Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir kopi amareto dan lanjutan kisah Natal ke-3 …

“Selamat Tahun Baru 2009! Tahun baru, harapan baru dan semangat yang diperbarui untuk makes your dreams come true! “

Sebagai pembuka tulisan di awal tahun 2009 ini, DosenGila menyampaikan salam hormat dan terima kasih pada Iqbal a.k.a Qybolt yang telah bersedia melewati pergantian tahun ini bersama DosenGila dan teman-teman dengan segala kemeriahan lengkap dengan sisi mata uang yang lain: capek setelah pesta usai. Sekali lagi terima kasih dan sukses selalu!

Melanjutkan kisah di postingan sebelumnya, hari ke-3 Natal atau hari Jum’at 27 Desember DosenGila terdampar lagi di Vlissingen tempat kapal-kapal yang dibeli TNI AL dibuat. Saat ini yang berada di sana adalah kru kapal ke-4, KRI Frans Kaisiepo. Sesampainya di Vlissingen station, kami disambut rekan-rekan satu almamater yang menjadi kru kapal dan kemudian jalan-jalan keliling kota Vlissingen (lagi) yang diakhiri dengan makan siang. Kisah yang mirip dengan kru kapal yang berbeda dapat dibaca di sini. Salah satu pengalaman menarik adalah setelah selesai makan, kami mengunjungi asrama para kru kapal dengan naik sepeda berboncengan. ~Huahahaaaa (ketawa ala Rahwana) yang berakhir dengan kaki pegal, kram dan sulit digerakkan. Iyalah, bersepeda dengan suhu minus lima derajat di pinggir pantai …..

Kunjungan balasan ke Amsterdam dilakukan oleh Foe dan Ikhlas tanggal 31 Desember 2008 yang berencana untuk menghabiskan malam tahun 2008 di Amsterdam. Qybolt yang datang semalam sebelumnya menyiapkan penyambutan dengan tongseng domba dan sapi ala DosenGila. Sayang karena sesuatu dan lain hal harus segera pulang meninggalkan Amsterdam padahal baru seperempat rencana di Amsterdam dijalankan.

Sepulang dari mengantar ke via Amsterdam CS, tak sengaja DosenGila ketemu dengan “tetangga atas kamar” yang bersiap untuk ke pesta Tahun Baru di rumah keluarga Oom Achmad Marconi di Purmerend. Dan DosenGila bersama Qybolt yang tidak punya rencana menghabiskan malam tahun baru ini memilih mengikuti alternatif ini. Dan sepertinya “There are no accidents!”-nya Master Oogway di Kung Fu Panda memang benar. Bukan kebetulan kalau pertemuan dengan “tetangga atas kamar” menjadikan malam tahun baru DosenGila menjadi meriah, sangat meriah. Terima kasih.

There are no accidents“, suatu kutipan yang menggarisbawahi takdir atau “destiny“. Takdir akan membawa DosenGila (dan juga anda) ke mana di tahun 2009 ini? Apakah harus menghadapi dengan pesimis atau optimis? Ah, itu sulit karena setiap orang dengan kepribadian yang berbeda akan menjawab dengan jawaban yang berbeda dan tidak ada yang salah oleh karenanya. Mungkin strategi yang ditawarkan Master Oogway bisa dipraktekkan: fokus di sini dan kini yang bisa disarikan dari kutipan ini: “You are too concerned about what was and what will be. There is a saying: yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present.

Dan di tengah tahun 2009 ini, jika mendapati kebahagiaan seperti tercerabut dan terhisap habis karena perkara-perkara kecil ataupun besar yang menyisakan perih, pedih, sunyi, sepi dan perasaan tiada arti lagi, be aware! Dementor pasti sedang di sekeliling kita. Ambil “tongkat sihir”, rentangkan tangan, kumpulkan semua ingatan tentang kebahagiaan dan harapan, lalu teriakkan rapalan mantra “Expecto Patronum“. Seperti Harry Potter saat menghadapi dementor untuk menyelamatkan Sirius Black dan juga dirinya sendiri.

