Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir … ah sudahlah.

Jika malam tiba, adakah kau titipkan pertanyaanmu pada bintang.
Apa yang hendak kau tanyakan.
Entahlah. Aku tidak ingin bertanya. Dan biarlah getar-getar ini menjawab dengan sendirinya.

Waktu? Apa yang bisa dilakukan oleh waktu.
Menyembuhkan? Haah … seriously?

*meracau

Iklan

30 November 2011 Posted by | Secangkir ... | Tinggalkan komentar

Secangkir kopi hitam panas tanpa gula dan “Diary Pramugari”

Sambil menunggu jadwal pesawat ke Jogja setelah menyelesaikan tugas di ibu kota, DosGil menyempatkan diri mampir ke Grand Indonesia Shopping Town. Town? Indeed, we can call it city. DosGil tersesat di dalamnya dan terdampar di sudut di dalam sebuah toko buku. Toko buku merupakan tempat favorit DosGil dulu kala. Hanya saja semenjak ada tablet dan e-book, amat jarang DosGil semedi di toko buku seperti dulu. Saat memasuki ruangan yang ditata dengan apik khas toko buku, DosGil merasakan bahwa ada sesuatu antara dia dan toko buku. DosGil merasa di rumah. Setelah mengitari toko buku dan mendamparkan diri di bagian sastra dan sekitarnya, mata DosGil tertumbuk pada sebuah buku berjudul Diary Pramugari “Seks, Cinta dan Kehidupan”. Baiklah gambar kaki seksi diselimuti sepatu dan rok merah menyala serta kata seks dalam judul yang mungkin membuat mata DosGil tertambat dan mengambil buku itu dari rak dan membaca cover belakang. Dan bukan nama pengarang maupun untaian kata-kata di cover belakang yang membuat DosGil memutuskan untuk membeli dan membacanya sampai tuntas, melainkan karena tertumbuk pada nama yang memberikan sebuah testimoni: Yudi – mahasiswa apoteker SADHAR +628564735xxxx.

Ya, frasa “apoteker SADHAR” yang membuat DosGil membeli dan lalu membaca. Setelah membaca dan tidak terputus akhirnya diselesaikan juga dalam pesawat yang membawa DosGil ke Jogja. Kisah yang dituturkan dengan mengalir dan enak serta tersirat banyaaaaaakkk sekali pesan kehidupan. Saking banyaknya, jadi DosGil lupa pesan utama yang kan disampaikan buku ini. Nice and recommended book. Buku ini akan membuat agak mengernyitkan dahi bagi pengikut “kehendak bebas” dan semacam “pembenaran” bagi pengikut aliran “predestinasi”. Ah, anyway, buku yang ringan dan sayangnya belum mengundang untuk dibaca lebih dari sekali. Entah esok nanti.

*DosGil bersiap mengisi hari-hari penantian dengan menciptakan sesuatu yang berguna.

28 November 2011 Posted by | Secangkir ... | 2 Komentar

Secangkir coklat hangat dan “(lagi-lagi) cinta tak bersyarat …”

Meskipun tenggat waktu sudah semakin dekat, belum terbersit kehendak untuk melanjutkan “kerjaan” itu. Baiklah, DosGil akan meracau lagi di sini terkait (lagi-lagi) cinta.

Bukan. DosGil bukan pakar dalam cinta ataupun penakluk wanita, bahkan sebaliknya dalam hal ini nasib (dan perkembangan tubuh) DosGil lebih mirip dengan tokoh Ti Pat Kai dalam kisah Kera Sakti. Ti Pat Kai memiliki kutipan yang seingat DosGil kurang lebih demikian, “Cinta adalah tautan penderitaan tak bertepi.” Namun dalam film, cerita-cerita pendek maupun roman, kisah-kisah tentang perjuangan cinta biasanya bertepi dan berakhir dengan “… and they live happily ever after.” Really? Sayangnya setelah tanda baca titik masih ada banyak hal yang mungkin terjadi. Dan pada akhirnya dalam kisah cinta yang bukan tragedi pun akan diakhiri dengan perpisahan. But anyway, kisah-kisah mahakarya yang abadi adalah kisah cinta 😀

Ah sudahlah, salah satu dari banyak tip tentang cinta adalah “Katakan perasaanmu! You never know if you never ask.” Tapi banyak yang menghindar dan menolak serta lebih memilih untuk memelihara rasa itu sendiri tanpa berbalas. Alasannya? Entahlah. Tapi menurut DosGil, adalah karena takut ditolak. So, tip kedua adalah be persistent. Berikut adalah shell script yang DosGil iseng buat yang mungkin berguna untuk menyatakan cinta:

#!/bin/sh
while [ “$j” != ya ]
do
echo “Maukah kau jadi kekasihku?”
read j
done

*DosGil sedang memaksa diri untuk mengerjakan “kerjaan” itu.

17 November 2011 Posted by | Secangkir ... | 2 Komentar

Secangkir air putih dan “cinta tak bersyarat …”

DosGil teringat sebuah buku, yang jika tidak salah ingat, berjudul “Cinta tanpa syarat”. Dibeli dulu di toko Gardena Jalan Solo Yogyakarta, kala masih duduk di bangku SMP . Apa isinya? DosGil lupa.

