Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir teh tawar panas dan undur diri dulu …

Iyah … ini banyak kerjaan. Nanti deh kalau sudah agak longgar ditengok-tengok lagi.

Merdeka!

18 Januari 2009 Posted by | Secangkir ... | 2 Komentar

Secangkir teh tawar panas dan nongton pelem Indonesia …

Pelem “Under the tree” a.k.a “Di bawah pohon“-nya Garin dah diputar ya di tanah air? Ah jadi pengen segera pulang dan nonton. ~juga Laskar Pelangi dan pelem-pelem Indo lainnya.

Oh ya, sudah nonton “Medali buat Hamdani“? Ah tadi DosenGila iseng nonton pelem Indonesia ini dengan ditemani secangkir teh tawar panas. Dan hasilnya lumayan, efek samping jurus “dendeng Balado”-nya Chauft agak sedikit berkurang. ~dengar-dengar sih korban jurus maut ini pada bertumbangan menuh-menuhi septic tank Amsterdam he..he..he..

Ho..ho..ho…

Yah, “Medali buat Hamdani” cukup lumayan untuk membunuh waktu di cuaca yang kurang bersahabat ini. Dialog-dialognya klise dan kisahnya pun klise namun kadang menampar-nampar. DosenGila cukup merinding mendengar dialog di babak akhir pelem ini. Mau tahu? Nonton ajah sendiri yah … Cukup asyik untuk bermain-main olah rasa tentang keseimbangan antara mimpi, ego dan kebersamaan.

Sekarang nonton yang ringan-ringan dulu … “Gengsi Dong” dari Warkop DKI.

Bagi yang (akan atau) sudah nonton “Under the Tree”, silakan dibagi-bagi resensinya … DosenGila disini hanya bisa berdoa semoga lancar … ~sambil melirik duo eblis CA yang mau nongton …

11 Januari 2009 Posted by | Secangkir ... | , , , , | 2 Komentar

Secangkir cappuccino dan tiga hal terpenting di tahun lalu …

Secangkir cappuccino di Kafe Replay, Kalvertoren menjadi perhentian terakhir segala party, kegilaan, renungan, hura-hura, kesunyian, dan shopping di gemerlap diskon liburan musim dingin kali ini. Esok, DosenGila sudah dihadapkan kembali pada kegembiraan rutinitas yang jadi mata pencaharian saat ini: bermain-main dengan molekul di depan komputer ~ sambil berharap selalu ada pencerahan dan keberuntungan di setiap sudut, tikungan dan persimpangan jalan dalam riset ini.

Setelah habis secangkir cappuccino, DosenGila bergegas menembus gerimis di Amsterdam yang suhunya cukup hangat (sekitar tiga derajat celcius he..he..he..) menuju De Krijtberg untuk menghadiri misa mingguan pertama di Tahun 2009 ini ~dan seperti biasa DosenGila terlambat dan tidak dapat tempat duduk sehingga berdiri di belakang sampai misa berakhir. Sepanjang misa yang dilaksanakan dalam Bahasa Belanda ini ~DosenGila hanya pura-pura berdoa tapi sebenarnya tertidur bengong sebenarnya kalau lagi homili~ berbagai kejadian di tahun 2008 yang cukup tertambat di hati dan sanubari berkelebatan di benak DosenGila. Hanya ucap syukur kepada Allah yang selalu ada dalam setiap langkah DosenGila atas setiap hembusan nafas yang dihadiahkan dan setiap anugrah yang dicurahan, terucap dalam bisik doa yang segera lalu dibawa angin dingin Amsterdam di akhir misa itu. Ich habe Gott, Ich habe genuch!

Dalam perjalanan pulang sambil menenteng mainan untuk kado ulang tahun pertama Awan tanggal 3 April 2009 nanti, dalam benak DosenGila seperti diulang-ulang berputar-putar tiga hal yang (mungkin) terpenting terjadi di tahun 2008 lalu:
1. Diberi kesempatan menyelesaikan Master dan mendapat kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang PhD. Suatu keputusan yang sulit untuk mengambil atau tidak mengambil kesempatan itu, saat itu. Yahhh … diputuskan memang untuk diambil dan sudah setahun dijalani meskipun kadang sering menyesali keputusan ini karena konsekuensinya sering dirasakan sangat berat bahkan hampir tidak kuat ditanggung, DosenGila sudah mengambil keputusan dan berusaha tegar (dengan topangan pertolongan-Nya) untuk menghadapi konsekuensinya.
2. Diberi kesempatan untuk menjadi seorang Bapak dan menemani belahan jiwa saat melahirkan anak pertama, Kurniawan Respati Istyastono dengan panggilan Awan. Suatu anugrah yang luar biasa. Betapa DosenGila merasa mukjizat itu ada! Meskipun kemudian karena keputusan No. 1 tidak bisa menemani hari demi hari perkembangan Awan saat ini. Berserah dan pasrah pada-Nya. Hanya itu yang bisa dilakukan, sama seperti saat menunggu kelahiran Awan.
3. Mengundurkan (atau menarik) diri dari sebuah komunitas yang selama ini sudah dianggap keluarga sendiri karena konflik yang mungkin tidak perlu. Suatu keputusan yang mungkin belum berdampak nyata sekarang. Entah nanti. Meski terasa pahit, namun banyak pelajaran yang dipetik oleh DosenGila dari hal ini. At least, DosenGila bisa lebih fokus pada “being“-nya di sini dan kini. So … be it!

“Yo…yo…yo… semangat… semangat… semangat… “

Perdjoengan belum usai, masih panjang! Sekali lagi … ambil “tongkat sihir”, rentangkan tangan, kumpulkan semua ingatan tentang kebahagiaan dan harapan, lalu teriakkan rapalan mantra “Expecto Patronum“.

Tetap semangat dan tertawa gembira, seperti saat bersepeda memboncengkan Foe yang beratnya sebanding dengan DosenGila di kota tepian pantai Vlissingen yang anginnya membuat suhu minus lima derajat terasa minus sembilan derajat.

~gambar diambil dengan semena-mena dari facebook-nya Ikhlas.

4 Januari 2009 Posted by | Secangkir ... | , , , | 7 Komentar