Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir caffelate dan bendera …

Merah putih di Amsterdam ... I am dam!

besok dijadwalkan pulang ke Indonesia.
libur (sembari “kerja”) menjenguk sanak saudara
dan bercengkerama dengan cinta
oh ya, ini bukan puisi loh ya ….
hanya sekedar bercerita tapi ingin pakai rima

tulisan ini ditorehkan sembari mendengarkan COKELAT punya “bendera”
mengingatkanku akan masa sekolah terutama saat SMA
ketika upacara dan hormat bendera adalah makanan setiap pagi dan kala senja
tangan kanan diangkat sejajar bahu dan maju sekitar 15 derajat ke muka
ujung tangan dengan jari rapat ditekuk menempel ujung alis kanan di atas mata

masa itu sudah berlalu lama
namun selalu ada itu rasa dan semoga selalu tetap ada
ditengah semua galau dan goda
negeriku dan aku sudahkah berintegrasi dalam cinta

“mengapa dadaku mesti berguncang” (ngutip Ebit G. Ade) bila
melihat berkibar bendera merah putih di sebuah tiang terpancang merana
tangan ini reflek ingin mengangkat dan hormat padanya
tapi dimana?
disini selalu ada tambahan biru di bawahnya

pulang ke pelukan bunda
adalah salah satu jawabnya
pulang esok dan ikut upacara
sepertinya terdengar gila
tapi orang gila yang bahagia
dan merdeka

aku pulang (lagi) bunda
ke pelukanmu yang hangat dan penuh cinta
pelukan yang menenangkanku kala gundah gulana
ingatkah bunda?
kala itu agustus beberapa tahun silam mendekati peringatan hari merdeka
engkau belikan aku berlusin-lusin plastik bendera
merah putih warnanya
saat itu kampung kita sedang dihias oleh pemuda
oleh warna merah putih di setiap sudut dan tali yang melintang di jalannya
kuambil sebagian itu bendera
kubagi kepada anak-anak yang lainnya
dan kami bermain perang-perangan seperti biasa
pejuang Indonesia lawan tentara Belanda
(ah sekarang aku minum air Belanda pula)
saat itu bendera kurang karena ada beberapa anak baru bergabung pula
aku lari pulang mengambl bendera yang tersisa
dan kudapati tinggal beberapa helai saja
bunda, engkau bercerita bahwa kampung kurang bendera
dan pemuda panitia meminta kepada bunda
benderaKU yang masih ada
benderaKU bunda!
bunda memberikan pada mereka apa yang diminta
dengan sempat menyimpan beberapa helai saja
batin kanak-kanakku berkata, “benderaku direbut paksa!
Ah ternyata begini kelakuan para pemuda.”
namun seorang anak tanpa daya
hanya bisa batinnya terluka
dan bercerita setelah lebih dari 20 tahun berputar masa
pecah tangisku kala itu tidak terima
meski demikian perang-perang jalan tanpa jeda
bendera masih ada dan semua dapat rata
hanya sebagian (besar) telah diambil paksa

benderaKU bolehlah diambil paksa
bendera bangsaku harus berkibar diatas sana
benderaKU yang juga bendera bangsaku akan selalu berkibar di hati orang merdeka
apakah aku sudah merdeka?
apa definisi merdeka?
entahlah, aku hanya ingin ikut upacara
dan hormat bendera

MERDEKA!
dalam hatiku yang tergetar oleh pekik merdeka
terucap janji yang terpatri sejak lama
… memberikan karya terbaik bagi masyakat bangsa negara dan dunia!

DIRGAHAYU NEGERIKU, DIRGAHAYU BANGSAKU, DIRGAHAYU INDONESIA!

Iklan

14 Agustus 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 2 Komentar

Secangkir cola dan sebuah kisah masa lalu …

Sembari menunggu cucian yang masih harus dikeringkan, dan ditemani segelas cola dingin berkelebat beberapa adegan muncul di benakku. Namun sepertinya tidak banyak yang akan tertuang dalam tulisan secara tubuh ini sepertinya masih butuh recovery.

