Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir seduhan rosella dan matahari bersinar terang …

Yups … matahari bersinar terang akhir-akhir ini. Tapi … karena tertipu olehnya batuk dan pilek jadi teman saat ini. Hiks.. hiks.. hiks… “Say, sakit nih … minta peluk …”

“Say, koq kamu sakit sih … Kamu gak boleh sakit … Kalau kamu sakit, yang ngurusin aku sapa?” ujar DosenGila dengan sangat egois pada belahan jiwanya suatu saat di waktu yang lalu.

Hari ini, iya hari ini 8 Juni, belahan jiwa DosenGila berulang tahun. Selamat ulang tahun Bunda-nya Awan, seperti yang pasti kaupinta pada-Nya, yang terbaik untukmu menurut-Nya. Maaf, aku tiada lagi hadir di sisimu saat ulang tahunmu sejak 2 tahun yang lalu. Maaf, tidak sempat meng-arrange kejutan seperti tahun lalu, namun setidaknya aku tidak lupa seperti 2 tahun yang lalu. Ah, kapan kita bisa seperti mereka lagi ….

Curhat Pasangan Blogger

Curhat Pasangan Blogger

Oh ya, CahAndong akan meramaikan Festival Komputer Indonesia 2009 di JEC, Yogyakarta tanggal 12 Juni 2009 jam 18.30 WIB. Info lengkapnya bisa di-klik di gambar.

~menyeruput seduhan rosella sambil berharap cawan ini segera berlalu …

Iklan

8 Juni 2009 Posted by | Secangkir ... | , | 2 Komentar

Secangkir teh tawar panas dan hari Sabtu yang cerah …

“Belum …” ketika DosenGila bertanya pada sang belahan jiwa apakah anak semata wayangnya sudah tidur. Sekarang anak itu masih menggelendot manja di buah dada ibunya, di Yogyakarta. Lokasi yang berjarak sekitar 20an jam perjalanan naik pesawat (kalau dikurs ke euro dengan asumsi naik KLM saat ini sekitar 800 euro). Jauh.

Amsterdam cerah hari ini. Setelah berminggu-minggu tidak pernah membuka gordyn di siang hari, hari ini kubuka. Seperti melihat hari baru, harapan baru. Atap-atap rumah berwarna merah dengan burung-burung camar beterbangan di sela-sela cerobongnya merupakan pemandangan yang memikat hati.

Musim dingin telah berlalu sepertinya. Saat menyongsong musim semi dengan segala semangat dan asa.

Selamat merayakan Valentine. Selamat menikmati salah satu hari yang special dan semoga bisa menjadi momentum untuk semakin menikmati setiap detik, setiap hembusan nafas, dan menyimpan semua kenangan indah dalam folder “hadiah Allah”.

~DosenGila akhirnya meng-update blog ini. Setelah hampir sebulan tidak di-update. Terima kasih pada teman-teman di CahAndong yang sudah menghangatkan hari-hari di perantauan ini.

14 Februari 2009 Posted by | Secangkir ... | , , , , | 18 Komentar

Secangkir cappuccino dan tiga hal terpenting di tahun lalu …

Secangkir cappuccino di Kafe Replay, Kalvertoren menjadi perhentian terakhir segala party, kegilaan, renungan, hura-hura, kesunyian, dan shopping di gemerlap diskon liburan musim dingin kali ini. Esok, DosenGila sudah dihadapkan kembali pada kegembiraan rutinitas yang jadi mata pencaharian saat ini: bermain-main dengan molekul di depan komputer ~ sambil berharap selalu ada pencerahan dan keberuntungan di setiap sudut, tikungan dan persimpangan jalan dalam riset ini.

Setelah habis secangkir cappuccino, DosenGila bergegas menembus gerimis di Amsterdam yang suhunya cukup hangat (sekitar tiga derajat celcius he..he..he..) menuju De Krijtberg untuk menghadiri misa mingguan pertama di Tahun 2009 ini ~dan seperti biasa DosenGila terlambat dan tidak dapat tempat duduk sehingga berdiri di belakang sampai misa berakhir. Sepanjang misa yang dilaksanakan dalam Bahasa Belanda ini ~DosenGila hanya pura-pura berdoa tapi sebenarnya tertidur bengong sebenarnya kalau lagi homili~ berbagai kejadian di tahun 2008 yang cukup tertambat di hati dan sanubari berkelebatan di benak DosenGila. Hanya ucap syukur kepada Allah yang selalu ada dalam setiap langkah DosenGila atas setiap hembusan nafas yang dihadiahkan dan setiap anugrah yang dicurahan, terucap dalam bisik doa yang segera lalu dibawa angin dingin Amsterdam di akhir misa itu. Ich habe Gott, Ich habe genuch!

