Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Segelas besar es sokelat dan cerita tentang tugu, cahandong, dan rel kereta

Warning: Banyak foto.

Hm… banyak cerita yang bisa ditulis. Segelas besar es sokelat dan sepiring kecil salad buah sudah siap menemani menulis di break kafe jakal km 5.

Seminggu sejak buka bersama dengan cahandong di rumah Om Yahya, akhirnya berhasil juga menghadiri Juminten-nya rekan-rekan cahandong. Berangkat dari rumah sekitar pukul 10.00 WIB melaju ke km 0 Yogya, tempat ritual mingguan tersebut dilaksanakan. Eh di tugu melihat segerombolan anak muda sedang berfoto dengan tugu sebagai objek. Dan, aku mengenali anak-anak muda tersebut, mahasiswa-mahasiswa yang pernah kuajar dua tahun silam.

Putar balik, bergabunglah daku dengan mereka. Dan hasilnya dapat dilihat disini:
Mahasiswa gendeng murid dosengila

Dosengila dikelilingi bidadari (?)

Dosengila dengan bodyguard

Setelah puas poto-poto di tugu dan memegang tugu (mitosnya kalau megang tugu akan selalu balik ke Jogja) segera bergabung ke km 0. Dan setelah putar-putar tiga kali menemukan wajah funkshit dan ritual khas salam-salaman lalu duduk menanti anggota yang lain. Dan setelah lewat tengah malam (koq jadi ingat Sidney Sheldon), semakin banyak yang bergabung:

Sebagian anggota. Terlihat Momon, Selo, Ocha, Ama, dan Ekowans

Briefing oleh Goen

Lalu pasukan bergerak untuk melaksanakan “Sahur on the Rail“. Cerita lengkap bisa dibaca di postingan rekan Alle. Poto-poto “Sahur on the Rail“:

Penyerahan bingkisan

di pos 739

di pos 737

Goed gedaan mijn vrienden!

13 September 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 7 Komentar