilmu racun”: Woman died from ‘too much waterPemolesan dan pemilihan kata yang “menarik” menjadikan berita yang disampaikan menjadi “menakutkan”. Pendekatan serupa pernah dipakai media ketika heboh makanan berformalin, “Konsumen daging ayam terancam makanan mengandung bahan pengawet mayat“. Ya..ya..ya.. negara kita memang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan, dan diskusi sudah di”tutup” lama beberapa tahun silam dan sempat diposting oleh papabonbon dengan judul “Sate Ayam Lebih Berbahaya Dibanding Makanan Berformalin?“. Penjelasan lanjutan diskusi tentang formalin ini juga disambar di sini.

Terbayang kembali sebuah diskusi singkat di bawah pohon kamboja utara rumah:
Aan (bukan nama sebenarnya) bertanya, “Lha, jadi di makanan kita selalu ada racunnya ya?”
“Hm… tergantung sucut pandang melihat racun itu “, jawab Budi (juga bukan nama sebenarnya) diplomatis.
Lha, terus supaya aman kita ndak usah makan gitu?” kembali serang Aan
“We… ya lapar no?”, ujar Budi
“Lebih baik mati keracunan daripada mati kelaparan …” gumam Aan
“Imanmu telah menyelamatkanmu …”, tukas Budi dengan mengambil gaya “bersabda” sambil menyitir Lukas 17:19b.

So, do you believe in God …?

~DosenGila beranjak tidur setelah menghabiskan secangkir seduhan Rosella sambil mendengarkan alunan acappella ….

16 Mei 2009 Posted by | Secangkir ... | 8 Komentar

Secangkir teh rosella dan hari libur …

Ho.. ho.. ho..

Sesampainya di tempat Wahyuningrat dkk. mengambil Master seperti diceritakan di Negeri van Oranje, DosenGila merasa hampa. Setelah tiga minggu menikmati kehangatan Jogja (wogh Jogja panas E …), dengan keluarga, sanak saudara dan handai taulan. Sepi … di kamar … sendiri …

Sepertinya ini nada (sumbang?) yang sering didengungkan oleh pelajar yang sendirian di luar negeri, ketika keluarga dan belahan jiwa ada di belahan bumi yang lain. Mau berontak? Maunya sih … Apalagi dua minggu berpisah dengan Awan (yang lagi lucu-lucunya) menambah kehampaan yang ada semakin hampa (sek..sek … lebay banget gak sih … hampa semakin hampa .. ah biarkeun.). Dan hari libur pun tiba. Kerjaan yang menggunung sudah berkurang banyak setelah segenap energi dicurahkan untuk menguranginya. Hari Ratu dilanjut Hari Buruh ini benar-benar sangat cerah. Setelah jalan-jalan melihat hampir seluruh kota berwarna Oranje (dan botol-kaleng bir berserakan dimana-mana), hari ini hibernasi di kamar dan blogwalking.

Hari Ratu Belanda (30 April 2009)
(foto diambil semenea-mena dari facebook-nya Mas Lukman)

“Tapi suatu saat ada aja fase dalam hidup di mana kita kecerdikan kita udah mentok dan satu-satunya jalan adalah feel the pain and deal with it everyday.”
(diambil dari http://www.suamigila.com/; http://suamigila.com/2009/03/krismon-dan-kerjaan-baru.html)

Adalah tulisan dari Adhitya Mulya diatas yang sepertinya mempercepat datangnya “jiwa” yang serasa tertinggal di Jogja. Dan juga kekagetan atas berita-berita heboh yang menyangkut pimpinan KPK. Seperti hebohnya Hari Ratu Belanda yang diwarnai usaha bunuh diri orang stress akibat PHK dengan menabrakkan mobil ke rombongan ratu (berita bisa dibaca di sini).

~Secangkir teh rosella menghangatkan perut di malam hari ini. Sambil menunggu Awan bangun untuk didengar celotehnya, DosenGila merenung … apakah ada yang salah dengan berharap sehingga harapan sering menjadi sumber kekecewaan?

1 Mei 2009 Posted by | Secangkir ... | 6 Komentar