31 Desember 2008 Posted by | Secangkir ... | 8 Komentar

Secangkir kopi kental dan kisah natal ke-3 (lagi) …

Secangkir kopi hitam kental ada disamping DosenGila saat menuliskan postingan ini. Hmm… agak susah sih disebut kopi secara sebenarnya yang ada di cangkir ini adalah teh tawar yang diberi sesendok kopi instan dan dua blok gula. Campur aduk pahit, manis, dan beberapa rasa lain. Campur aduk seperti rasa yang menghiasi benak dan tubuh DosenGila saat ini. However, satu hal yang pasti: Secangkir ramuan campur aduk ini menghangatkan suasana dan perasaan DosenGila pagi ini saat suhu di Amsterdam mencapai minus 3 derajat celcius.

DosenGila melewatkan minggu ini dengan banyak cerita. Hari-hari awal (Senin, selasa, rabu) masih (sok) rajin datang ke kampus karena masih terobsesi oleh satu problem yang belum solved. Dan pada Rabu malam, DosenGila menyerah dan menyerahkan hal itu pada Sang Kuasa. Saatnya menyambut dan memperingati Natal. Natal ke-3 di Belanda, jauh dari pelukan hangat keluarga dan kecup mesra istri tercinta.

Keluar dari kampus, DosenGila bergerak menuju restoran China di pecinan samping Red Light District. Lalu karena kekenyangan mengurungkan niat untuk ke gereja De Krijtberg dan pulang. Istirahat dan tidur. Keesokan harinya melewatkan hari dengan “keliling dunia” menyapa para sahabat yang juga sedang di depan komputer, sambil mendengarkan radio yang memutar lagu-lagu natal serta tidak lupa pastinya hadir di rumah di Jogja secara virtual dengan bantuan teknologi saat ini. Bercanda dengan Awan dan bercengkerama dengan Emy. Dan ketika malam sudah menyapa di Jogja serta Emy pamit untuk tidur, saatnya DosenGila bergerak ke De Krijtberg untuk berbagi kebahagiaan dan damai bersama mereka yang hadir di gereja tersebut. Sepulang dari gereja menemui satu sosok ayah yang karena mengemban tugas yang mirip dengan DosenGila harus meninggalkan keluarga di belahan bumi yang lain. Mereka berbagi cerita dan mimpi sambil makan malam lalu kembali berpisah mengikuti jalan menuju pondokan masing-masing. Sesampainya di gedung tempat DosenGila tinggal, DosenGila menuju kamar tempat sepasang sahabat tinggal di lantai atas memnuhi undangan makan malam yang mendadak. ~makan lagi …. padahal sudah makan … huahahahahaha kapan kurusnya

Sambil makan, DosenGila berbincang dan juga nonton hiburan yang disajikan di TV: Film Harry Potter ke-3. Ada yang menarik dari film ini: mantra Expecto Patronum yang dipakai untuk menangkal Dementor (makhluk gaib yang menghisap kebahagiaan). Setelah capek dan malam sudah berganti menjadi pagi, DosenGila kembali ke kamar yang terletak di satu lantai di bawah di gedung yang sama. Tidur.

Bergegas setelah bangun kesiangan, DosenGila bersiap dan menuju acara kebaktian Natal Keluarga Katolik Amsterdam. Bergabung dengan komunitas Indonesia merayakan Natal merupakan kebahagiaan tersendiri apalagi saat itu DosenGila berkesempatan menyumbangkan (baca: membuat jadi sumbang) lagu dalam koor anak-anak muda. Sayangnya DosenGila harus meninggalkan acara sebelum usai karena sudah ada janji untuk nonton resital piano Wibi Soerjadi di Grote Zaal Concertgebouw Amsterdam. Dan kegembiaraan dilanjut sambil duduk tenang di tengah resital dan menikmati dentingan piano dari cabikan lembut namun maut dari sang Maestro. Selesai nonton, sebagian gerombolan pun kembali ke markas besar di rumah sahabat, sang tetangga atas kamar. Dilanjut main Wii dan makan tentunya. DosenGila harus pulang cepat karena esok paginya ada janji lain yang menawarkan petualangan yang tak kalah menarik: berkunjung ke Vlissingen, menemui rekan-rekan alumni SMA Taruna Nusantara yang sedang ditugaskan mengambil kapal ke-4 (yang rencananya akan dinamai KRI Frans Kaisiepo) yang dibeli untuk memperkuat armada TNI AL.

(bersambung …)

28 Desember 2008 Posted by | Secangkir ... | , | 7 Komentar

Secangkir … dan …

Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009.

