Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir susu dan “harapanku bintang kan terang” …


harapanku bintang kan terang
memberi sinar dalam hatiku

kuingat di malam itu
kau beri daku senyum kedamaian
mungkinkah akan tinggal kenangan
jawabnya tertiup di angin lalu

Ada satu hal yang menarik DosGil saat mencoba menyusun business plan: exit strategy!. Setelah DosGil menyelesaikan studi di Belanda, DosGil diwajibkan pulang ke Indonesia dan mengabdi selama 3*N di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. It means ~20 years!. Nah, tiba-tiba diiringi lagu Bimbo, DosGil terpikir untuk menyiapkan exit strategy yang masih fit dalam kerangka kontrak yang ditandatangani. Why?

mentari kelak kan tenggelam
gelap kan datang, dingin mencekam

Jika hal itu terjadi, maka ada tiga pilihan yang bisa diambil:
1. cope with the situation sambil … berharap … “bintang kan terang memberi sinar dalam hatiku
2. mencari tempat bekerja lain yang lebih bisa membingkai mimpi-mipi DosGil dan violate the contract with all consequences ….
3. menyiapkan organisasi/badan usaha (yang juga memiliki exit strategy) sebagai kendaraan untuk mewujudkan mimpi, sehingga jika “hal itu” terjadi masih ada tempat untuk menyalurkan energi dengan total compassion.

Opsi pertama sudah pasti bisa dijalankan karena bersifat pasif, opsi kedua sudah disusun jalurnya (dan juga caranya, baik yang smooth maupun frontal), opsi ketiga sedang dalam taraf ide dan dalam waktu dekat akan dieksekusi.

What say you?

~dan kau biarkan kukecup bibirmu ….

28 November 2009 Posted by | Secangkir ... | Tinggalkan komentar

Secangkir air putih dingin dan trend sesaat …

Akankah blog menjadi trend sesaat?

22 November 2009 Posted by | Secangkir ... | Tinggalkan komentar

Secangkir seduhan rosella dan faktor U …

Michael Jordan, Magic Johnson, John Stockton, Karl Malone, Dennis Rodman , dan you name it … Legenda pemain bola basket NBA tahun 90an. Saat DosGil mulai mengenal dan belajar main bola basket. Sekarang siapa selebritis basket? DosGil tidak tahu.

Dan setelah lebih dari 3 tahun tidak main, hari ini berencana rutin main lagi. Dan meskipun di 3 game menang dan mencetak skor penentuan, di hari pertama ini akhirnya DosGil sadar sudah tidak semuda dulu. Atau cuma perlu sepatu baru …

~DosGil merenungi tangan kanannya yang cidera dan nafas kretek serta berpikir beli sepatu baru … Air Jordan may be?

21 November 2009 Posted by | Secangkir ... | 3 Komentar

Sesloki amareto …

… di Vapiano, Amsterdam.

20 November 2009 Posted by | Secangkir ... | Tinggalkan komentar

Secangkir air putih dingin dan “Als Ik een Jezuïet was” …

Tulisan di bawah ini ditulis oleh DosGil tiga hari yang lalu, terinspirasi oleh “Als Ik eenst Nederlander was”-nya Ki Hadjar Dewantara dan diposting di blog ini setelah mengetahui fakta bahwa emailnya mental. Mental setelah 96 jam mencoba karena di-greylist oleh pihak yang dituju.

Setelah Luther dan St. Maarten, sekarang saatnya menyampaikan apa yang di benak DosGil tentang Yesuit.

*******
“Als Ik een Jezuïet was”
(Jika saya seorang Yesuit)

Keberadaan saya di fakultas ini adalah rahmat. Rahmat bagi fakultas dan rahmat juga bagi saya. Fakultas harus didampingi supaya tidak lepas dari rel spiritualitas Ignatian. Sementara bagi saya, perutusan di fakultas yang karena alasan sejarah memiliki dinamika unik berciri kental sekuler ini membuat saya semakin peka dan terlatih untuk melakukan pembedaan roh (discernment). Fakultas ini menjadi tempat menerapkan dan mengasah hasil-hasil latihan rohani yang sudah dijalani bertahun-tahun dan mendarah daging. Latihan rohani yang membuat saya bisa bertahan dalam berbagai kondisi dan situasi yang ekstrim, termasuk perutusan untuk menimba ilmu di luar negeri.