Sekedar berbagi foto jalan-jalan week end kemarin:

Di rembrandplein malam hari …
di rembrandplein malam hari

di rembrandplein malam hari

11 Agustus 2008 Posted by | Secangkir ... | | Tinggalkan komentar

Secangkir teh panas yang belum jadi …

Pagi – Sabtu 9 Agustus 2008

Tiga hari telah berlalu sejak ulang tahunku yang ke-29. Hari ini ulang tahun seorang rekan di Aachen, Jerman dan satu lagi di Haarlem, Belanda. Selamat ultah ya Arya dan Myra, semoga damai sejahtera senantiasa. Sembari menunggu air mendidih, sejenak angan ini berlari ke seminggu yang lalu, saat Parade Gay Pride di Amsterdam. Dari parade tersebut kemudian terjadi hal-hal iseng di dunia maya dengan munculnya “perang tag” di facebook. Jadi seorang “oknum” (sebut saja bernama Binsar) melakukan “gerilya” dengan memotret berbagai adegan di parade tersebut lalu men-tag “teman-teman”nya. Dan ini adalah gambar yang di-tag ke diriku:

Lucu juga sih. Sepertinya asyik punya rambut pirang panjang dan bodi masih seperti jaman SMA dulu (Emang pernah ya punya bodi seperti itu …. ). Thanks to Binsar yang menghadirkan parade tersebut secara aku tidak bisa nonton. Semoga tahun depan masih ada kesempatan.

Pada saat itu, aku, Heri, Myra, Iqbal, dan Bebi mengunjungi Vlissingen dalam rangka jalan-jalan bersama kru kapal KRI Iskandar Muda, Bang Ludfy, Friski, Romy dan Anugrah a.k.a Erol. Secara kami berasal dari SMA yang sama, perbincangan mengalir dan berbau nostalgia serta cela-celaan yang khas. Kota Vlissingen hari itu memberikan suasana yang cerah di pagi siang hari dan hujan rintik-rintik di sore hari. Diawali dengan makan siang di “Mini Wok” di pusat kota. Lalu jalan mengelilingi kota, potret sana-sini. Melihat kekasih bermesraan di tepi pantai. Makan oliebollen (bahasa Indonesianya mungkin: roti goreng) sembari melihat meisje-meisje adu ketrampilan di atas kuda (kebetulan hari itu ada acara khusus di Vlissingen). Bersandar di patung Michiel de Ruijter si anak emas kota Vlissingen (Salah satu pahlawan besar Belanda yang kucurigai terlibat dalam penjajahan Indonesia dan juga perdagangan budak), sambil melihat Iqbal kagum dengan lautan yang menggelora menakjubkan. Angin laut tak henti-hentinya menyapa rambutku saat itu. Setelah secangkir-dua cangkir gin and tonic di sebuah kafe dan makan malam di restauran di seberang jalan kafe tersebut, pasukan bergerak ke stasun Vlissingen. Dan karena efek angin laut, aku terpaksa beristirahat semalam di Rotterdam di kediaman Heri.

Hari-hari selanjutnya seperti hari-hari sebelumnya, rutinitas belaka. Lumayan sudah ada kemajuan di tempat kerja dan mulai terbiasa dengan kamar baru ini. Kecuali tanggal 6 Agustus lalu yang merupakan hari istimewa. Hari tepat 29 tahun yang lalu aku dilahirkan. Angka 29 cukup membuat mata ini “silau”, satu lagi jadi 30. Aku dah tua ternyata ya …

Sempat pula menonton “The Dark Knight” dan “Wall-E“. In my opinion, the dark knight gak sebagus yang kuharapkan. Dari berbagai testimoni rekan-rekan yang sudah nonton mengatakan film itu bagus, namun aku mendapati hal yang berbeda. Okelah, effect-nya keren, actingnya Ledger boleh dibilang memukau sebagai joker, adegan pertentangan batin yang merupakan “permainannya Joker” bisa dibilang inspiring. Namun aku kira Jokernya disini kurang lucu, perubahan karakter Harvey Dent kurang dramatis, dan keseluruhan cerita mengingatkanku pada “Dark Justice“, serta hampir semua adegan di film tersebut predictable. Jadi pas nonton, ketika angle kamera mengarah ke seseorang, alam bawah sadarku langsung menerka orang ini akan berbuat apa, bahkan step-stepnya Joker sudah tertebak, dari awal hingga akhir film. Lalu semalam menyempatkan diri nonton Wall-E, yang bagiku lebih bagus dari pada “The Dark Knight”. Cerita di Wall-E sederhana dan ending-nya sudah bisa ditebak khas film untuk anak-anak. Namun adegan-adegan di Wall-E yang lebih memanfaatkan ekspresi daripada dialog cukup mengagetkan dan sempat membawaku serasa dalam dunia Wall-E. Sayang, ending-nya terkesan dipaksa dramatis. Ah, tapi ini hanya review dari orang yang awam dunia pelem-pelem-an. Nonton film sekedar untuk refreshing dan membunuh waktu sebagai jomblo lokal. Dan perbedaan pendapatku dengan http://www.imdb.com/ semakin mempertegas keyakinanku kalau keindahan itu subyektif bukan obyektif, “de gustibus non est disputandum” atau “tidak ada perdebatan dalam masalah selera”.