24 Desember 2008 Posted by | Secangkir ... | 6 Komentar

Secangkir teh tawar panas dan …

DosenGila baru pulang dari jalan-jalan dengan seorang wanita cantik. Secangkir teh tawar panas disisinya saat ini. Depresi bulan Desember ini memang “berbahaya” untuk dihadapi sendirian. Dan perpisahan di Amsterdam Centraal ditandai dengan kecupan 3 kali. Di pipi kanan sekali, pipi kiri sekali dan sekali lagi pipi kanan. Ketika DosenGila mencoba mengecup dahinya dengan mudah the lady mengelak dan menghindar sambil segera berlari kecil ke arah kereta sambil melambaikan tangan dan berseru “Sampai jumpa Sabtu besok ya ….!” Dan kereta pun bergerak menuju kota tetangga. Ya, dia mudah sekali mengelak karena DosenGila praktis kalah tinggi. “We are not in the same level!Haishhh, itu kan kata kunci diskusi kami malam ini. Kalau dia membaca pikiranku pasti tertawa terbahak-bahak.

http://lh3.ggpht.com/_shbDd8GvnlI/RuLRO0LJ9tI/AAAAAAAAECc/-jE9CGwnhLE/1450093.jpg

Wanita cantik yang makan malam dan nongkrong di kafe bersama DosenGila tadi bercerita tentang sebuah “percakapan yang terjadi di dunia kerja” antara seorang karyawan baru dan karyawan lama yang berselisih akibat hal sepele. Puncaknya adalah karyawan lama berkata, “We are not in the same level! I warn you not to cross the line.” Sang karyawan baru hanya terdiam, speechless.

DosenGila jadi ingat bahwa dia berencana berkata pada seseorang, “I do not want to argue or even discuss with you since we are not in the same level.” ~huahahahahaaa (tertawa ala Rahwana) Artinya adalah DosenGila memang hanya rumput yang bergoyang yang siap dilempar ke perapian yang menyala, tidak layak lah untuk berdiskusi atau bahkan menyampaikan pikiran. Tapi mungkin pilihan katanya tidak tepat, DosenGila memutuskan untuk tidak jadi menyampaikan kalimat itu. Mungkin akan diganti, “Tuan, saya tidak pantas tuan datang pada saya. Tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Mungkin juga diam saja. Ngeblog sudah cukup sepertinya. Kalau ngelunjak, bisa-bisa jatuh seperti teman di foto yang diambil dengan semena-mena dari sini.

~ Desember sendirian di Belanda memang sangat toksik. Berbahaya, sel-sel kelabu di otak ini mengirim sinyal-sinyal untuk destruktif. Kepada wanita cantik yang menemaniku malam ini, “Thanks sudah menjadi teman berbincang dan mengurangi sifat destruktif sel-sel kelabu di otak ini. Live goes on and love makes it easier.”

23 Desember 2008 Posted by | New idea ..., Secangkir ... | | 3 Komentar

Secangkir teh tawar panas dan seorang pemimpi …

Teh tawar panas menghangatkan tenggorokan gatal akibat terserang common cold. DosenGila ambil libur hari ini dengan alasan “common cold“, sudah agak mendingan sekarang meskipun hidung masih sering tersumbat.

Di postingan sebelumnya sempat muncul pernyataan kisah mirip laskar pelangi. Ya, memang beberapa kisah yang didengar DosenGila minggu yang lalu beberapa mirip-mirip kisah di Laskar Pelangi. Ada benang merah yang dapat ditarik dari kisah-kisah tersebut: “mimpi” dan usaha mewujudkan “mimpi”.

“Some men see things as they are and say why. I dream things that never were and say why not.”(Tribute to Robert F. Kennedy; June 8, 1968)