Adanya kaul ketaatan mempermudah saya untuk semakin bertahan dalam dinamika yang unik ini. Mempermudah? Iya, sangat mempermudah. Kaul tersebut luar biasa dalam mempermudah saya melakukan pembedaan roh. Misal terjadi konflik di fakultas yang membutuhkan sentuhan saya sebagai bagian integral di dalamnya, maka mengikuti keputusan superior adalah opsi pertama. Walaupun keputusan superior itu mendapat perlawanan hebat dari segelintir kolega yang yang merasa hebat dan pandai berargumen dengan berlandaskan “plain reason“, keputusan superior tetap opsi pertama. Dan hey, harap diingat, “plain reasonis so Luther, so reform. Seperti Ignatius, saya akan ignore “plain reason”, apalagi reformasi. Telah ditulis dalam sejarah bahwa “plain reason” membawa perpecahan dan kerugian materi, jiwa dan rohani yang luar biasa. Jadi, tidak ada opsi bagi saya untuk mendengarkan argumen yang berlandaskan “plain reason“.

Andai di kemudian hari, ternyata roda waktu menunjukkan bahwa hasil dari opsi yang saya pilih keliru, tidak menjadi masalah karena belum tentu hasil dari opsi yang ditawarkan “plain reason” tidak keliru. Dan roda waktu akan segera menggilas kekeliruan tadi. Kemungkinan terburuk adalah roda waktu bergulir sementara roda fakultas macet karena keberadaan “plain reason” dan gerombolan reformis yang diabaikan alias gerombolan sakit hati itu. Jika pun itu yang terjadi, tidak menjadi masalah, roda waktu akan menyelesaikan itu dan kemungkinan besar saya juga tidak di fakultas ini lagi. Perutusan membuat saya tidak boleh melekat pada apapun termasuk pada fakultas ini.

Ah iya, potensi konflik akan terjadi dalam waktu dekat dalam kancah pemilihan dekan. Potensi konflik karena menyangkut siapa yang duduk dalam posisi superior. Posisi yang rentan karena posisi ini sangat singkat di rentang waktu pelayanan di fakultas. Posisi yang harus dijaga kolegial karena suasana kondusif paska “kekuasaan” sangat tergantung pada keputusan-keputusan yang diambil saat “berkuasa”. Sikap saya terhadap hal ini jelas: Saya akan netral, indifferent. Karena jika saya tidak netral maka dalam jangka panjang, saya akan hancur sendiri. Meskipun demikian talenta saya dalam membedakan roh menghantar saya pula untuk melakukan penilaian atau evaluasi. Ini bukan menghakimi lho, karena ada tertulis di Matius 7:1 untuk tidak menghakimi. Penilaian saya jelas: Kalau para reformis dengan argumen “plain reason” itu mau menduduki posisi itu, mereka harus bertobat. Karena saya tidak melihat usaha pertobatan itu dan menurut saya sikap mereka kekanak-kanakan, maka menurut saya, sementara biar kelompok yang berkuasa saat ini yang memegang kendali. Kelompok yang berkuasa saat ini sangat kuat dan dewasa dalam membangun pondasi fakultas untuk bergerak dalam satu tujuan. Tidak sporadis dan tanpa tujuan seperti usulan-usulan dan argumen para reformis itu. Saya kira fakultas akan jauh lebih baik jika stabilitas ini dipertahankan.

Karya Yesuit di fakultas ini tidak hanya tercermin dalam tangible product berupa buku ajar namun juga pendampingan kami tercermin dalam peningkatan kualitas fakultas. Salah satu indikator paling gamblang tentang kualitas yang merangkum produk tangible dan intangible adalah akreditasi. Baiklah, orang boleh berargumen bahwa akreditasi tidak cukup bisa mencerminkan, saya pun memiliki pendapat demikian. Namun, sejauh ini, hanya akreditasi yang bisa kita acu saat ini. Berikut adalah daftar peran Yesuit aktif (memegang jabatan struktural dan atau mengajar) di fakultas dan akreditasi:

1995/1996: 1 orang (PD3)
1996/1997: 1 orang (PD3)
1997/1998: 1 orang (PD3)
1998/1999: 1 orang (PD3)
1999/2000: 1 orang (PD3)
2000/2001: 1 orang (PD3)
—————————————– akreditasi C
2001/2002: 1 orang (PD3)
2002/2003: 1 orang (PD3)
—————————————– akreditasi C
2003/2004: –
2004/2005: –
2005/2006: –
—————————————– akreditasi A
2006/2007: –
2007/2008: 2 orang (mengajar 3 mata kuliah)
2008/2009: 2 orang (mengajar 3 mata kuliah)
2009/2010: 2 orang (mengajar 3 mata kuliah)

Dari daftar itu secara kasar menggambarkan perjalanan institusi ini dari tidak terakreditasi menjadi terakreditasi C, hingga kemudian terakreditasi A dan bagaimana pendampingan Yesuit berperan dalam hal itu. Keberadaan satu orang Yesuit selama ~8 tahun membuat pondasi yang cukup matang di Fakultas sehingga bisa terakreditasi. Bahkan pondasi itu cukup kuat sehingga ketiadaan Yesuit aktif tidak menjadikan masalah. Dengan hibah A1 dari negara dan ditopang pondasi tersebut, fakultas ini bisa mendongkrak akreditasi menjadi A. Saya yakin, dengan keberadaan 2 Yesuit aktif di rentang 2007-2009 ini dan dukungan hibah A3 dari negara, hasil akreditasi 2010 nanti akan jauh lebih baik. Jika ada nilai A+++++, maka hal itu layak kami raih. Itu akan membungkam suara-suara kaum reformis dan biarlah mereka sibuk dengan dunianya yang diwarnai luka batin itu. Luka yang bisa menebar racun jika tidak segera diobati dengan bertobat.

