Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir air putih dan salju pertama masa adven 2009 …

Memenuhi permintaan @sevenova dan @gunawanrudy, DosGil persembahkan hasil jepretan amatir yang diambil menggunakan G1 Android di tengah acara lari-lari mengejar kereta yang jadwalnya kacau karena salju ….

1. Dari dalam kereta Den Haag – Schiphol.

2. Kereta kelas ekonomi ngetem di Schiphol

3. Halaman belakang Vrije Universiteit Amsterdam

4. Kalau musim panas, tempat ini bertebaran wanita pakai celana pendek jeans dan tank-top

Iklan

18 Desember 2009 Posted by | Secangkir ... | , | 9 Komentar

Secangkir teh tawar panas dan hari Sabtu yang cerah …

“Belum …” ketika DosenGila bertanya pada sang belahan jiwa apakah anak semata wayangnya sudah tidur. Sekarang anak itu masih menggelendot manja di buah dada ibunya, di Yogyakarta. Lokasi yang berjarak sekitar 20an jam perjalanan naik pesawat (kalau dikurs ke euro dengan asumsi naik KLM saat ini sekitar 800 euro). Jauh.

Amsterdam cerah hari ini. Setelah berminggu-minggu tidak pernah membuka gordyn di siang hari, hari ini kubuka. Seperti melihat hari baru, harapan baru. Atap-atap rumah berwarna merah dengan burung-burung camar beterbangan di sela-sela cerobongnya merupakan pemandangan yang memikat hati.

Musim dingin telah berlalu sepertinya. Saat menyongsong musim semi dengan segala semangat dan asa.

Selamat merayakan Valentine. Selamat menikmati salah satu hari yang special dan semoga bisa menjadi momentum untuk semakin menikmati setiap detik, setiap hembusan nafas, dan menyimpan semua kenangan indah dalam folder “hadiah Allah”.

~DosenGila akhirnya meng-update blog ini. Setelah hampir sebulan tidak di-update. Terima kasih pada teman-teman di CahAndong yang sudah menghangatkan hari-hari di perantauan ini.

14 Februari 2009 Posted by | Secangkir ... | , , , , | 18 Komentar

Secangkir teh tawar panas dan kisah tentang PKBI award …

PKBI Daerah Istimewa Yogyakarta, yang memiliki visi

“Terwujudnya masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan Kesehatan Reproduksi (Kespro) dan Seksual serta hak-hak Kespro dan Seksual yang berkesetaraan dan berkeadilan gender”

menganugerahkan PKBI Award 2008 berupa Blog Award kepada blogger yang memiliki perhatian terhadap isu-isu kesehatan reproduksi, HIV-AIDS, gender, dan HAM. Pengumuman keberadaan award ini juga disampaikan DosenGila di sini.

Selamat kepada Bli Oka, mBak Ikha Widari dan mBak Titiana Adinda atas award yang diterima. Semoga memicu semangat para awardee dan blogger-blogger lain untuk menularkan informasi dan tetap konsisten dalam “perdjoeangannya.” Apapun itu bentuk “perdjoeangannya”.

Iya … iya … Memang DosenGila telat sangat menyampaikan informasi ini. Momon, sang ketua kelas CahAndong, sudah tiga hari yang lalu mengulas berita ini. Bahkan pengumuman dari blog resmi tentang award ini sudah disampaikan lima hari yang lalu. Jujur saja, tulisan ini ditulis karena komentar Memed di sini yang mengingatkan DosenGila untuk jeng-jeng. Dan akibat jeng-jeng itu, DosenGila ketemu beberapa kebetulan yang mengingatkan pada PKBI award.

Jadi begini, siang tadi setelah mengomentari komentar Memed di sini, DosenGila diajak oleh seorang teman untuk menemani beli celana di Kalverstraat. Suatu ajakan yang tidak masuk akal sebenarnya secara DosenGila hampir tidak pernah membeli produk-produk tekstil sendiri. Biasanya sih dibelikan, dikado, dihadiahi maupun ditemani saat membeli. Pengetahuan maupun selera DosenGila tentang fashion bisa dikatakan nol putul. DosenGila hanya memakai baju yang tersedia dan nyaman. Jadi andai ada aturan atau saran untuk memakai baju seragam, DosenGila akan sangat bersemangat.