Salah satu kisah yang menarik adalah kisah Rob Lane, kolega DosenGila dalam payung proyek TI Pharma. Ini dikisahkan saat DosenGila menhadiri pesta di rumah Andreas Bender hari Sabtu minggu lalu (dengan sekitar 8 gelas red wine jadi korban DosenGila). Masa kecilnya adalah masa kecil di sebuah desa dengan total populasi tidak lebih dari lima puluh orang. Bagi penggemar Paulo Coelho yang pasti sudah membaca “The Devil and Miss Prym” sangat mudah membayangkan suasana desa tempat Rob Lane menghabiskan masa kecilnya. Satu kenangan tidak terlupakan di masa kecilnya adalah ketika orang tuanya mengundang teman-teman sebaya dalam perayaan ulang tahun yang ke-7. Saat itu mereka memainkan petak umpet dengan ada satu hadiah. Pemenangnya adalah yang bisa sembunyi dan ditemukan paling akhir. Secara Rob dibesarkan di rumah itu, dia bisa menemukan tempat persembunyian yang cukup strategis. Hingga setelah cukup lama dia keluar dari persembunyian (sekitar dua jam bersembunyi) dan mendapati semua teman-temannya sudah pulang. Dia dengan bangga mengambil hadiah yang tersedia. Namun, 4 jam berikutnya muncul satu anak lagi dari lemari dan menanyakan hadiah yang dijanjikan. Dan orangtua Rob pun mengambil hadiah dari Rob dan memberikan ke anak tersebut. Sirna sudah harapan Rob untuk bermain dengan hadiahnya. ~padahal mungkin permainan petak umpet direncanakan oran tua Rob supaya anak-anak tidak ribut he..he..he.. Rob juga bercerita, dari desanya dia butuh bersepeda sekitar 10 mil untuk sekolah. Bagi DosenGila ini mengingatkan pada Lintang di Laskar Pelangi. Di UK yang cuacanya jarang bersahabat apalagi saat musim dingin, bersepeda untuk ke sekolah?

However, Rob mampu mengatasi itu. Dia juga bercerita, anak-anak dari desa itu hanya punya dua pilihan: keluar dari desa dan tidak kembali selama-lamanya (kecuali untuk sekedar berkunjung/liburan) atau tinggal di desa itu selama-lamanya melanjutkan tradisi orant tua sebagai petani. Rob bermimpi untuk keluar dari desa tersebut, maka ia memilih pilihan pertama. Dia pergi ke Bristol Uni untuk menyelesaikan S1 dan S2-nya yang dilanjutkan ke Glasgow Uni untuk meraih PhDnya dan sekarang bergabung di Leiden Uni sebagai peneliti post doc dan tahun 2008 ini berhasil mengguncangkan dunia persilatan “penemuan obat” dengan keberhasilan dia dan beberapa kolega mengkristalkan adenosine A2A receptor dengan senyawa ZM241385 di dalamnya.

Penemuan ini dipublikasikan di Science Express 21 November 2008 (IF= 23.372; Merupakan impian seorang peneliti untuk publikasi di Science atau Nature.). Mengapa mengguncangkan? Karena penemuan ini menjadi falsifikasi model-model, hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang telah dipakai puluhan tahun. Penemuan ini pula menerangkan efek kafein secara molekular. Ya, bagi penggemar kopi ini merupakan berita bahagia. Penggemar kopi (secangkir kapucino sehari) memiliki kecenderungan untuk terhindar dari Parkinson. Lengkapnya dapat dibaca di sini.

Oh ya, teman Rob Lane yang berhasil “merebut” hadiah dengan bersembunyi di lemari melanjutkan sekolah di Oxford Uni dan sepertinya juga mengukir prestasi yang tidak kalah dari Rob Lane. DosenGila cukup tertarik dengan cerita masa kecil Rob, yaitu tentang ingatan dia tentang pesta ulang tahunnya yang ke-7. Karena ketika ditanya pesta ulang tahun yang lain dia lupa. Salah satu analisis yang muncul di pesta tersebut adalah bahwa peristiwa kehilangan “hadiah” menjadi luka batin yang masih terbawa sampai sekarang. Wow, betapa dahsyatnya efek “luka batin”.

Dalam postingan sebelumnya ada kisah lain mengenai seorang neglected scientist dan seorang Profesor Gaek. Kali lain mungkin diceritakan. Sudah terlalu panjang postingan kali ini. Dan hidung ini semakin susah bernafas.

~DosenGila lalu menenggak pil berisi parasetamol 500 mg.

18 Desember 2008 Posted by | Secangkir ... | , | 4 Komentar

Secangkir air kran dan kisah seperti laskar pelangi …

Hanya air kran. Ya hanya air kran, karena terlalu banyak alkohol sudah melewati tenggorokan DosenGila sejak akhir pekan yang lalu ~yang membuat delay postingan ini. Menjelang akhir tahun memang banyak undangan party buat poor student yang gak pulang ke tanah air ini ~duduk dan menulis-nulis di tanah dengan ranting.. Hingga saat ini sudah tiga party dihadiri dan setidaknya masih ada 3-7 lagi sampai tahun 2008 ini benar-benar berakhir.

