Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Sesloki amareto dan kisah tentang rentenir dan putri petani …

https://i1.wp.com/www.siliconeer.com/past_issues/2006/september2006_files/NEWS-farmer.jpg 

Pada tanggal 29 Oktober 2008 pukul 15:25 WIB, dosengila menerima sebuah email dari seorang kolega dosen di tempat dimana www.pipo-usd.com berafiliasi. Email tersebut merupakan forward dari email seorang alumni (yang mungkin juga hasil forwardan juga, so sumber asli tidak diketahui, apabila ada yang mengetahui mohon osengila diberitahu) berisi tentang kisah seorang rentenir dan putri petani. Demikian ceritanya:

Dahulu kala di suatu desa kecil di Indian, seorang petani yang sangat
miskin mempunyai hutang yang sangat besar kepada rentenir di desa tersebut.
Rentenir itu, udah tua, bangkotan, eee…. malah tertarik pada putrinya
pak tani yang cakep itu.

Kemudian si rentenir tersebut mengajukan penawaran, dia akan
melupakan hutang2 petani tersebut jika dia dapat menikahi putrinya. Sang
petani dan putrinya pun bingung dengan tawaran tersebut, kayaknya mereka
nggak setuju.

Melihat gelagat seperti itu Si rentenir mengajukan tawaran lagi
untuk membuat keputusan. Dia mengatakan, bahwa dia akan meletakkan
keping hitam dan keping putih di dalam kantong kosong, kemudian sang putri
petani diharuskan untuk mengambil satu keping dari kantong tersebut.

1. Jika sang putri mendapatkan keping hitam, maka dia akan menjadi istri
rentenir tersebut dan hutang2 petani tersebut lunas.
2. Jika sang putri mendapatkan keping putih, maka rentenir tersebut tidak
akan menikahi sang putri dan hutang2 petani tersebut lunas.
3. Jika sang putri menolak mengambil keping, sang petani akan dipenjara.
Berada di halaman petani yang banyak terdapat kepingan2, si rentenir
mengambil 2 keping. Ketika mengambil, mata sang putri yang tajam melihat,
bahwa keping yang dimasukkan ke dalam kantong keduanya berwarna hitam.
Kemudian rentenir itu menyuruh sang putri mengambil keping tersebut di
dalam kantong.

Sekarang bayangkan anda ada di sana, apa yang kamu lakukan jika anda
sebagai putri tersebut? Jika anda harus menolong sang putri, apa yang
harus kaulakukan kepada sang putri?

Melihat hal seperti itu, ada 3 kemungkinan. ..
1. sang putri menolak untuk mengambil kepingan.
2. sang putri menunjukkan, bahwa yang di dalam kantongtersebut keduanya
adalah berwarna hitam serta mengungkap, bahwa rentenir tersebut curang.3.
sang putri mengambil keping hitam dan mengorbankan dirinya untuk
menyelamatkan ayahnya dari hutang2 dan penjara.

Sekarang pertimbangkan cerita di atas. Pengalaman ini digunakan untuk
membedakan pemikiran logika dan lateral thinking. Dilema sang putri tidak
dapat diselesaikan dengan logika awam. Pikirkan cara lain, jika sang putri
tidak memilih pilihan yang diberikan kepadanya. Apa yang akan anda
tawarkan kepadanya ?

Jangan melihat jawaban di bawah ini, sebelum anda memikirkan cara
lainsebagai saran kepada sang putri, pikirkan 5 menit saja….

Baik, begini caranya.

Sang putri memasukkan tangannya ke dalam kantong dan mengambil satu keping
tersebut. Tanpa melihat keping tersebut, secara sengaja menjatuhkan
(setengah melempar) keping tersebut ke halaman dan bercampur dengan
keping2 yang lain di halaman.
‘Oh, betapa bodohnya aku’ kata sang putri, ‘tapi, anda nggak usah
khawatir, jika tuan melihat sisa kepingan di dalam kantong, maka tuan akan
mengetahui keping mana yang saya ambil’. Dengan begitu, sisa yang ada di
dalam kantong adalah keping berwarna hitam, sehingga diasumsikan bahwa
sang putri telah mengambil keping yang berwarna putih.
Sejak rentenir berani menyatakan untuk tidak jujur, sang putri mengubah
dari keadaan yang kelihatannya mustahil menjadikeadaan yang sangat
menguntungkan.

Moral of the story : Semua permasalahan yang kompleks mempunyai jalan
keluar. Yang anda butuhkan hanya melebarkan pemikiran anda. Jika logika
anda tidak bisa bekerja, berusahalah dengan lateral thinking.Lateral
thinking sangat kreatif, mudah dikerjakan tiap hari.

‘Rahasia untuk sukses, adalah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui
orang lain’…… .Lebih Baik Mulai Menyalakan Lilin daripada terus
menerus mengutuki kegelapan yang menyelubungi Kita…

Dan yang pasti teruslah berharap kepadaNya, krn kepadaNyalah jalan kita
dibukakan

Nah sesaat setelah membaca email tersebut, sel-sel kelabu di kepala ini bekerja nakal dan mencoba berperan menjadi rentenir yang cerdik (dan cenderung licik). Berikut lanjutan cerita yang muncul tiba-tiba di benak dosengila:

Saat sang putri menjatuhkan (dengan setengah melempar) kepingan tadi, maka
rentenir menyadari bahwa sang putri ini pintar.
Cantik dan pintar adalah
kombinasi yang berbahaya.
Maka sang rentenir terpaksa mengurungkan niat
untuk menikahi putri petani.

