Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir seduhan rosella dan “tahun baru” …

Kembali ke peradaban …

Itu yang dirasakan DosGil hari ini. Yoi … begitu menjejakkan kaki lagi di negeri The Flying Dutchman ini, kerjaan yang menumpuk selama ditinggalkan liburan akhir tahun lalu menghajar dengan bertubi-tubi. Beuh, 1 down, more to go. Dan yang menyebalkan adalah … dalam 4 minggu diserang flu parah dua kali, saat pertama kali mendarat, dan minggu lalu. Koq bisa? Kesimpulan gegabah: Kurang interaksi dengan manusia menyebabkan kekebalan tubuh menurun.

Semoga semua baik-baik … ya semua akan baik-baik saja …

~Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos …

Gambar diambil dari sini.

Iklan

28 Februari 2010 Posted by | Secangkir ... | Tinggalkan komentar

Secangkir seduhan rosella dan putus …

Pada suatu sore, saat senja mulai menorehkan jingga di sela-sela jemari cahaya …

“Besok jadi say, aku dikenalkan dengan Mamamu?”
“Jadi dong… Dan kata Mama kau diminta pakai kebaya.”
“Owgh, ogah ah … ribet kali …”
“Yahh tapi itu syarat utama Mamaku mau menemui kamu.”
“Kalau aku ndak mau gimana?”
“Ya .. Mamaku ndak mau menemui kamu.”
“Gitu aja koq bikin ribet sih. Belum jadi mertua sudah ngatur-ngatur …”
“Jadi ayo beli kebaya … yang sederhana aja”
“nDak mau. ribet.”
“Say .. please …”
“Kamu juga ikutan sih … belum jadi suami koq dah ngatur-ngatur …”
“…”
“Aku tidak mau pakai kebaya. Titik.”
“Apapun resikonya?”
“Apapun resikonya.”
“Ya sudah kita putus …”
“Lho koq putus?”
“Begini, kamu memang belum jadi istriku. Dan aku ndak berhak ngatur-ngatur kamu. Itu benar. nDak salah. Sama benarnya aku minta putus karena kita ndak ada kecocokan toch? Sifatku yang mengatur dan Mamaku yang dominan jelas tidak kompatibel denganmu. So, kenapa tidak?”

17 Februari 2010 Posted by | New idea ... | | 3 Komentar

Secangkir seduhan rosella plus madu dan nostalgi …

Di hari-hari yang melelahkan dan sepi ditambah kejar-kejaran dengan deadline demi deadline, sambil menunggu kereta pulang yang telat datang DosGil duduk di bangku peron 5/6 Stasiun Bandara Schiphol. Ada yang menarik dari bangku yang diduduki DosGil, disitu ditulis “quote-quote” tentang perjalanan. Berikut adalah satu quote yang DosGil kutip di wall fb:

You are only here for a short visit. Don’t hurry. Don’t worry. And be sure to smell the flowers along the way.

Dan akhir-akhir ini begitu kuat hembusan angin di FB yang membawa hadir aroma bunga-bunga masa lalu, seperti note FB Nizhar Marizi yang DosGil kopas (dengan sedikit modifikasi) di bawah ini:

———-

Gara-gara memajang kartu-kartu bersejarah di album “Dibuang Sayang”, saya jadi penasaran ingin tahu siapa saja teman-teman satu graha waktu masih calon siswa (casis) di SMA Taruna Nusantara. Otomatis mereka adalah teman-teman saya pertama di kampus itu, di luar teman-teman yang sama-sama dari Lampung tentunya he..he… Sepertinya ingatan ini lebih baik saya tuliskan sekarang, karena semakin lama akan semakin sulit untuk diingat.