*******

~DosGil yang bukan Yesuit kembali blogwalking dan mengucapkan terimakasih pada mulutmanisyangberbisa untuk inspirasi cerita ini.

15 November 2009 Posted by | Secangkir ... | 9 Komentar

Secangkir air putih dingin dan DeLano …

Gambar yang cantik. Yes, it is a nice modern art. bla.. bla.. bla.. <– Adalah ungkapan teman dan kolega (sangat mungkin hanya sekedar basa-basi 😀 )ketika melihat salah satu gambar hasil karya DosGil di Molecules DigiArt dicetak di canvas dengan ukuran ~A0 dan digantung di salah satu koridor Faculty of Science, Vrije Universiteit Amsterdam. Baiklah mungkin hanya sedikit orang yang paham makna dibalik setiap spiral, bulatan-bulatan, dan komposisi warna yang tidak menarik dari lukisan-lukisan itu. Namun, “a picture is worth a thousand words“. Satu lukisan bisa meringkas setidaknya 2-3 halaman untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bagaimana sebuah obat bisa menyembuhkan suatu penyakit. Dan tidak sedikit scientist all around the world berhutang kepada PyMOL, sebuah aplikasi open source yang membuat “melukis” menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Dan dunia pun tersentak dengan kepergian mendadak Warren DeLano (37). Kreator PyMOL dan pendiri DeLano Scientific (pengembang dan distribusi PyMOL).

Selamat jalan Warren DeLano! Kontribusimu melalui PyMOL sungguh memberikan dampak positif luar biasa di dunia ilmu pengetahuan. Terima kasih, meskipun kita tidak saling kenal dan tidak pernah bertemu. Dengan PyMOL, Warren sungguh membuat jalannya penelitian DosGil menjadi lebih mudah. Requiescat in pace, Warren!

14 November 2009 Posted by | Secangkir ... | Tinggalkan komentar

Secangkir kopi dan St. Maarten …

St. Maarten ternyata tidak lahir di bulan Maret melainkan November. Tepatnya pada tanggal 11, sama dengan Ulang tahun Mas-nya Paman mBilung dan juga om Tukang Kopi. Di Belanda selatan, tanggal 11 November dirayakan besar-besaran dengan karnaval yang memiliki ciri berbeda dan khas di tiap kota.

St. Maarten ini merupakan nama Santo yang paling sering dipakai oleh orang protestant. Yaaahhh ..anda benar, salah satu alasannya karena Martin Luther, pemicu reformasi (atau revolusi) gereja yang jadi awal munculnya Protestan memakai nama Santo ini sebagai nama baptis. St. Maarten yang hermit jelas bukan tokoh idola dari Martin Luther yang pemberontak. Awan, putra DosGil yang masih berusia 19 bulan dulu hampir dinamai Maarten Kurnia Istyastono karena HPL-nya adalah akhir bulan Maret 2008. Namun karena merasa betah di dalam rahim ibunya, akhirnya Awan lahir di bulan April, sehingga nama Maarten ndak lagi relevan. Apakah Awan akan jadi hermit seperti St. Maarten, pemberontak seperti Martin Luther, atau gabungan keduanya. Ah .. yang jelas DosGil hanya berdoa yang terbaik buat Awan, buat kita dan buat alam semesta. Sabbe satta bhavantu Sukhi tata.

Dampak terbesar dengan kejadian tanggal 11 ini bagi saya pribadi adalah, ternyata satu hari setelah itu (yaitu hari ini) orang terdekat saya sehari-hari (literally), yang kurang lebih berjarak 2 meter dari tempat duduk saya saat ini alias si Bos, juga berulang tahun dan ada email masuk ke Inbox dengan subyek “Friday 13th”. Isinya undangan pesta (baca: minum-minum) merayakan ulang tahun dia yang ke-31, pengangkatan menjadi UD (kalau di Indonesia setara dengan Lektor, kalau istilah internasionalnya adalah Assistant Professor), dan juga karena memperoleh prestigious grant VENI. Eh apa hubungannya dengan tanggal 11 ya …??? nDak penting itu, yang penting adalah: party!!!

~Trambule Dab!

