Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Segelas oplosan amareto dan sokelat dingin dan kisah-kisah di hari selasa …

Hari ini main ke Leiden University, memenuhi undangan groupnya Om Andre ini untuk berkolaborasi. Secangkir kopi dan perbincangan tentang kolaborasi bla..bla..bla..

sekedar ilustrasi pemodelan molekul

Yang menarik dari perbincangan itu adalah betapa mudahnya untuk berkolaborasi antar institusi berbekal saling percaya dan saling pengertian serta saling menghargai. Dimulai dari basa-basi kemudian saling terbuka tentang kepentingan masing-masing dan kemudian mencari titik temu yang memungkinkan saling belajar satu sama lain. Tidak lebih dari satu jam! Dan dosengila pun punya “mainan” baru bernama proteochemometric dan seorang pakar yang akan mengajari cara mainnya. Ah sudahlah, cukup tentang ini. Semakin lama semakin membahas hal teknis nanti.

Hari ini hari Senin, dan entah berapa purnama telah berlalu sejak hari Senin tanggal 30 September 1996. Suatu tanggal yang tidak pernah aku lupakan karena merupakan titik balik dalam mengambil suatu keputusan yang “menghantui” langkah-langkah selanjutnya. Kisah itu berhenti di hari Selasa. Kisah? Yah kisah. Daripada penasaran, meskipun klise, aku ceritakan saja: Waktu itu dosengila masih remaja, baru berusia 17 tahun. Dia jatuh cinta. Segalanya diberikan demi mendapat dia. Hingga tiba pada suatu fase, “Aku bahagia melihat engkau bahagia.” Omong kosong memang dan seperti hopeless. Namun dosengila yakin itu bukan hopeless melainkan dari hati. Sejak saat itu dia melangkah ringan dalam menapaki cinta dan sering menertawakan dan ditertawakan cinta. Selasa, 1 Oktober 1996 kisah sedih itu usai karena kemerdekaan yang dipilihnya.

Selasa, menjadi hari penting dan bersejarah. Hari ketika pilihan dijatuhkan dan segala konsekuensi di belakang segala pilihan itu. Masing-masing menempuh jalan yang berbeda dan tiada sesal yang timbul kini dan nanti.

Saat tulisan ini ditulis, hari Selasa dengan pasaran Legi telah dimulai di belahan dunia lain dimana ada kota bernama Yogyakarta. Banyak peristiwa terjadi di sana. Dan orang-orang yang tercinta ada disana. Dan dosengila di sini dan kini mengucap lirih dalam doa, “Aku bahagia melihat engkau bahagia. Tuhan sertamu.”

Dosengila,
lahir Selasa Wage menenggak habis campuran amareto dan sokelat dingin

Iklan

3 November 2008 Posted by | Secangkir ... | , | 3 Komentar