Ceritanya dari awal ya… dari Lampung 🙂
Tahun 1994 itu ada 11 anak lulusan SMP di Lampung yang dipanggil untuk mengikuti ujian akhir di Magelang. Dari 11 orang itu, 7 diantaranya lulus dan diterima menjadi siswa SMA TN. Perjalanan dari Bandar Lampung ke Magelang bukan lah perjalanan yang layak untuk dikenang, setidaknya untuk saya, karena kami harus duduk berdesak-desakan. Ditambah lagi sang supir yang ternyata tidak familiar dengan rute menuju Magelang. Fuihh… benar-benar melelahkan! Tapi ada satu yang saya ingat, di salah satu perhentian untuk makan pagi, menunya adalah lele goreng. Itulah untuk pertama kali dalam hidup saya menyantap lele goreng yang ternyata gurih dan membuat ketagihan hehe…

Setiba di kampus SMA TN, kehadiran kami sedikit menarik perhatian (sedikit lho… yang dari panda lain jangan protes ya… hehe…), karena kami mengenakan kaos berwarna biru yang belakangnya bertuliskan asal panitia daerah (panda), PANDA XX LAMPUNG. Padahal saya sangat tidak nyaman mengenakannya, soalnya ukurannya tidak pas dengan badan saya yang sedikit lebih berisi dari pada teman-teman yang lain (penekanan pada kata ‘sedikit’ ya!) hahahaha… Siang hingga sore itu saya ditempatkan sementara di Graha 5 yang berisi teman-teman casis dari Jawa Barat, sementara teman-teman Lampung yang lain ditempatkan di graha-graha casis yang lain. Keterkejutan pertama saya adalah pada saat akan mandi, karena ternyata tempatnya hanya berupa bak mandi panjang dan kita harus telanjang. Yah, intinya begitulah… 🙂

Malam harinya, setelah makan malam, panitia mengumumkan nomor urut casis, membagikan kartu casis, dan penempatan di graha. Saya mendapat nomor urut 40 atau lengkapnya 94.0040 dan ditempatkan di Graha 1. Saat memasuki Graha 1, ke-44 casis bingung dengan pembagian kamar yang belum diumumkan. Untuk mengamankan posisi hehe…, saya cepat-cepat memasuki salah satu kamar bersamaan dengan seorang casis yang tidak terlalu tinggi tapi putih sekali bernama Hery Sofiaji dari Jakarta. Tadinya kami sudah bersepakat menghuni kamar tersebut, tapi ternyata saya kurang beruntung… pembagian kamar berdasarkan nomor urut casis. Saat itu ada 18 kamar yang bisa dihuni 36 casis, sehingga casis no urut 37-44 harus merelakan diri tidur di bawah dengan kasur, 4 orang disisi kanan pintu masuk kamar mandi dan 4 orang di sisi kiri… nasib hehe…. Saya sudah lupa apakah saya di sisi kanan atau di kiri, yang pasti saya saat itu senasib dengan I Gusti Ketut Ari Wijaya Saputra – Mataram, Sugiarto – Jakarta, dan Andri Mirzal – Riau. Kami berempat menghuni salah satu sisi itu.

Mulai keesokan harinya, proses seleksi dimulai. Selama masa casis, kami menggunakan seragam SMP kami masing-masing, bercelana pendek kecuali teman-teman casis dari sebuah SMP di Lhokseumawe yang bercelana panjang. Graha 1 terlebih dahulu mengikuti wawancara, satu tahap dengan pengurus lembaga/sekolah dan berikutnya dengan para pamong pengajar pengasuh (P3). Mulai pagi hari itu, kami segraha duduk rapi berjejer sesuai nomor urut casis di depan ruang wawancara untuk kemudian satu persatu masuk ke dalam ruangan. Saya yang nomor 40 tentunya sudah mati gaya menunggu… sementara ada teman saya yang sudah mahir tidur sambil duduk di kursi hehe. Selama mengantri, teman sebelah saya, Andri Mirzal, dengan suara khasnya selalu mengeluh bahwa sekolah ini ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan, dan dia berpikir untuk mengundurkan diri pada saat diwawancara. Saya sendiri bilang kalau saya tidak terlalu berharap, jadi kalau tidak lulus ya sudah, saya akan kembali ke Lampung dan melanjutkan ke SMA N 2 Tanjungkarang yang sudah menerima saya hehe…

