Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir seduhan rosella dan … ah sudahlah …

DosGil mendarat kembali di Negara di bawah permukaan laut dan disambut dengan suhu -1 derajat. Mendapat sms kalau kemarin sore Awan mencari-cari dan kecewa karena Bapak Awan tidak ditemukannya …

“Bapak Awan … Bapak Awan …” teriak Awan sambil mencari di tempat DosGil selama liburan kemarin menyimpan laptop, koper dan lain-lain. “Nono .. nono …” [pengucapan “o” seperti “o” pada colok] dengan tampang kecewa Awan menggeleng-gelengkan kepala karena tidak menemukan jejak ayahnya lagi. Eyang Putri Awan mencoba menghibur dengan mendekati Awan namun ditolak dan dimarahi, “Nan MOH … nan MOH …” Dan Bunda Awan pun turun tangan menghibur jagoan kecilnya. “Bapak Awan kemana?” tanya Bunda Awan. “Andada” jawab Awan yang berusaha melafalkan Belanda. “Naik apa?” tanya Bunda Awan lagi. “At ng..ng..ng…” jawab Awan sambil mengangkat tangannya yang artinya dia ingin ikut naik pesawat.

Kembali ke adegan sehari sebelum itu. Saat DosGil berpamitan pada Awan. Ini pertama kalinya Awan melihat DosGil masuk pesawat untuk pergi melintasi benua. Pada kesempatan sebelumnya, Awan selalu sedang tidur saat Bapak Awan pamitan untuk pergi ke Andada. Saat itu Awan tidak terlihat protes dan melambaikan tangan seperti hari-hari biasa jika Bapak Awan pergi di siang hari. Mungkin dalam benak anak itu, Bapak Awan akan kembali sore harinya atau mengajak Awan sore harinya seperti hari-hari sebelumnya. Namun … tidak kali ini. Awan setidaknya harus menunggu enam bulan lagi untuk main bola bersama Bapak Awan ….

~DosGil masih jet lag dan memaksa diri tetap bangun dan tetap tegar, meski langkah pun kadang gemetar …

25 Januari 2010 Posted by | Secangkir ... | 3 Komentar

Secangkir air putih hangat dan kebersamaan …

Pernah dengar kisah tentang lima monyet atau five monkeys? Versi teks ada di sini dan versi video ada di sini.

Intinya adalah dalam suatu komunitas yang “established“, ide-ide baru atau inovasi akan mendapat perlawanan hebat. Dus, kalau ingin eksekusi sesuatu yang baru dan penuh resiko, lakukanlah “sendiri” atau siapkan energi untuk menghadapi perlawanan hebat dari kolega, selain untuk eksekusi ide tersebut. Good luck teruntuk para inovator dan pembaharu! ~Eh ini kesimpulan yang ndak sambung atau curcol?

~DosGil lelah setelah menghadapi serangan telak atas nama kebersamaan. Ternyata masih belum lulus ujian untuk rendah hati.

Gambar diambi dari sini.

13 Januari 2010 Posted by | Secangkir ... | 4 Komentar

Secangkir air putih dan kisah-kisah senja …

DosGil dulu pernah mencoba bikin kumpulan cerita fiksi dengan latar belakang studi di Belanda. Masih tersimpan di www.dosengila.blogspot.com. Juga pernah mencoba bikin novel dengan tema “Kimia dan Cinta”. Hanya sampai tiga bab dan ndak mood lagi meneruskan. Entah arsipnya ada dimana. Sepertinya pernah diposting juga di sebuah blog, tapi blog yang mana ya … Dan gara-gara e-Novelnya ndorokakung, DosGil terinspirasi untuk mempublikasikan tulisan isengnya untuk umum. Semoga menghibur dan menambah ruang bagi kelompencapir ala tikabanget untuk berkreasi. Dimulai dari “Long Pura” …

———–
Long Pura

Aku dah sampai Amsterdam

Begitu pesan singkat yang baru saja mendarat di hape jadul yang ada senter alias sentolop-nya. Hape yang sama yang digunakan untuk mengirim pesan singkat ini karena memang dulu belinya sama. Senter? Iyah … itu bagian penting karena alasan praktis. Aku disini sedikit takut gelap. Apalagi ada Bagas, buah hati kami yang sering terbangun tengah malam. Sedangkan dia disana, katanya sih, membutuhkan senter kalau buang air besar. Secara toilet di samping lab penelitiannya menggunakan sensor gerak. Apa hubungannya? Ada lah hubungannya. Dia itu kalau buang air besar agak lama karena pikirannya sering kemana-mana, katanya, kalau sedang melakukan ritual itu. Jadi lampu toilet mati secara tidak dideteksi adanya gerakan yang berarti. Maka, hape bersenter jadi salah satu solusi praktis.