12 November 2009 Posted by | Secangkir ... | Tinggalkan komentar

Secangkir teh dan Martin Luther …

Sebelum menyampaikan sedikit uneg-uneg yang sekarang berputar di kepala, DosGil perlu menyampaikan disclaimer bahwa Dosgil bukan ahli sejarah, filsafat, politik, apalagi theologi. Jadi tulisan berikut hanyalah sesuatu yang sekedar lewat dan butuh penyaluran dalam bentuk tulisan yang debatable atau bahkan ignorable.

Hari ini adalah hari Ulang Tahun Mas Gage sang Sevenova. Selamat Bos! Dan, 3 hari lagi, tepatnya pada tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan dan juga Hari Ulang Tahunnya Martin Luther (lahir di tahun 1483). Secara kebetulan DosGil menonton film (yang katanya teman ndak masuk di bioskop mainstream Indonesia) Luther akhir pekan minggu lalu karena diputar di salah satu statiun TV Belanda. DosGil dengan mengandalkan Google kemudian mencari tahu lebih banyak tentang tokoh satu ini. Komentar Dosgil tentang film ini sendiri adalah: awesome!

Dari menonton film dan mencari tahu di belantara teks di internet, DosGil menyederhanakan kisah Luther sebagai kisah seorang kader muda potensial dan kritis yang merasa perlu ada perbaikan organisasi/institusi dan memperoleh tekanan dari pihak berkuasa karena dianggap sebagai ancaman dan “melawan”. Beruntung “perlawanan”nya mendapat wadah dan dukungan dari pihak lain yang merasa seide dan juga cukup berkuasa (dalam hal ini Pangeran Frederick the Wise). Jadilah bara itu berkobar dan menjadi api yang menyala-nyala, membakar dan secara signifikan merubah wajah Eropa dan Dunia.

Di lain pihak, di jaman yang sama “lawan” Luther beruntung memiliki St. Ignatius (Pendiri ordo Serikat Yesus) yang menjadi salah satu tokoh penting dari gerakan Kontra Reformasi. Dari nama gerakan ini maka dapat diambil kesimpulan kasar bahwa gerakan ini menjadi antagonis gerakan reformasi yang dimotori Luther. Namun jika dicermati lebih lanjut, gerakan ini merupakan gerakan cerdas dengan cara melakukan reformasi dari dalam. Perbaikan-perbaikan sistem dan penguatan organisasi menjadi hal utama sehingga institusi mampu menjadi penyeimbang gerakan reformasi dari pihak Luther.

Baiklah, hasil perenungan ngawur DosGil membawa pada suatu kesimpulan: Ignatius dan Luther memiliki pemikiran yang sama, yaitu ada yang salah dalam suatu organisasi dan perlu ada perbaikan. Namun, Luther dan Ignatius mengambil jalan yang berbeda. Luther memilih frontal dan keras dengan resiko dikeluarkan dan butuh energi lebih banyak untuk membangun (serta korban jiwa yang tidak sedikit) meski hasilnya bisa dilihat lebih cepat, sementara Ignatius memilih lebih sabar untuk memperbaiki dari dalam dengan cara yang lebih strategis dan institusional. Alhasil, bisa dilihat dari biasnya tulisan di ensiklopedia Katolik tentang Martin Luther dan St. Ignatius Loyola.

Salah satu perbedaan mendasar dari kedua tokoh itu adalah prinsip yang mereka pegang. Kaul keempat ordo Yesuit adalah ketaatan kepada Paus. Dari kaul itu, secara gamblang mudah dicerna kenapa Ignatius tidak melakukan perlawanan frontal. Sementara prinsip yang dipegang Luther adalah sebagai berikut:

Unless I am convinced by Scripture and by plain reason and not by Popes and councils who have so often contradicted themselves, my conscience is captive to the word of God. To go against conscience is neither right nor safe. I cannot and I will not recant. Here I stand. I can do no other. God help me.

Jika berada dalam satu insitusi dan merasa perlu ada perbaikan dan bisa melakukan perbaikan, kira-kira apa yang DosGil pilih? Cara Luther atau cara Ignatius atau diam saja dan runtuh bersama runtuhnya institusi?

~DosGil sambil menyeruput teh menanti datangnya pesanan DVD Luther untuk ditonton lagi.

7 November 2009 Posted by | Secangkir ... | 2 Komentar

Secangkir kopi pahit dan pelatihan …

Sembari menata kamar yang baru, numpang promosi yach …

3 November 2009 Posted by | Secangkir ... | 2 Komentar

Secangkir kopi dan ‘s-gravenhage …

Apartemen baru, lingkungan baru dan semangat baru.

Photobucket

Foto di atas diambil dari ruang tamu apartemen baru.

1 November 2009 Posted by | Secangkir ... | 4 Komentar