Akhirnya tiba giliran saya. Setelah mengetuk pintu dua kali, dipersilakan masuk, dan kemudian dipersilakan duduk, barulah saya duduk. Saya sudah lupa sebagian besar pertanyaan yang diajukan, tapi seingat saya seputar motivasi dan latar belakang. Sementara satu orang berseragam militer duduk di depan saya, beberapa pengurus ada di sebelah kiri saya yang membuat grogi saja. Satu pertanyaan yang sangat saya ingat adalah mengenai Japung. Kalau tidak salah pertanyaannya, “Kamu tahu Japung? Sebagai orang Lampung, bagaimana pendapat kamu tentang Japung?” dan saya jawab, “Tahu, Pak… saya waktu kecil sering menangkap capung….” belum selesai kalimat saya, tiba-tiba saja satu ruangan tertawa kecuali saya hahaha….. Makanya pertanyaan ini saya ingat sekali, karena ternyata saya salah mendengar waktu itu. Japung yang dimaksud adalah Jawa-Lampung jadi orang-orang asli Jawa yang sudah sejak nenek moyangnya tinggal di dan menjadi penduduk Lampung. Hehe… jadilah saya ikut-ikutan tersenyum. Iji… Iji… 🙂

Keluar dari ruangan itu, seharusnya saya masuk ke ruang 6 (ruang yang kemudian menjadi ruang kelas saya sewaktu kelas II-6), tetapi karena jam makan siang telah lewat saya dipersilakan menyusul teman-teman saya ke ruang bersama untuk makan dan kembali ke ruang 6 pada satu jam kemudian. Satu jam kemudian saya sudah berdiri di depan pintu ruang 6, mengetuk, dan masuk ke dalam. Seingat saya ada 5 orang P3 berpakaian biru sudah duduk setia menunggu saya. Duduk di tengah adalah seorang Bapak dengan pandangan penuh selidik, tajam dan seram menurut saya, belakanga saya tahu namanya Pak Sukarman (CMIIW) (btw, di ruangan yang sama saat duduk di kelas II-6 saya membuat kasus dengan beliau hehe…), lalu ada Pak Usdiyanto, Ibu Ela, Pak Pius, dan Pak Edi Purwito. Pertanyaan/instruksi yang saya ingat antara lain saya diminta memeragakan PBB dengan memberi aba2 sendiri (oleh Pak Karman), lalu saya diminta menyanyikan lagu berbahasa Lampung dan menerjemahkannya (oleh Pak Us), diminta berbicara tentang Lampung dalam Bahasa Inggris (oleh Pak Us), menunjukkan letak Banyuwangi yang waktu itu baru saja terkena tsunami di peta (oleh Pak Edi P.), menggambarkan konsepi sin cos tg (oleh Pak Pius) yang ketika duduk lagi baru saya sadari ternyata keliru hehe… Bu Ela juga bertanya apakah saya mengenal siswa2 SMA TN dan tentu saja saya jawab iya dan saya menyebutkan nama-nama mereka, kakak-kakak kelas saya di SMP, tanpa sebutan ‘abang’. Di akhir sesi, Bu Ela berpesan seandainya saya diterima, saya harus memanggil mereka dengan sebutan abang, ups! Hehe…

Selain wawancara, casis juga menjalani pemeriksaan kesehatan yang sebenarnya sudah kami jalani saat seleksi di tingkat provinsi masing-masing. Tes ini meliputi pemeriksaan darah, mata, dan gigi. Untuk pemeriksaan darah, lagi-lagi kami harus mengantri diambil darahnya di selasar (tempat membaca koran dan menonton TV namanya apa sih? sudah lupa) ruang kelas II. Untuk pemeriksaan yang lain, secara bergantian kami diantarkan ke RS dikomplek Akmil. Kegiatan utama casis selain mengikuti seleksi adalah latihan PBB, meskipun hasil seleksi belum diumumkan tetapi latihan PBB sudah menjadi kegiatan casis.