Eh, dia sudah sampai Amsterdam berarti sudah jam makan siang di sini. Pantas aku sudah merasa lapar. Ini juga saatnya makan dan minum susu buat Bagas. Ah memang lelah bersama Bagas, namun setidaknya aku ada teman yang menemani. Bukan seperti dia yang seperti berjuang sendiri di sana. Hm.. dengar-dengar sih dia sering sok punya gebetan di sana. Ah paling itu gombalannya juga.

*****

Message sent

Yup sudah terkirim. Saatnya perjuangan panjang dimulai. Dan perjuangan ini akan semakin sempurna ketika …

“Hai En …, sorry telat. Gak lama toch nunggunya?”
“Pertanyaan yang aneh Cin.”
“Koq aneh? Apanya yang aneh?”
“Biasanya orang minta maaf tuh nanyanya, ‘Lama nunggunya?’ … Lha kamu malah …”
“Iya … iya… maaf … gitu aja dibahas!”

Mendaratlah kecupan Cindy ke pipi montok Enade, tiga kali, khas Belanda. Sebelum akhirnya bibir merah pucat Cindy yang sangat jarang dipoles dengan lipstick ini berlabuh di bibir pecah-pecah yang baru saja melintasi samudera dan benua.

Setelah melepas kangen itu, Enade yang menunggu di meeting point bandara Schiphol membuka tas ranselnya untuk membuka oleh-oleh buat Cindy. Tak sengaja terlihat olehnya seorang perempuan muda, menggendong anak kecil seusia Bagas. Air mata mengalir di pipi perempuan itu sedangkan anak kecil yang digendongnya terlihat melambaikan tangan ke arah departure gate. Entah melambaikan tangan dalam arti “good bye” atau “come here, please” ke arah siapa ….

“Cin, ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu.”

*****

Aku menatap punggung Enade yang bergerak menjauh. Aku hanya bisa terbengong-bengong, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Di tangan ini tergenggam gelang giok dari Kalimantan, oleh-oleh Enade. Seharusnya gelang itu menjadikan cinta kami semakin bersemi. Namun, entah “pencerahan” dari mana turun padanya sehingga terucap kalimat perpisahan itu. Meskipun terangkai indah dan keluar dengan merdu, kalimat itu begitu sempurna menghancurkan harapan-harapan kosong ini. Memang hanyalah harapan kosong, secara dia sudah memiliki belahan jiwa dan buah hati yang berada di belahan bumi yang lain. Tapi di sini, sekali lagi DI SINI, dia seharusnya milikku. Seutuhnya milikku.

Kurang ajar sekali lelaki sok tampan itu. Aku bangun pagi dan lebur ke hiruk-pikuknya bandara ini bukan untuk gelang giok ini, melainkan untuknya. Dia yang kadang merusak mimpi-mimpiku saat dia ambil cuti. Ranjangku dingin dan sepi sementara dia pasti bergelora dan bercanda dengan keluarga kecilnya di sana. Aku di sini, hanya menghitung hari kapan dia akan kembali. Dan yang kudapati hanya gelang giok ini. Hatiku ini hancur, seperti hancurnya harapan kosong ini. Meskipun kosong, harapan ini mampu memicu munculnya percikan-percikan singkat yang indah dan mungkin terlalu indah untuk dilupakan. Ah …. basi banget sih … atau malah terlalu dangdut ini. Biarlah, seperti lagu Olga Syahputra … dalam benak ini hanya ada dua kata hancur hatiku … hancur …hancur…hatiku.

Perjumpaan pertama kali dengannya adalah saat pertemuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amsterdam sekitar tiga tahun silam, di Hospitium, Laan van Kronenburg. Saat itu sedang ada acara kumpul-kumpul dalam rangka penyambutan teman-teman yang yang baru datang. Infonya sih ada sekitar 20an lebih mahasiswa baru yang datang atas beasiswa StuNed, sebagian besar pegawai negeri dari departemen keuangan. Pengen liat aja, kaya’ apa mereka-mereka itu dihadapkan dengan kultur Amsterdam yang jelas-jelas berbeda. Di tengah acara, datanglah sosok kekanak-kanakan, gendut, rambut cepak dibalut jaket berwarna biru BNI’45, antara hijau muda atau biru muda ndak jelas. Karena terlambat, dikerjain lah dia oleh pembawa acara secara alasan terlambatnya nyolot banget: ketiduran. Jelas-jelas dia tinggal di gedung yang sama, hanya butuh turun 4 lantai, pakai lift pula. Hanya saja, dengan kepiawaian bersilat lidah. Hmm… dia memang piawai dalam bersilat lidah dalam arti literal hi..hi..hi… Dengan piawainya dia balas mengerjain balik si pembawa acara. Aku kira memang itu salah satu trik dia untuk “grab the attention“: datang terlambat dan show off. Yup, jika memang itu tujuannya, dia cukup berhasil. Sayangnya, dosen muda di sebuah universitas swasta di Yogyakarta ini sudah menikah. Tiga minggu sebelum berangkat ke Amsterdam ini atau berarti sekitar 5 minggu sebelum acara pertemuan itu, dia menikah. Istrinya ditinggal di Yogyakarta.

