Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir sokelat dingin di KRI SULTAN ISKANDAR MUDA

Bagi yang pernah membaca postingan ini, pasti melihat foto anak kecil imut lucu dengan nama panggilan Awan. Sekarang berusia 6 bulan 9 hari. Nama lengkapnya adalah Kurniawan Respati Istyastono, jika disingkat menjadi KRI. Bukan koq.. bukan … Postingan ini bukan tentang Awan melainkan tentang KRI yang lain yaitu KRI Sultan Iskandar Muda, kapal perang jenis korvet kelas Sigma (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang segera memperkuat armada laut negeri tercinta Indonesia. Baiklah… baiklah tidak akan saya bahas panjang lebar tentang hal-hal teknis terkait KRI Sultan Iskandar Muda karena bisa di lihat di sini dan berita-berita terkait lainnya di portal yang sama.

Masih ingat tulisan ini? Tulisan tentang bendera pertama kali di blog ini. Beliau-beliau yang berdiri di foto dalam postingan tersebut lah salah empat dari beberapa perwira yang bertanggung jawab terhadap operasional KRI Sultan Iskandar Muda. Mereka terdiri dari tiga perwira pelaut dan satu perwira bertanggung jawab di logistik. Foto tersebut diambil saat mereka berkunjung ke Amsterdam sekitar 3 bulan yang lalu.

Ster = Star = Bintang

Hari ini kami berkumpul lagi untuk memenuhi undangan makan siang di kapal dalam rangka perpisahan. Minggu depan kapal akan bertolak ke Indonesia. Acara diawali dengan penerimaan di statiun kereta Vlissingen, dilanjutkan jalan kaki di pinggir pantai menuju kapal. Di geladak kapal kami disambut oleh bendera merah putih yang bekibar di atmosfer Belanda. Badan otomatis membentuk sikap siap sempurna (meskipun kesulitan karena ukuran tubuh sudah sesuai untuk mempelajari kungfu panda), tangan kami langsung hormat pada bendera.

Acara dilanjutkan makan siang dan tour keliling kapal. Diteruskan dengan nongkrong di buritan sambil nostalgia menyanyikan lagu jaman SMA dulu. Mars, hymne, hymne alumni mengalun dengan berbagai debat karena ada beberapa lirik yang senantiasa berganti setiap angkatannya. Ketika matahari sudah bosan dengan wajah kami hari ini, kami kembali berpisah di station tempat kami bertemu pagi tadi. Sikap siap sempurna dan hormat tangan perpisahan terjadi menggariskan tanya, “Kapan bertemu kembali?”. Selamat jalan para pengawal bahari Nusantara. Semoga Tuhan memberkati sumpah dan janjimu!

Iklan

12 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | , , | 1 Komentar

Segelas besar teh tawar panas dan delay satu jam di Bandara Juanda

Dosengila sembari tersenyum kecut bertanya pada petugas check in, “Delay satu jam?”
“Begitulah Pak. Ada latihan oleh TNI AU di Jogja sehingga bandara ditutup selama satu jam. Terpaksa pesawat di kami delay.”

Dosengila lalu melangkah gontai menuju gate 2 tempat pesawat yang direncanakan delay dalam membawanya terbang ke Kasultanan nDoyokarta berhati Zamatriphe. Memasuki gate, dosengila bersiap untuk melewati pemeriksaan, dan ditolak. Alasan penolakanya karena pesawat delay jadi masuknya gate juga ditunda. Bayangan dosengila untuk menikmati ruang tunggu sembari meneruskan tidurnya yang tertunda karena mengambil penerbangan kepagian sirna sudah.

Akhirnya dosengila balik kanan dan menuju tempat yang bisa untuk merokok, Wismilak Diplomat Kafe. Dan setelah duduk dan mengambil laptop, setelah memesan nasi rawon dan teh tawar panas, hati yang gontai cukup terobati karena ada WiFi gratis. Dan dosengila pun segera menuliskan kisah-kisah mengharukan menyayat hati dan membuat setiap pembaca mengucurkan air mata dan darah ini.

Ya. Dosengila memang terdampar di Surabaya sejak hari Minggu 14 September kemarin. Acara intinya adalah menghadiri buka bersama (bubar) rekan-rekan seangkatan waktu SMA dulu yang berdomisili di Surabaya, dengan acara sampingan berkunjung dan diskusi untuk merancang proyek rahasia yang didanai Istanadiskusi dan sharing di Fakultas Farmasi UNAIR.

Dua belas orang hadir dalam acara bubar, dan sebagian besar sudah tidak bertemu dengan dosengila lebih dari 10 tahun. Dan dosengila memiliki “massa” terbesar dibandingkan mereka. Mungkin karena tuntutan profesi yang membuat rekan-rekan tetap relatif “slim”.

Masih ada Budut ...