Selama menjadi casis dan tinggal di Graha 1, banyak cerita yang saya kenang hingga saat ini. Sepertinya akan lebih mudah jika saya bercerita satu persatu teman casis ini. Andri Mirzal atau AMI mempunyai suara khas dan berani, dia berani menyindir teman casis dari Palembang sebagai anak mami… memang akhirnya teman tersebut tidak menjadi bagian TNLIMA. Lalu ada Sugiarto, anak Jakarta ini benar-benar tidak seperti anak Jakarta. Dia akhirnya menjadi manusia TNLIMA yang paling sopan menurut saya hehe… I Gusti Ketut Ari Wijaya Saputra ini dari Mataram, kami sering bersama-sama ke Graha 9 untuk mengunjungi teman kami yang sama-sama ingin pulang. Nurkholisoh Ibnu Aman – Sorong, teman yang satu ini sempat bikin saya minder 🙂 … prestasinya banyak banget soalnya. Sugiono – Takengon, ini si serba 001 semua nomor yang tertera di kartu casisnya adalah 001. Teddy Wesman -tanah Malinkundang, ‘bakat’nya sudah terlihat sejak casis hehe…. Enade Perdana Istyastono – Yogyakarta, sandalnya sering saya pinjam… Hery Sofiaji – Jakarta, alim hehe… itu aja ah. Agus Harimurti Yudhoyono – Jakarta, selalu jadi penjuru barisan karena memang paling tinggi… Deny Dwiantoro – Jakarta, selalu merasa lebih tinggi dari saya kalau dalam barisan 🙂 Setyo Koes Heriyatno – Pati, wiiiy dari casis sudah berisik hehe… Mereka semua akhirnya lulus. Tapi tidak demikian dengan Elmondo – Medan, yang harus pulang. Padahal kalau dari gaya dan penampilan, sepertinya dia lebih pantas jadi siswa SMA TN dari pada saya hehehe…. Lalu Badarsyah – Palembang, yang selalu merapal bahwa ia ingin mengundurkan diri saja tapi saya tidak tahu apa benar dia mengundurkan diri atau memang tidak lulus 🙂 Banyak casis yang mengalami kebimbangan karena jauh dari orang tua sehingga banyak pula yang surut semangatnya ketika menjalani seleksi akhir di Magelang.

Menurut saya, soal lulus atau tidak lulus menjadi siswa SMA TN sebenarnya salah satu rezeki dari Allah, dan ternyata Allah memberikan rezeki itu kepada 250 casis dan menggantinya dengan yang lebih baik kepada lebih dari 50 casis lainnya. Malam hari sebelum pengumuman, kami sudah semakin akrab (terutama yang kamarnya di tengah) dan berkumpul bersama tapi tidak untuk berdoa hanya bertukar cerita untuk melupakan pengumuman esok harinya. Cerita-cerita seram menyangkut kampus akhirnya cukup membuat takut beberapa casis sehingga memutuskan untuk tidak kembali ke kamar masing-masing dan tidur bersama di kasur bawah. Pada hari pengumuman, semua casis berkumpul di GOR (sekarang GSG eh atau terbalik ya?) dengan membawa semua barang-barangnya. Ada 4 bus biru SMA TN yang telah menanti di sebelah gedung. Acara diawali dengan atraksi para casis, seingat saya yang tampil dari graha saya adalah casis dari Pati dengan mocopatnya tapi ternyata dia tidak lulus. Ada magic show dari graha tetangga kami Graha 5 yang dipandu Hery Lesmana, ada mocopat dari Ruruh Wicaksono, dan Rio Neswan yang menjadi satria bergitar tapi bukan dangdut 🙂 Di sela-sela hiruk-pikuk acara itu, Andri Mirzal dipanggil ke belakang barisan dan ternyata diwawancarai kembali oleh beberapa orang P3 yang belakangan saya tahu dari dia bahwa dia diminta ketegasan ingin bersekolah di SMA TN atau tidak. Hehe.. rupanya para pamong bisa melihat potensi dia yang memang sangat sayang kalau dilepas… AMI!