Dalam perjalanan pulang sambil menenteng mainan untuk kado ulang tahun pertama Awan tanggal 3 April 2009 nanti, dalam benak DosenGila seperti diulang-ulang berputar-putar tiga hal yang (mungkin) terpenting terjadi di tahun 2008 lalu:
1. Diberi kesempatan menyelesaikan Master dan mendapat kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang PhD. Suatu keputusan yang sulit untuk mengambil atau tidak mengambil kesempatan itu, saat itu. Yahhh … diputuskan memang untuk diambil dan sudah setahun dijalani meskipun kadang sering menyesali keputusan ini karena konsekuensinya sering dirasakan sangat berat bahkan hampir tidak kuat ditanggung, DosenGila sudah mengambil keputusan dan berusaha tegar (dengan topangan pertolongan-Nya) untuk menghadapi konsekuensinya.
2. Diberi kesempatan untuk menjadi seorang Bapak dan menemani belahan jiwa saat melahirkan anak pertama, Kurniawan Respati Istyastono dengan panggilan Awan. Suatu anugrah yang luar biasa. Betapa DosenGila merasa mukjizat itu ada! Meskipun kemudian karena keputusan No. 1 tidak bisa menemani hari demi hari perkembangan Awan saat ini. Berserah dan pasrah pada-Nya. Hanya itu yang bisa dilakukan, sama seperti saat menunggu kelahiran Awan.
3. Mengundurkan (atau menarik) diri dari sebuah komunitas yang selama ini sudah dianggap keluarga sendiri karena konflik yang mungkin tidak perlu. Suatu keputusan yang mungkin belum berdampak nyata sekarang. Entah nanti. Meski terasa pahit, namun banyak pelajaran yang dipetik oleh DosenGila dari hal ini. At least, DosenGila bisa lebih fokus pada “being“-nya di sini dan kini. So … be it!

“Yo…yo…yo… semangat… semangat… semangat… “

Perdjoengan belum usai, masih panjang! Sekali lagi … ambil “tongkat sihir”, rentangkan tangan, kumpulkan semua ingatan tentang kebahagiaan dan harapan, lalu teriakkan rapalan mantra “Expecto Patronum“.

Tetap semangat dan tertawa gembira, seperti saat bersepeda memboncengkan Foe yang beratnya sebanding dengan DosenGila di kota tepian pantai Vlissingen yang anginnya membuat suhu minus lima derajat terasa minus sembilan derajat.

~gambar diambil dengan semena-mena dari facebook-nya Ikhlas.

4 Januari 2009 Posted by | Secangkir ... | , , , | 7 Komentar

Secangkir Gluhwein dan kisah Desember ke-tiga …

Secangkir demi secangkir Gluhwein (tepatnya hingga tiga cangkir) racikan Om Martin van Bruinessen menghangatkan tenggorokan dan badan DosenGila pada pesta perayaan Sinterklaas dan juga ulang tahun mBak Rini van Bruinessen (Selamat Ulang Tahun mBak … semoga damai sejahtera senantiasa) di Utrecht hari Jum’at yang lalu. Keramaian pesta sedikit menarik DosenGila larut dan ceria serta tertawa sekaligus berdendang bersama. Diskusi hangat yang tidak terelakkan antara Om Martin dan Mas Tutu tentang Weber, cerita Om Martin tentang kisah Sinterklaas yang berasal dari Turki, yang diakhiri dengan Sinterklaas (diperankan oleh Bektash van Bruinessen) membagi hadiah. Malam semakin larut, dengan perut kekenyangan (setelah 3 ronde soto dan 2 ronde makanan utama, belum lagi makanan penutup dan cemilan) DosenGila dan pasukan dari Amsterdam pulang ke rumah dengan kereta.

DosenGila dapat hadiah dari Sinterklaas, Dank u wel Sinterklaas.