Seiring dengan alkohol yang mengalir lancar ke tenggorokan, semakin lancar pula cerita-cerita dalam setiap pesta yang dihadiri DosenGila. Cerita kolega dari UK yang waktu elementary school harus naik sepeda sekitar 10 mil untuk sekolah, cerita Professor gaek yang dulu fight untuk bisa sekolah karena orang tuanya hanya penjual daging keliling, cerita seorang pemimpin departmen yang bermimpi untuk focus di neglected diseases dan being neglected ~jadi ingat seseorang di Indonesia he..he..he.. dan akhirnya tersingkir, namun masih ada tempat yang menampung skillsnya meski harus meninggalkan mimpi. Banyak cerita tercurah dan banyak diserap dalam setiap party yang dihadiri. Dan kalau dirangkai bisa menjadi Novel seperti Laskar Pelangi.

Pesta memang kadang berkonotasi hura-hura. Namun, asyiknya pesta yang dihadiri DosenGila di negeri kincir angin ini lebih merupakan gathering dengan snack dan minuman yang banyak, serta sedikit musik (kadang-kadang). Ah … efek alkohol masih terasa. Kisah-kisah lain mungkin kali lain diceritakan.

~ditulis setelah DosenGila menghadiri pesta perpisahan MerchaChem (hanya 3 gelas white wine, setelah sabtu lalu 8 gelas red wine di Leiden, dan 7 gelas red wine lagi di pinggiran Leiden hari minggunya)

16 Desember 2008 Posted by | Secangkir ... | , | 6 Komentar

Secangkir Gluhwein dan kisah Desember ke-tiga …

Secangkir demi secangkir Gluhwein (tepatnya hingga tiga cangkir) racikan Om Martin van Bruinessen menghangatkan tenggorokan dan badan DosenGila pada pesta perayaan Sinterklaas dan juga ulang tahun mBak Rini van Bruinessen (Selamat Ulang Tahun mBak … semoga damai sejahtera senantiasa) di Utrecht hari Jum’at yang lalu. Keramaian pesta sedikit menarik DosenGila larut dan ceria serta tertawa sekaligus berdendang bersama. Diskusi hangat yang tidak terelakkan antara Om Martin dan Mas Tutu tentang Weber, cerita Om Martin tentang kisah Sinterklaas yang berasal dari Turki, yang diakhiri dengan Sinterklaas (diperankan oleh Bektash van Bruinessen) membagi hadiah. Malam semakin larut, dengan perut kekenyangan (setelah 3 ronde soto dan 2 ronde makanan utama, belum lagi makanan penutup dan cemilan) DosenGila dan pasukan dari Amsterdam pulang ke rumah dengan kereta.

DosenGila dapat hadiah dari Sinterklaas, Dank u wel Sinterklaas.

Sepanjang perjalanan, canda tawa masih mewarnai. Namun begitu kaki melangkah kembali masuk ke tempat DosenGila biasa hibernasi, kembali sepi sunyi menyapa dengan cengiran sinis yang menyebalkan itu. DosenGila sendiri lagi. Begitu juga dengan Desember 2006 dan Desember 2007. Mungkin hingga 2011, kisah-kisah DosenGila di bulan Desember akan berupa keceriaan bersama teman-teman untuk membunuh sepi karena dia, sang belahan jiwa dan buah hati berada di belahan bumi yang lain.

DosenGila di Madrid

Desember 2006, selain Pesta Natal di tempat mBak Rini, DosenGila mencoba membunuh waktu dengan jalan-jalan ke Madrid, Roma dan Barcelona. Desember 2007, tidak ada pesta sepertinya, DosenGila dikejar thesis saat itu. Puji Tuhan selesai sesuai dengan yang direncanakan. DosenGila menghabiskan malam Tahun Baru saat itu dengan sesama penuntut ilmu yang terdampar di Amsterdam, Chauf. Sebungkus dua bungkus gudang garam dan Dji Sam Soe serta beberapa gelas jus dan keripik kentang menjadi saksi dua orang perantauan mencoba membunuh rasa sepi. Kalau sudah seperti ini yang muncul adalah, “Siapa bilang sekolah ke luar negeri enak … ? Apalagi kalau harus meninggalkan orang-orang tercinta.” ~Huahahahahaha, ketawa ala Rahwana.