Kembali ke Kalverstraat yang dapat dikatakan sebagai Malioboronya Amsterdam. Sama seperti Malioboro yang terletak di sebelah selatan stasiun Tugu, Kalverstraat juga berada di selatan Station Amsterdam Centraal. Setelah berjalan kaki melintasi beberapa rel tram, maka akan ketemu persimpangan jalan. Di sini lah segala sesuatu dimulai. Salah satu saran dari beberapa teman adalah: “Jangan pilih belokan ke kiri. Apapun alasannya jangan pilih belokan ke kiri.” Sebenarnya memang tidak penting untuk ke Kalverstraat, karena memang Kalverstraat dicapai lebih dekat dengan menempuh jalan lurus ke selatan menuju de Dam. Sepanjang jalan ini akan ditemui toko-toko souvenir, kafe dan juga KFC di sebelah kanan jalan. Di sebelah kiri akan ditemui mulai dari kanal, kemudian Beurs van Berlage dan de Bijenkorf (yang ~katanya sih~ jadi tempat tujuan utama kalau ada pejabat studi banding ke Amsterdam). Setelah melewati de Bijenkorf, sampailah pada alun-alun Dam (terjemahan bebas dari Dam Square). Kalverstraat ada di ujung alun-alun yang dapat dicapai setelah hadap serong kanan dan langkah tegap maju jalan dan berjalan melintasi alun-alun.

Kami ketemu di ujung jalan itu kemudian keluar masuk toko mencari celana. Dan sampai toko tutup pada pukul 18.00 (Catatan: Kalverstraat dan sebagian besar toko di Amsterdam hanya buka sampai jam 21.00 di hari Kamis! Jadi kalau ke Amsterdam dan menjadwalkan belanja, lebih baik disusun siang atau sore hari di hari kerja.), tidak ketemu celana yang diinginkan ~lebih tepatnya: tidak ketemu celana yang sesuai budget he..he..he..~.

Salah satu etalase di daerah lampu merah

Hasil dari perburuan ini adalah lapar. Tujuan berikutnya adalah China Town bernama Nieuwmarkt untuk makan Chinese Food. Mau tidak mau ~eh salah ding lebih tepatnya: di dorong hasrat untuk makan~ , DosenGila beserta rekan melintasi daerah lampu merah yang terkenal itu. Saat menuju rumah makan, DosenGila melintas di daerah yang sedang direnovasi dan tidak ada cukup penerangan. Saat melintas daerah tersebut terdengar celutukan yang ironical, “Yes, we were walking through the famous red light district, and now we are walking through the no light district ….”

Saat mendengar celutukan itu spontan DosenGila tertawa terbahak-bahak, namun ketika beberapa lama berselang bertanya dalam hati: Lebih “gelap” mana? Red Light District atau No Light District? Ah embuh .. tidak ketemu jawabnya .. mungkin lebih baik ignorant saja, seperti diungkap di paragraf ketiga postingan DosenGila di sini. Nah, saat berpikir untuk ignorant ini, DosenGila mendapat inspirasi untuk menginformasikan tentang PKBI Blog Awardee 2008. Semoga dengan saling berbagi informasi, mengikis keputusan dan sikap-sikap ignorant serta mewujudkan cinta sejati. Dunia akan penuh dengan cahaya cinta.

Tentang saran dari beberapa teman mengenai: “Jangan pilih belokan ke kiri. Apapun alasannya jangan pilih belokan ke kiri” ternyata adalah karena ke kiri merupakan langkah awal menuju daerah lampu merah. Padahal kalau ada niat, daerah lampu merah dapat diakses dari berbagai tempat. Ho..ho..ho..

~Stasiun kereta ke selatan, ada persimpangan. Kalau lurus ke daerah perbelanjaan. Kalau belok ke salah satu simpangan ketemu ‘daerah lampu merah” yang dekat dengan china town. Koq serasa mirip-mirip stasiun tugu ya? Apakah tata kota Amsterdam ikut-ikutan Djogdja?

~gambar diambil semena-mena dari http://easyexpat.blogexpat.com/gallery/1/red-light-district.gif

30 November 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , , , , , | 7 Komentar

Secangkir amareto dan akhir pekan yang “sempurna” …

Amareto habis. Tinggal setengah cangkir. Hmmm… dioplos dengan air es seperti di bar-nya Billyard Rokin ternyata enak juga. Ah… akhir pekan ini ditutup dengan sempurna.

Seperti biasa, akhir pekan sangat renyah dinikmati sendirian. Dimulai dari berkumpul di warung celebes (tempat dulu Mas Lukman bekerja) selepas dari lab dengan tidak sengaja ketemu segerombolan rekan-rekan sebangsa yang habis pulang kerja. Kami memenuhi separo warung itu, indah lucu banyak cerita hingga warung tutup. Selepas dari warung, kaki melangkah menuju “kandang beruang”, tempat beruang asal Pogung ini berhibernasi di akhir pekan. Yup, dan akhir pekan diawali dengan mencoba meng-install UBUNTU di laptop Compaq 8510p dengan RAM 4 GB, teman hidup sehari-hari. Sukses, bahkan sudah lengkap dengan PyMol. Sebenarnya malas sih main-main dengan UNIX/LINUX lagi, tapi ternyata pekerjaan lab sepertinya harus membuatku kembali pakai UBUNTU.