Sepanjang perjalanan, canda tawa masih mewarnai. Namun begitu kaki melangkah kembali masuk ke tempat DosenGila biasa hibernasi, kembali sepi sunyi menyapa dengan cengiran sinis yang menyebalkan itu. DosenGila sendiri lagi. Begitu juga dengan Desember 2006 dan Desember 2007. Mungkin hingga 2011, kisah-kisah DosenGila di bulan Desember akan berupa keceriaan bersama teman-teman untuk membunuh sepi karena dia, sang belahan jiwa dan buah hati berada di belahan bumi yang lain.

DosenGila di Madrid

Desember 2006, selain Pesta Natal di tempat mBak Rini, DosenGila mencoba membunuh waktu dengan jalan-jalan ke Madrid, Roma dan Barcelona. Desember 2007, tidak ada pesta sepertinya, DosenGila dikejar thesis saat itu. Puji Tuhan selesai sesuai dengan yang direncanakan. DosenGila menghabiskan malam Tahun Baru saat itu dengan sesama penuntut ilmu yang terdampar di Amsterdam, Chauf. Sebungkus dua bungkus gudang garam dan Dji Sam Soe serta beberapa gelas jus dan keripik kentang menjadi saksi dua orang perantauan mencoba membunuh rasa sepi. Kalau sudah seperti ini yang muncul adalah, “Siapa bilang sekolah ke luar negeri enak … ? Apalagi kalau harus meninggalkan orang-orang tercinta.” ~Huahahahahaha, ketawa ala Rahwana.

Awan, si buah hati DosenGila

Memang, ada kalanya kesenangan membuncah seperti saat Emy, belahan jiwa DosenGila berkunjung ke Amsterdam, pada musim panas tahun 2007 silam. Di sela-sela kesibukan DosenGila, mereka sempat keliling Belanda bahkan ke Jerman (Aachen) dan Prancis (Paris).

DosenGila dan belahan jiwa di Paris Censored - DosenGila dan belahan jiwa terbawa arus romantis kota Paris

Desember ke-tiga ini tanpa mereka lagi. Apa yang akan DosenGila kerjakan? Pesta Sinterklaas sudah usai (Thanks to keluarga van Bruinessen dan teman-teman yang menciptakan keramaian) … semoga ada banyak acara menyenangkan kali ini.

Tulisan ini mendapat suntikan melankolis dari Bu Aris dan juga akibat sepetan maut si mulutmanisyangberbisa.

Lagu yang dinyanyikan Daniel Sahuleka ini sepertinya cukup menggambarkan perasaan DosenGila saat ini (Thanks to Bu Aris):

Tomorrow’s near, never I felt this way
Tomorrow, how empty it’ll be that day
It tastes a bitter, obvious to tears to dried
To know that you’re my only light
I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
Oh, I love you

How many lonely days are there waiting for me
How many seasons will flow over me
’till the motions make my tears run dry
at the moments I should cry
for I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
It makes me so afraid

Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least ’till dawn
It hurts to know another hour has gone by
The reason is still I love you

7 Desember 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , , , , | 11 Komentar

Secangkir teh tawar yang sudah dingin

Ayah dan anak yang aneh .... bangun tidur langsung nongkrongin internet ...

Teh sudah dingin karena ditinggal chatting dan melihat email-email provokatif selama dua minggu ini. Aku lelah sudah. Saatnya untuk beralih dan benar-benar beralih. Mengutip salah satu kutipan di Best Geek Quotes Ever: “I’m not anti social, I’m just not user friendly” (yang juga dipakai rekan Sandal di signature emailnya.). Mungkin itu benar adanya bagiku. Mungkin butuh banyak kontak dengan manusia untuk detoksifikasi, terlalu lama kontak dengan komputer ternyata toksik juga. Paracelcus memang benar, “Everything is poison, nothing is poison. It is the dose that makes a poison

25 Oktober 2008 Posted by | New idea ..., Secangkir ... | , , | 2 Komentar

Secangkir kopi pahit dan kisah 10 kota dalam 60 jam.

Secangkir kopi sudah siap. Belum beli gula, jadi tersisa kopi kental saja dan pahit. Biasanya malas minum kopi, namun hari ini istimewa: belum beli teh dan gula. Maklum week end pertama setelah merapat lagi ke Amsterdam, kota dengan segala tawaran dan godaan. Masih capek dan jiwa ini serasa masih dalam mimpi menyusuri jalan-jalan Yogyakarta. Menyapa titik nol km, tempat cahandong jumintenan. Hanya saja udara dingin yang sinergi dengan libasan angin membuat tersadar bahwa ini Amsterdam, bukan Jogjaku yang kucinta.