Awan, si buah hati DosenGila

Memang, ada kalanya kesenangan membuncah seperti saat Emy, belahan jiwa DosenGila berkunjung ke Amsterdam, pada musim panas tahun 2007 silam. Di sela-sela kesibukan DosenGila, mereka sempat keliling Belanda bahkan ke Jerman (Aachen) dan Prancis (Paris).

DosenGila dan belahan jiwa di Paris Censored - DosenGila dan belahan jiwa terbawa arus romantis kota Paris

Desember ke-tiga ini tanpa mereka lagi. Apa yang akan DosenGila kerjakan? Pesta Sinterklaas sudah usai (Thanks to keluarga van Bruinessen dan teman-teman yang menciptakan keramaian) … semoga ada banyak acara menyenangkan kali ini.

Tulisan ini mendapat suntikan melankolis dari Bu Aris dan juga akibat sepetan maut si mulutmanisyangberbisa.

Lagu yang dinyanyikan Daniel Sahuleka ini sepertinya cukup menggambarkan perasaan DosenGila saat ini (Thanks to Bu Aris):

Tomorrow’s near, never I felt this way
Tomorrow, how empty it’ll be that day
It tastes a bitter, obvious to tears to dried
To know that you’re my only light
I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
Oh, I love you

How many lonely days are there waiting for me
How many seasons will flow over me
’till the motions make my tears run dry
at the moments I should cry
for I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
It makes me so afraid

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know another hour has gone by
The reason is still I love you

7 Desember 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , , , , | 11 Komentar

Secangkir Benedictine Liquer dan kisah-kisah di bulan November …

Secangkir Benedictine Liquer menghangatkan badan ketika suhu di Amsterdam berada di kisaran nol derajat celcius. Koq gak Amareto saja? Memang Amaretto Disaronno memeriahkan cerita-cerita di bulan November kemarin. Hanya saja, rasa ingin tahu DosenGila dipicu oleh pertanyaan si mulutmanisyangberbisa tentang perbandingan rasa Benedictine dengan Amaretto. si mulutmanisyangberbisa ini pernah ikut kursus bartender jadi rekomendasi darinya dipikir DosenGila cukup layak untuk dicoba. Dan, memang enak … hanya saja lebih keras dari Amaretto dan DosenGila memutuskan bahwa Amaretto lebih layak untuk menemani saat-saat sepi di malam hari, setelah seharian di lab yang sunyi juga. Amaretto juga lebih murah dari Benedictine ~sebenarnya ini alasan utama ho..ho..ho..

Amaretto bisa dikatakan menemani DosenGila di bulan November dan mungkin dapat dijadikan kambing hitam meningkatnya produktivitas DosenGila dalam beraksi di dunia maya. Lebih dari sepuluh tulisan baru ditayangkan di blog ini, tiga artikel tutorial (pemilihan sistem operasi dan aplikasi pemodelan molekul, Instalasi Ubuntu 8.04.1 LTS (Hardy Heron) dengan WUBI.EXE, dan Instalasi PyMol di Ubuntu 8.04.1 LTS (Hardy Heron)) di situs pemodelan molekul molmod.org, dan berhasil meracuni si mulutmanisyangberbisa untuk aktif nge-blog lagi dengan pindah ke WordPress. Dan sekarang Benedictine yang menemani DosenGila di bulan Desember ini. Akankah membantu DosenGila untuk tetap produktif di tengah suhu Belanda yang semakin tidak bersahabat untuk jeng-jeng ini? Kita lihat nanti …

Sebagai pendatang baru di WordPress, si mulutmanisyangberbisa banyak bertanya tentang bagaimana mengelola blog. Pertanyaannya terakhir tentang bagaimana menampilkan gambar di blog membuat DosenGila iseng menyusun sebuah tutorial yang dapat diunduh di sini. Dan dengan sangat menyebalkan, si mulutmanisyangberbisa memanfaatkan skill barunya itu untuk nyepet DosenGila habis-habisan di postingannya ini. Postingan di blognya yang menampilkan gambar pertama kali.

~DosenGila menikmati kehangatan dari secangkir Benedicine Liquer sambil memikirkan cara untuk membalas si mulutmanisyangberbisa. DosenGila ternyata tak hanya gila, tapi juga pendendam.

2 Desember 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , | 6 Komentar