Budut pulang diganti Yimmi Kur

Rawon sudah siap, teh tawar panas sudah menunggu untuk menghangatkan perut. Selamat makan …

16 September 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 2 Komentar

Secangkir caffelate dan bendera …

Merah putih di Amsterdam ... I am dam!

besok dijadwalkan pulang ke Indonesia.
libur (sembari “kerja”) menjenguk sanak saudara
dan bercengkerama dengan cinta
oh ya, ini bukan puisi loh ya ….
hanya sekedar bercerita tapi ingin pakai rima

tulisan ini ditorehkan sembari mendengarkan COKELAT punya “bendera”
mengingatkanku akan masa sekolah terutama saat SMA
ketika upacara dan hormat bendera adalah makanan setiap pagi dan kala senja
tangan kanan diangkat sejajar bahu dan maju sekitar 15 derajat ke muka
ujung tangan dengan jari rapat ditekuk menempel ujung alis kanan di atas mata

masa itu sudah berlalu lama
namun selalu ada itu rasa dan semoga selalu tetap ada
ditengah semua galau dan goda
negeriku dan aku sudahkah berintegrasi dalam cinta

“mengapa dadaku mesti berguncang” (ngutip Ebit G. Ade) bila
melihat berkibar bendera merah putih di sebuah tiang terpancang merana
tangan ini reflek ingin mengangkat dan hormat padanya
tapi dimana?
disini selalu ada tambahan biru di bawahnya

pulang ke pelukan bunda
adalah salah satu jawabnya
pulang esok dan ikut upacara
sepertinya terdengar gila
tapi orang gila yang bahagia
dan merdeka

aku pulang (lagi) bunda
ke pelukanmu yang hangat dan penuh cinta
pelukan yang menenangkanku kala gundah gulana
ingatkah bunda?
kala itu agustus beberapa tahun silam mendekati peringatan hari merdeka
engkau belikan aku berlusin-lusin plastik bendera
merah putih warnanya
saat itu kampung kita sedang dihias oleh pemuda
oleh warna merah putih di setiap sudut dan tali yang melintang di jalannya
kuambil sebagian itu bendera
kubagi kepada anak-anak yang lainnya
dan kami bermain perang-perangan seperti biasa
pejuang Indonesia lawan tentara Belanda
(ah sekarang aku minum air Belanda pula)
saat itu bendera kurang karena ada beberapa anak baru bergabung pula
aku lari pulang mengambl bendera yang tersisa
dan kudapati tinggal beberapa helai saja
bunda, engkau bercerita bahwa kampung kurang bendera
dan pemuda panitia meminta kepada bunda
benderaKU yang masih ada
benderaKU bunda!
bunda memberikan pada mereka apa yang diminta
dengan sempat menyimpan beberapa helai saja
batin kanak-kanakku berkata, “benderaku direbut paksa!
Ah ternyata begini kelakuan para pemuda.”
namun seorang anak tanpa daya
hanya bisa batinnya terluka
dan bercerita setelah lebih dari 20 tahun berputar masa
pecah tangisku kala itu tidak terima
meski demikian perang-perang jalan tanpa jeda
bendera masih ada dan semua dapat rata
hanya sebagian (besar) telah diambil paksa

benderaKU bolehlah diambil paksa
bendera bangsaku harus berkibar diatas sana
benderaKU yang juga bendera bangsaku akan selalu berkibar di hati orang merdeka
apakah aku sudah merdeka?
apa definisi merdeka?
entahlah, aku hanya ingin ikut upacara
dan hormat bendera

MERDEKA!
dalam hatiku yang tergetar oleh pekik merdeka
terucap janji yang terpatri sejak lama
… memberikan karya terbaik bagi masyakat bangsa negara dan dunia!

DIRGAHAYU NEGERIKU, DIRGAHAYU BANGSAKU, DIRGAHAYU INDONESIA!

14 Agustus 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 2 Komentar

Secangkir teh panas yang belum jadi …

Pagi – Sabtu 9 Agustus 2008

Tiga hari telah berlalu sejak ulang tahunku yang ke-29. Hari ini ulang tahun seorang rekan di Aachen, Jerman dan satu lagi di Haarlem, Belanda. Selamat ultah ya Arya dan Myra, semoga damai sejahtera senantiasa. Sembari menunggu air mendidih, sejenak angan ini berlari ke seminggu yang lalu, saat Parade Gay Pride di Amsterdam. Dari parade tersebut kemudian terjadi hal-hal iseng di dunia maya dengan munculnya “perang tag” di facebook. Jadi seorang “oknum” (sebut saja bernama Binsar) melakukan “gerilya” dengan memotret berbagai adegan di parade tersebut lalu men-tag “teman-teman”nya. Dan ini adalah gambar yang di-tag ke diriku:

Lucu juga sih. Sepertinya asyik punya rambut pirang panjang dan bodi masih seperti jaman SMA dulu (Emang pernah ya punya bodi seperti itu …. ). Thanks to Binsar yang menghadirkan parade tersebut secara aku tidak bisa nonton. Semoga tahun depan masih ada kesempatan.