Masuk angin komplikasi diare akibat mampir di 10 kota di dua benua yang berbeda sudah berangsur membaik. Sepuluh kota? Iya sepuluh kota. Bukan hal yang patut dibanggakan, hanya karena cari tiket murah saja.

Awan, usia 5 bulan 10 hari.

Berawal di Jogja, hari Minggu tengah hari seputaran pukul 12, Bandara Adisucipto kembali jadi saksi perpisahan dengan belahan jiwa dan Awan, darah dagingku yang mungil dan lagi lucu-lucunya. Pesawat, yang tumben tanpa delay, membawa terbang ke Bandara Soekarno Hatta dan langsung menuju hotel Sofyan. Semalam menyusuri Jakarta bersama dua orang sahabat sejak SMP yang dua-duanya masih menjomblo. Penguasa Tebet betul mereka, dari WarMo yang terkenal lengkap dan enak sampai rumah susun yang penghuninya berbagai kalangan pun dikenalnya. Capek, mereka pamitan setelah menembus dini hari, dilanjutkan aku tertidur setelah mencoba membuat website yang sekarang tayang di sini.

Jakarta, sebuah kota yang membuatku bergidik dan merinding. Entah perasaan tidak nyaman selalu hinggap jika berada di atmosfer Jakarta. Untung perjalanan sudah diatur dan semua lancar. Pemberhentian selanjutnya adalah Depok, guna mengunjungi kolega dan sahabat di sebuah universitas negeri yang sudah tua di Indonesia. Setelah Depok, bergerak ke salah satu Universitas Swasta yang memiliki Fakultas Farmasi tertua kedua di Indonesia setelah Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Pemberhentian selanjutnya adalah Cisarua, menemani rekan yang akan rapat tentang regulasi kosmetik dan aku istirahat di tempat berbukit yang indah nian (tidak mungkin ditemui di Belanda). Cisarua bergerak ke Bandara CGK, Tangerang. Dan pesawat malam itu membawaku ke Kuala Lumpur (satu jam tanpa turun), Kuwait (transit sekitar 5 jam), Roma (satu jam tanpa turun), berakhir di Paris. Dari Bandara CDG naik kereta dan subway menuju Paris Gallieni, untuk meneruskan perjalanan selama 7 jam naik Bus menuju Amsterdam. Sampai Amsterdam tepat di depan kamar, arloji dari orang yang (pernah) mencintai aku menunjukkan pukul 06.00 dini hari. Yogyakarta-Jakarta-Depok-Cisarua-Tangerang-Kuala Lumpur-Kuwait-Roma-Paris-Amsterdam, 10 kota/kabupaten di 2 benua yang berbeda dalam 60 jam, menggunakan 5 jenis transportasi publik yang berbeda pula: taxi, pesawat, kereta, subway, bus. Suatu cerita yang tidak ingin diulangi lagi kalau sendirian.

Pengalaman paling menarik dalam perjalanan ini adalah mengamati karakter petugas keamanan masing-masing bandara. Di Indonesia, seperti telah banyak dibahas, terasa perbedaan tingkat keramahan (mungkin juga prosedur) antara group check in (tujuan Kuwait, banyak TKI-nya) dan individual check in, di Kuwait tidak terasa ada perbedaan, tapi terasa sekali kadar keramahan yang tipis, bentakan-bentakan mudah didengar di segala sudut bandara dan sulit sekali melihat senyuman ramah dari petugas bandara. Senyum ramah hanya pernah didapat dari penjaga toko souvenir tempat aku belanja sedikit kenang-kenangan bahwa pernah ke Kuwait. Di bandara Charles de Gaule Paris, suasana tidak seseram Schphol Amsterdam. Pemeriksaan identitas dan dokumen singkat dan cepat. Biasanya kalau di Amsterdam melalui beberapa pertanyaan, saat ini di Paris tidak ditanya apa-apa. Bagasi juga datang relatif lebih cepat dibanding Amsterdam.

Ah sudah pukul 14.30. Saatnya belanja dan nonton film. The Forbidden Kingdom sepertinya menarik

27 September 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , | 4 Komentar