Setelah acara hiburan, dimulailah prosesi pengumuman. Ada puluhan casis yang dipanggil satu per satu lengkap dengan nomor bus yang harus dinaiki. Sebelumnya telah diberitahu bahwa dari 4 bus tersebut, 2 bus membawa para casis yang tidak lulus sedangkan 2 bus membawa para casis yang lulus dan akan kembali ke GOR. Saya sendiri termasuk yang dipanggil untuk menaiki bus nomor 3. Berkali-kali kami dicek apakah ada yang salah menaiki bus. Seikhlas-ikhlasnya saya, tentu saya masih deg-degan dan harap-harap cemas hehe… Apakah bus saya ini membawa kelompok casis yang lulus atau tidak? Di dalam bus saya harus berdiri karena jumlah casis tidak sebanding dengan kursi yang tersedia. Saya amati, ternyata saya satu bus dengan Nurkholisoh, Teddy, dan Sugiono (hanya itu yang ingat hehe…) dan saya berpikir berarti kalau saya tidak lulus mereka juga tidak. Tapi, Nurkholisoh tidak lulus? Kok sepertinya tidak mungkin ya? Hahaha…. Sorry Choy, anda benar-benar jadi benchmark saya waktu di bus ini. Tapi kan, semua masih mungkin terjadi. Perlahan-lahan bus meninggalkan kampus. Saat sudah di luar kampus, saya melihat bus nomor 1 dan 2 di depan kami melaju kencang dan saat di perempatan (belakangan saya tahu namanya Pakelan) kedua bus ini lurus sementara bus kami dan di belakang kami belok ke kanan. Kalau waktu itu saya sudah tahu jalan di daerah itu saya bisa memastikan bahwa saya pasti lulus hehe…. sayangnya saya kan tidak tahu hingga akhirnya bus kami masuk ke komplek perumahan TNI (Panca Arga) dan muncul di sebelah kampus SMA TN untuk kemudian memutar masuk kembali ke kampus melalui gerbang utama. Whaaa….. alhamdulillah, saya lulus! Hehehe….

Tiba di GOR kembali ternyata teman-teman casis yang tidak naik bus telah berbaris sesuai dengan asal panda. Saya mencari barisan Panda XX/Lampung, ternyata dari 5 orang yang naik bus hanya saya yang kembali. Tahun itu, hanya 7 casis dari Lampung yang lulus, benar-benar sedikit untuk daerah sebesar Lampung hehe… Pembagian graha diatur ulang dan tetap sesuai nomor urut casis. Saya kali ini beruntung hehe…., dari awalnya 44 casis di Graha 1 tersisa 36 casis. Oiya, kami tetap disebut casis karena kami belum secara resmi dilantik. Jumlah itu sangat pas dengan kapasitas graha, dan kali ini pembagian kamar ditetapkan berdasarkan urutan huruf nama depan. Jadilah saya penghuni kamar 12A dengan teman sekamar Nurkholisoh di 12B. Di depan kamar kami adalah M. Mabruri – Majalengka dan M. Ali Nurofik – Tegal, sementara sebelah kiri kami Purwanto – Banjarnegara (iya bukan ya?) dan Rahmat Siswanto – Padang.