Tidak. Tidak ada yang istimewa bagiku dari dia meskipun membuat aksi itu. Hanya saja memang peristiwa itu membuat aku aware akan keberadaan “bocah tua nakal” itu. Hingga dua tahun kemudian atau sekitar setahun yang lalu, saat musim gugur sudah membuat taman-taman dan jalanan di Amsterdam seperti disepuh emas. Kami menjadi dekat karena aku sedang dikerjain habis-habisan oleh tugas akhir kuliahku di international business and management studies (IBMS) yang membutuhkan sentuhan program statistik yang namanya SPSS, yang sering diplesetkan olehnya menjadi Smart Program for Stupid Students. Saat itu aku membutuhkan program itu dan sedikit bantuan intruksi pemakaiannya untuk analisis data, dan dari temanku Myra yang pernah satu almamater dengannya aku mendapat informasi bahwa dia sering pakai SPSS untuk risetnya di Belanda ini. Lewat Myra pula aku mendapat jalur untuk akses memasuki ranah pribadinya: kamar, laptop, masakannya dan cerita-ceritanya yang sering lebay dan kadang gak masuk akal. Sejak aku bertanya tentang SPSS kepadanya, dia menjadi mentorku sekaligus tempat aku meminjam laptop dan kamarnya untuk mengerjakan tugas akhir itu. Sementara dia memakai PC yang sudah diset khusus, katanya, untuk dapat mengakses server kampus. Dia hanya memakai laptop untuk untuk chatting dan urusan entertainment lainnya. Kadang-kadang, hanya kadang-kadang memang, dia membutuhkan laptop itu untuk bikin laporan dan presentasi. So, selama musim gugur dan musim dingin itu, praktis laptop ini “milikku”. Mungkin juga hatinya. Ah, tapi aku ragu tentang hatinya.

Selama musim yang merana itu, kadang karena bekerja sampai larut malam, aku memilih tidur di kamarnya, bersamanya. Dan … tidak terjadi apa-apa. Jujur, aku sudah pasrah waktu itu. Aku mungkin sudah terpikat olehnya seiring waktu dan intensitas pertemuan ini. Andai dia menyentuhku pun aku akan menyambutnya dengan senang hati. Sayang aku masih terjerat oleh kultur timur yang membuatku tidak berani memulai. Sedangkan dia, dari pandangan matanya yang kadang sering mencuri-curi menuju ke buah dadaku yang tidak terlalu aduhai ini namun kencang dan berisi, dan juga saat kita bicara face to face sering kudapati fokus matanya ke arah bibirku, seperti hendak melumatnya. Aku yakin dia tertarik padaku. Namun entah karena apa, dia tidak pernah memanfaatkan “kesempatan” yang ada.

Damn! Aku ndak boleh menyerah begitu saja. Ini masih menit 29. Aku yakin keretanya belum berangkat. Kereta ke Groningen via Amsterdam baru berangkat menit 35 dari spoor 3.

******

~bersambung … eh iya disclaimer: cerita ini fiksi belaka … kemiripan nama, peristiwa, dan tempat hanyalah kebetulan belaka … atau sengaja dibuat untuk menimbulkan kesan “real”.

8 Januari 2010 Posted by | Secangkir ... | , | 6 Komentar

Secangkir air putih dan Ramayana …

Semalaman atau “setahun” menyelesaikan epos Ramayana yang diceritakan ulang oleh C.Rajagopalachari telah membuka mata DosGil pada beberapa detil yang selama ini tidak dimengerti dan selama ini memuat DosGil salah paham. Kesalahpahaman ini menuntun DosGil untuk tidak suka terhadap Rama.

Hasil refleksi DosGil tahun 2009 ini menunjukkan bahwa tema tahun tersebut adalah “bertahan dalam kesalahpahaman”. Beberapa postingan sejak awal tahun 2009 seringkali berupa refleksi setelah miskomunikasi yang berujung salah paham. Dan setup tema tahun 2010 ini adalah Rekonsiliasi atau Revolusi. Rekonsiliasi terjadi jika “adegan” dan “pelaku”-nya seperti tokoh Bharata dan Rama setelah “kerusakan” yang ditimbulkan akibat ulah Dewi Kaikeyi (Ibunda Bharata yang menginginkan anaknya menjadi Raja instead of Rama yang putra dari Permaisuri yang lain) yang terhasut oleh Mantara. Sementara revolusi akan terjadi jika kisah dan tokohnya adalah Subali dan Sugriwa. Let it flows … let it flows … let it flows …

Modifikasi dari postingan tahun lalu:

“Selamat Tahun Baru 2010! Tahun baru, harapan baru dan semangat yang diperbarui untuk makes your dreams come true! “

~Semoga DosGil semakin jernih dalam mengambil keputusan dan bertindak.

1 Januari 2010 Posted by | Secangkir ... | , | 3 Komentar