Ada satu ide yang tergali lagi dari pikiranku saat nonton Wall-E: “The Chemistry of Love”. Beberapa laporan dan artikel mengenai oksitosin, feromon dan lain sebagainya mengarah pada hipotesa bahwa “Love is merely chemical reaction“. Kalimat “kami sudah tidak merasakan chemistry satu sama lain, maka kami berpisah” bisa jadi tepat. Kali lain aku akan coba review ini lebih detil, dan kalau sudah mencapai masalah teknis, mungkin perlu pindah ke blog sebelah. Mengapa nonton Wall-E bisa muncul kembali pemikiran ini? Karena Wall-E adalah sebuah robot, bisa dikatakan tidak ada serangkaian asam amino yang menyusun protein di Wall-E. Bagaimana Wall-E jatuh cinta? atau tepatnya Bagaimana Wall-E punya perasaan? Ah .. sekali lagi menghela nafas, itu kan pelem … he .. he.. he .. Why so serious? (Loh koq malah mengkutip kalimat Joker di “the Dark Knight” :p )

Ooppss, air sudah lama matang. Secangkir teh panas dan sekeping croissant lengkap dengan beberapa helai salami ayam dan kalkun segera disipakan untuk makan pagi.

Merdeka!

9 Agustus 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , , , , , , | 4 Komentar

Secangkir teh manis dingin setelah mereka pulang …

Terima kasih Tuhan, telah diberi hembusan nafas hingga lebih dari 29 kali bumi mengelilingi matahari. Terima kasih atas berkat-berkatnya dan penyertaannya setiap saat. I have GOD, I have enough.
Hari ini lembaran baru mulai dibuka, memasuki usia menjelang kepala tiga. Banyak ternyata yang sudah kulewati dan entah apa lagi yang akan kutapaki. Ketika kubuka email, banyak email masuk, beberapa belum kubalas, maaf. Sms juga demikian. Terima kasih semuanya. Tuhan beserta kalian juga.

Di sela-sela pekerjaan rutin memodelkan molekul dan menulis artikel sebelum kutinggal liburan ke Indonesia minggu depan, hari ini ada dua pesta kecil diselenggarakan terkait peristiwa 29 tahun silam. Pertama di lab dengan cake rasa sampanye, jeruk dan strawberry. Dilanjutkan di rumah dengan mie goreng istimewa ala Enade lengkap dengan ayamnya sang Kolonel dan rendang dari warung celebes. Cukup meriah dengan dihadiri tetangga dan handai taulan.
Jujur aku terharu dengan semua ini. Meski jauh dari keluarga tetap serasa memiliki keluarga sendiri. Perjuangan masih panjang, tapi dengan ditopang Tuhan melalui tangan-tangan mereka, serasa tidak berjuang sendiri.

Waktu telah melewati pukul 00.00 ketika teman terakhir pamitan pulang dan kamar baru ini kembali sepi. Secangkir teh manis dingin resep baru yang ingin meniru teh botol S*sr* menemaniku menulis kembali di blog ini.

Merdeka!

7 Agustus 2008 Posted by | Secangkir ... | | Tinggalkan komentar

Welcome back Enade …

Mengucapkan selamat datang kembali pada dunia blog setelah hampir lima bulan tidak menulis di dunia maya ini. Blog ini direncanakan merupakan lanjutan/pindahan dari blog dosengila bertajuk Laan van Kronenburg di www.dosengila.blogspot.com dengan tetap mempertahankan tajuk yang sama. Meskipun secara fisik pengelola blog ini sudah pindah meninggalkan Laan van Kronenburg.

5 Agustus 2008 Posted by | New idea ..., Secangkir ..., Uncategorized | , | Tinggalkan komentar