Hari-hari kami penuh dengan berlatih untuk persiapan upacara pelantikan di Balairung Pancasila. Di masa persiapan ini graha kami dibimbing oleh tiga orang abang yaitu Bang Cornelius Agung B. (TN III), Bang Armaji Sayoko (TN IV), dan Bang Arrad Taufik (TN IV). Sementara, abang-abang kelas III (angkatan III) dan II (angkatan IV) lain tak lama juga mulai berdatangan setelah habis masa liburannya. Kehidupan penuh toleransi pun sudah dimulai. Adik harus mengenal abangnya dan tahu asalnya… satu hal yang dulu sempat tidak masuk akal bagi saya, tapi akhirnya sangat saya syukuri kemudian. Percayalah, mengenal abang itu lebih baik dari pada tidak mengenal hahaha… maksudnya, kelak di kemudian hari hal itu bermanfaat. Misalnya, saya jadi terbiasa untuk mencari cara mengingat seseorang yang baru saja saya kenal hingga saat ini. Saya kira itu kebiasaan yang baik 🙂

Pelantikan angkatan kelima SMA TN dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Juli 1994 dengan Inspektur Upacara Ketua Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara (LPTTN)/Asrenum Pangab. Dengan dihadiri keluarga masing-masing, acara itu meresmikan kami 250 casis dari seluruh Indonesia menjadi siswa Angkatan V SMA Taruna Nusantara. Acara ini dilengkapi dengan upaya mengecoh keluarga kami untuk mencari anak/saudaranya yang baru dilantik. Kami berbaris di lapangan sepak bola menghadap ke kebun tebu membelakangi GOR, dengan melepas papan nama, dan menunggu keluarga kami menemukan kami. Dengan pakaian yang sama, potongan rambut yang sama, postur yang serupa tapi tak sama hehe…, sudah lebih dari dua minggu tidak bertemu, 1 dari 250 orang, dan dari belakang, tentunya sulit bagi orang tua dan keluarga untuk mencari anak/saudaranya. Tapi, semua prosesi itu saya, dan pasti teman-teman juga, jalani dengan bangga dan bahagia. Kami resmi menjadi TNLIMA!!

————————————-

~DosGil bersiap untuk menghadapi hari terakhhir pekan ini. Thanks to Nizhar Marizi yang mengijinkan tulisannya dikopas di sini.

5 Februari 2010 Posted by | Secangkir ... | 3 Komentar

Secangkir kopi pahit dan pempek Den Haag …

Melengkapi ulasan teman-teman CA tentang pempek yang di sini, situ, dan sana, DosGil yang tidak mau ketinggalan dalam postingan kali ini akan mengulas pempek yang dijual di Ming Kee, sebuah warung makan yang tidak jauh dari Kantor Kecamatan Den Haag, di sekitar Spui. Warung makan ini dibahas dengan cukup lengkap di salah satu bab di novel Negeri van Oranje.

Dari segi kelengkapan dengan pempek yang sering saya dapati di Jogja, pempek ini disajikan cukup lengkap. Dari segi rasa pempeknya, biasa saja dibandingkan Pempek Ny. Kamto, tapi masih sedikit lebih enak dibanding Pempek Palembang Mang Pari 19 ilir dan setara jika dibandingkan Pempek 26 yang lokasinya di Jalan Kaliurang km 5di sebelah Pempek Palembang Mang Pari 19 ilir. Kuah cuko-nya? Superb, bisa disejajarkan dengan kuah cuko Pempek Ny. Kamto. Dari segi harga? Murah cuma 6.5 euro. Ya jangan dikonversi ke rupiah dong ya … silakan dibandingkan dengan harga nasi goreng di warung yang sama yang rata-rata 6.5 euro juga.

Oh ya, sebelum makan pempek DosGil sengaja makan sepiring nasi ayam goreng dengan kecap (4.5 eur) suaya menghilangkan faktor subyektivitas karena lapar.

~DosGil kangen saksang

1 Februari 2010 Posted by | Secangkir ... | 3 Komentar