Kenapa UBUNTU? Karena di lab pakainya Debian dan UBUNTU merupakan derivat dari Debian. Jadi diharapkan aplikasi yang diperlukan di lab kompatibel dengan UBUNTU. Ya..ya..ya.. Beberapa sudah bertanya: Kenapa gak ini? kenapa gak itu? Yang itu lebih bagus lho … Yang bertanya pun sudah ada yang menjawab: “Ah itu cuma masalah selera”. Kalau jawabanku sih sederhana: Aku memakai “alat” yang aku butuhkan. Begitu “alat” itu berfungsi, untuk apa melirik yang lain, kecuali yang lain menawarkan “kemudahan yang significant”. Sesederhana itu saja alasannya. Btw, ini post pertama di blog ini dengan menggunakan UBUNTU. Biar gak dibilang HOAX … berikut ini skrinsyutnya:

Ubuntu-ku

He..he..he.. ternyata DosenGila pecinta warna biru atau karena lagi mellow efek dari amareto? Ah. akhir pekan sudah berakhir, sudah ditutup dengan nonton Quantum of Solace, belanja logistik untuk seminggu ke depan, dan diakhiri dengan makan nasi goreng lauk bebek peking di samping “daerah lampu merah”. Semakin disempurnakan oleh kesendirian yang tidak sepi dan tidak sunyi …

Eh iya, karena menulis “daerah lampu merah” jadi ingat pesan sponsor dari teman-teman CahAndong. Ada lomba blog berhadiah PKBI Award. Informasi lebih lanjut, silakan menuju TeKaPe:

PKBI Award

Seminggu yang lalu sibuk sangat. Seminggu ke depan semoga stamina masih mendukung. Merdeka!

~DosenGila agak mabuk bebek peking sepertinya ….

17 November 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , , | 7 Komentar

Secangkir teh panas dan cerita tentang lampu merah …

Baiklah-baiklah, sembari menunggu air panas mendidih untuk membuat secangkir teh di pagi hari yang semakin dingin ini, akan kuceritakan secara singkat tentang daerah lampu merah atau red light district (lebih enak disingkat RLD, bisa juga pakai kode forbidden kingdom-nya Mas Iman) yang sangat terkenal itu. Postingan ini sekaligus untuk memenuhi hasrat Goen, Mas Alya, Bung Peter, dan rekan-rekan lain dari gerombolan cahandong (Waktu aku datang juminten-an, sepertinya ada yang malu-malu mau tanya. Haish, pakai malu-malu segala! he..he..he..).

Begitu mendarat di bandara international Schiphol, RLD bisa dicapai dengan naik kereta menuju Station Amsterdam Centraal. Setelah itu keluar ke arah kota mengikuti arus orang yang ada, ke Damrak. Pemandangan begitu keluar station cukup menarik (apalagi kalau cuaca cerah). Sembari menyusuri jalan bisa cuci mata, di sebelah kanan di deretan pertokoan, dapat ditemukan Museum S*x, di sebelah kiri tak kalah menjanjikan, adalah kanal yang menawarkan boat trip keliling Amsterdam (Bayangkan: berdua saja dengan orang yang dicintai, minum wine segelas dua botol, lalu sedikit mabuk merayu, “Would you like to ….. with me?” Silakan titik-titik diisi sendiri). Untuk menuju RLD, diujung kalan ada gang ke kiri. Masuk gang tersebut dan ikuti arus manusia. Kalau di sebelah kanan ada S*x Shop yang diatas pintunya seperti foto berikut, maka anda berada di jalur yang benar.

Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos

Silakan di-google arti kata “Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos”, niscaya anda akan semakin kagum dengan RLD. Lalu setelah berkeliling-keliling dengan deretan penjaja yang mejeng di etalase di kanan kiri sepanjang RLD, maka akan anda temukan sebuah gereja yang masih aktif (di Belanda banyak gereja yang sudah tidak aktif). Di sekeliling gereja juga merupakan tempat mejeng, bahkan terkenal dekat dengan salah satu gang (sangat sempit) yang dihuni oleh penjaja yang cantik-cantik. Persis di samping gereja akan ditemukan salah satu coffee shop (di Belanda, coffee shop menyediakan ganja dan produk turunannya secara legal, kalau coffe shop “biasa” maka dijuluki “cafe”).

diantara gereja, RLD dan coffe shop

Dari foto diatas (sayang kurang jelas, hujan rintik-rintik), gereja ada di sebelah kanan, gang menuju kawasan “cantik” dibelakangku (ada lengkungan lampu warna merah) dan coffee shop ada di sebelah kiri (ada lampu warna-warni).

Setelah mengitari gereja, kita kan kembali ke jalan yang sama, maka disarankan menyusuri sisi jalan yang berbeda, dan kita kembali ke “jalan yang benar” (maksudnya ke Damrak), setelah mendapati ada toko kondom lucu-lucu di sebelah kiri anda.

www.condomerie.com

4 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 9 Komentar