Kalau tidak salah tadi sempat sekilas melihat kicauan @memethmeong di linimasa mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakan supaya yang bersangkutan segera mendapat seseorang yang mencintai tanpa syarat. “Hmmm … apa salahnya dengan cinta bersyarat?” sekilas muncul di benak DosGil yang tidak dipikirkan lebih lanjut lagi. Kenapa? Karena DosGil jadi teringat konsep cinta yang tidak resiprokal. Apakah cinta itu bersifar resiprokal? DosGil kira tidak. Tapi kenapa banyak orang patah hati ketika cintanya tidak berbalas? Seorang teman sekelas DosGil pada waktu SMA pernah berkata dengan lantang, “Hanya ada satu cinta, cinta tanah air dan bangsa!” Kalau tidak salah sekarang beliau jadi perwira polisi di daerah perbatasan.

Ahh … jadi teringat pada suatu masa:
DosGil: “Aku mencintaimu.”
Gadis Pujaan: “Errrr … Terus kau mau kita pacaran? Aku pikir-pikir dulu ya …”
DosGil: “Pikir-pikir apa? Aku mencintaimu. Aku tidak meminta kau jadi pacarku atau kau mencintai aku juga. Kalau kau begitu, ya baiklah mari kita coba merenda cerita. Kalau tidak pun kau tidak bisa menghentikan rasaku dan fakta bahwa aku mencintaimu.”
DosGil (dalam hati): “… dan aku juga tidak menjamin bahwa rasa ini akan bertahan hingga esok tiba.”

*meracau *galau *hore Indonesia menang lawan Thailand 3-1

13 November 2011 Posted by | Secangkir ... | 5 Komentar

Secangkir kopi dan “penunda a.k.a procrastinator …”

Akhirnya terjadi juga. Bikin Ind*m** dan gosong karena disambi menyelesaikan bab 6 dari calon desertasi. Baiklah, maka dosgil merubah haluan untuk tidak lagi merebus mie instant melainkan menyeduhnya. Setidaknya revisi bab itu sudah selesai dan dikirim balik ke pembimbing. WoOw .. produktif sekali … Hahahaha … Baiklah-baiklah itu seharusnya sudah dikirim balik 4-5 minggu silam dan DosGil memilih untuk mengerjakan hal yang lain. Seorang penunda parah? (Terjemahan bebas dari “a severe procrastinator“)

Procrastination - A1

Bisa iya .. bisa tidak.. tapi … iya deh. DosGil mengaku dalam hal ini menjadi seorang penunda yang parah. Terkait “penundaan” ini ada sebuah pemikiran/artikel menarik tulisan Prof. John Perry dari Standford University di situs berikut: http://www.structuredprocrastination.com/

The key idea is that procrastinating does not mean doing absolutely nothing. Procrastinators seldom do absolutely nothing; they do marginally useful things, like gardening or sharpening pencils or making a diagram of how they will reorganize their files when they get around to it. Why does the procrastinator do these things? Because they are a way of not doing something more important. If all the procrastinator had left to do was to sharpen some pencils, no force on earth could get him do it. However, the procrastinator can be motivated to do difficult, timely and important tasks, as long as these tasks are a way of not doing something more important.” (John Perry)

Jadi selama itu bukan pekerjaan yang memang-harus-dikerjakan-dan-sepertinya-masih-bisa-menunggu-meskipun-diberi-tenggat-waktu seperti thesis, skripsi, dan sejenisnya, seseorang (tepatnya seorang penunda) akan dengan senang hati mengerjakan, seberat apapun itu. Apalagi yang dikerjakan itu menyenangkan. Seperti menulis di blog hahaha … DosGil yakin ketika menulis di blog ini jadi suatu “kewajiban” maka dengan senang hati Dosgil akan lupa “kewajiban” ini. Sedikit menengok ke belakang, saat diberi batas akhir oleh dosen pembimbing untuk menyerahkan draft bab 6 hasil revisi akhir pekan ini (dan ini adalah tenggat waktu kedua yang diberikan 🙂 setelah berhasil mengirim email memintaa perpanjangan/penundaan tenggat waktu) maka hal-hal berikut yang (juga) dikerjakan DosGil:
(i) membantu teman mengajar metode optimasi menggunakan R di Fakultas Farmasi Univ. Sanata Dharma.
(ii) memperbarui dan membuat tulisan-tulisan baru di molmod.org
(iii) me-relaunch ide pembuatan molmod.os
(iv) menulis di molmod.org tulisan tentang perkenalan tipe berkas .pdb.
(v) menyelesaikan dan berbagi skrip shell untuk otomatisasi prosedur optimasi preparasi ligan dan protein serta validasi protokol penapisan virtual sehingga bisa diekskusi hanya dengan satu baris perintah.
(vi) menjadi kakak ipar yang baik(?) dalam keseluruhan prosesi pernikahan adik dari Mama Awan.
(vii) bersama Mama Awan, Lina, Ijal dan Pepeng menjadi asisten Chef Odong untuk mengolah daging sapi dan berceria bersama di CahAndong “pusat”.

Weeww … banyak juga ya? Fiuhh … untung masih “mau” menyelesaikan revisian.

Jadi berikan DosGil tengat waktu, maka Dosgil akan segera mengerjakan (hal lainnya dan mengesampingkan pekerjaan bertenggat waktu tersebut). 😀

*Gambar/Ilustrasi berlisensi CC BY-SA 2.0 oleh Rachel Fisher.

7 November 2011 Posted by | Secangkir ... | 2 Komentar