Pada saat itu, aku, Heri, Myra, Iqbal, dan Bebi mengunjungi Vlissingen dalam rangka jalan-jalan bersama kru kapal KRI Iskandar Muda, Bang Ludfy, Friski, Romy dan Anugrah a.k.a Erol. Secara kami berasal dari SMA yang sama, perbincangan mengalir dan berbau nostalgia serta cela-celaan yang khas. Kota Vlissingen hari itu memberikan suasana yang cerah di pagi siang hari dan hujan rintik-rintik di sore hari. Diawali dengan makan siang di “Mini Wok” di pusat kota. Lalu jalan mengelilingi kota, potret sana-sini. Melihat kekasih bermesraan di tepi pantai. Makan oliebollen (bahasa Indonesianya mungkin: roti goreng) sembari melihat meisje-meisje adu ketrampilan di atas kuda (kebetulan hari itu ada acara khusus di Vlissingen). Bersandar di patung Michiel de Ruijter si anak emas kota Vlissingen (Salah satu pahlawan besar Belanda yang kucurigai terlibat dalam penjajahan Indonesia dan juga perdagangan budak), sambil melihat Iqbal kagum dengan lautan yang menggelora menakjubkan. Angin laut tak henti-hentinya menyapa rambutku saat itu. Setelah secangkir-dua cangkir gin and tonic di sebuah kafe dan makan malam di restauran di seberang jalan kafe tersebut, pasukan bergerak ke stasun Vlissingen. Dan karena efek angin laut, aku terpaksa beristirahat semalam di Rotterdam di kediaman Heri.

Hari-hari selanjutnya seperti hari-hari sebelumnya, rutinitas belaka. Lumayan sudah ada kemajuan di tempat kerja dan mulai terbiasa dengan kamar baru ini. Kecuali tanggal 6 Agustus lalu yang merupakan hari istimewa. Hari tepat 29 tahun yang lalu aku dilahirkan. Angka 29 cukup membuat mata ini “silau”, satu lagi jadi 30. Aku dah tua ternyata ya …

Sempat pula menonton “The Dark Knight” dan “Wall-E“. In my opinion, the dark knight gak sebagus yang kuharapkan. Dari berbagai testimoni rekan-rekan yang sudah nonton mengatakan film itu bagus, namun aku mendapati hal yang berbeda. Okelah, effect-nya keren, actingnya Ledger boleh dibilang memukau sebagai joker, adegan pertentangan batin yang merupakan “permainannya Joker” bisa dibilang inspiring. Namun aku kira Jokernya disini kurang lucu, perubahan karakter Harvey Dent kurang dramatis, dan keseluruhan cerita mengingatkanku pada “Dark Justice“, serta hampir semua adegan di film tersebut predictable. Jadi pas nonton, ketika angle kamera mengarah ke seseorang, alam bawah sadarku langsung menerka orang ini akan berbuat apa, bahkan step-stepnya Joker sudah tertebak, dari awal hingga akhir film. Lalu semalam menyempatkan diri nonton Wall-E, yang bagiku lebih bagus dari pada “The Dark Knight”. Cerita di Wall-E sederhana dan ending-nya sudah bisa ditebak khas film untuk anak-anak. Namun adegan-adegan di Wall-E yang lebih memanfaatkan ekspresi daripada dialog cukup mengagetkan dan sempat membawaku serasa dalam dunia Wall-E. Sayang, ending-nya terkesan dipaksa dramatis. Ah, tapi ini hanya review dari orang yang awam dunia pelem-pelem-an. Nonton film sekedar untuk refreshing dan membunuh waktu sebagai jomblo lokal. Dan perbedaan pendapatku dengan http://www.imdb.com/ semakin mempertegas keyakinanku kalau keindahan itu subyektif bukan obyektif, “de gustibus non est disputandum” atau “tidak ada perdebatan dalam masalah selera”.

Ada satu ide yang tergali lagi dari pikiranku saat nonton Wall-E: “The Chemistry of Love”. Beberapa laporan dan artikel mengenai oksitosin, feromon dan lain sebagainya mengarah pada hipotesa bahwa “Love is merely chemical reaction“. Kalimat “kami sudah tidak merasakan chemistry satu sama lain, maka kami berpisah” bisa jadi tepat. Kali lain aku akan coba review ini lebih detil, dan kalau sudah mencapai masalah teknis, mungkin perlu pindah ke blog sebelah. Mengapa nonton Wall-E bisa muncul kembali pemikiran ini? Karena Wall-E adalah sebuah robot, bisa dikatakan tidak ada serangkaian asam amino yang menyusun protein di Wall-E. Bagaimana Wall-E jatuh cinta? atau tepatnya Bagaimana Wall-E punya perasaan? Ah .. sekali lagi menghela nafas, itu kan pelem … he .. he.. he .. Why so serious? (Loh koq malah mengkutip kalimat Joker di “the Dark Knight” :p )

Ooppss, air sudah lama matang. Secangkir teh panas dan sekeping croissant lengkap dengan beberapa helai salami ayam dan kalkun segera disipakan untuk makan pagi.

Merdeka!

9 Agustus 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , , , , , , | 4 Komentar