Dan … untuk menyelamatkan muka serta harta.
Rentenir mengambil kepingan yang lain serta menjatuhkan (dengan setengah
melempar) pula dan berkata, “Aduh, ini jatuh pula. Sekarang kita tidak
tahu kepingan warna apa yg yang kau ambil. Kita lupakan saja tawaran tadi.
Dan sebagai ganti telah menghabiskan waktu kalian. Bunga utang aku
hapuskan, jadi tinggal pokoknya saja. Dan jika bersedia, putrimu aku tawari
pekerjaan sebagai asisten yg membantu aku mengurusi utang-piutang
dengan gaji yg pantas.” Tawaran itu bagai setetes air di tengah samudera di gurun sahara. Putri petani bersedia supaya dapat mengangsur hutang ayahnya.

Rentenir yang benar-benar jatuh cinta kepada sang
putri dan menuruti nasehatnya dalam utang piutang. Dengan bantuan seorang wanita yang cantik dan pintar, usaha rentenir berubah menjadi usaha simpan pinjam yang memberdayakan masyarakat. Sang putri pun bahagia melihat perubahan sosok rentenir menjadi orang yang tua dan bijak. Karena sering bersama, benih-benih cinta pun tumbuh. Hingga suatu saat, ketika bekas rentenir melamar untuk kedua kali. Sang putri tidak ragu lagi untuk menjawab “iya”. And they live happily ever after ….

Moral of the story: Lha buaya dikadalin … tapi buaya ya tetap buaya dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan …. ho..ho..ho..

Udara Amsterdam semakin dingin, saatnya mina bantuan sesloki Amareto dan sebatang gudang garam untuk menghangatkan badan. Amareto Dissarono dan Gudang Garam, kombinasi yang ….

30 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | , , | 4 Komentar

Sepiring nasi lauk sayur tahu dan cerita tentang wajah jogja …

Enak sekali sayur tahu masakan Om Bambang. Tahu dan tempe untungnya bukan barang langka di Belanda, apalagi dibanding Australia dan Prancis.

Ya, kemarin Tante Ida dam Om Bambang mengundang kami, beberapa pelajar perantau di Amterdam dari Indonesia untuk syawalan di rumah mereka . Beliau berdua sudah lama tinggal di Belanda. Om Bambang sendiri sudah meninggalkan Indonesia sejak 1962 karena mendapat beasiswa untuk sekolah di Uni Sovyet. Kenapa tidak pulang? Melihat tahunnya dan tempat sekolahnya mungkin jawabannya sudah bisa ditebak.

Salah satu teman yang dinanti kedatangannya adalah Mas Lukman, dokter pekerja keras yang ringan tangan. Sayang, beliau telepon pamit tidak bisa datang karena ada pekerjaan di laboratorium yang tidak bisa ditinggalkan. Akhir-akhir ini memang beliau sering penelitian sampai jam 10 malam. Mas Lukman dinanti-nanti secara profil beliau muncul dalam peluncuran www.wajahjogja.com. Situs yang diluncurkan anak-anak CahAndong tangal 27 Oktober 2008 itu (sehari sebelum peluncuran www.pipo-usd.com), “bercerita tentang Jogja melalui tokoh-tokoh yang membuat kota ini lengkap”.

Acara makan-makan ditutup setelah cerita dari Om Bambang tentang pengalaman saat mahasiswa dahulu (dan setelah selesai membungkus makanan yang baru saja kuhabiskan ini .. lumayan tidak perlu masak hari ini … hi..hi..hi..hi.. Thanks Om Bambang dan Tante Ida …). Udara Amsterdam yang sudah mulai dingin membalut kulit kami ketika menempuh perjalan ke pondokan masing-masing. Kemarin.

Hari ini suhu terasa semakin rendah saja ….

29 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | , | 3 Komentar

Secarik kertas dan cerita tentang pembangunan situs …

PIPO-USD.COM

PIPO-USD.COM

Komunitas adalah kunci. Dan salah satu tugas seorang dosen (meskipun self proclaimed as dosengila) adalah pengabdian masyarakat.

Hari ini situs www.pipo-usd.com versi beta diluncurkan. Masih untuk komunitas terbatas tentunya. Bisa diakses dengan memasukkan username: cahandong dan password: jelata. Ya, dosengila jadi webmasternya setelah belajar Joomla! lewat internet dan buku yang dibeli di Gramedia summer holiday silam.

Setelah bereksperimen dengan meluncurkan dan mengelola www.molmod.org, dan melihat keinginan rekan-rekan apoteker untuk memberi pelayanan informasi obat serta kebutuhan masyarakat akan informasi tentang obat. Dosengila menawarkan kepada Pusat Informasi Penelitian Obat Universitas Sanata Dharma (PIPO)  untuk meluncurkan situs semacam company profile dengan menggabungkan layanan informasi obat dua arah lewat email, messenger dan forum sebagai layanan pro bono.

Gayung bersambut, usulan disetujui oleh Kepala PIPO dan situs diluncurkan dalam versi beta. Ya, versi beta karena personel yang terlibat dalam pengelolaan belum lengkap. Antara lain belum ada personel yang stand by untuk menjawab konsultasi online dan artikel yang dipublikasikan belum memadai dalam hal kuantitas, serta profil PIPO sendiri belum di-upload.

Postingan ini untuk memperkenalkan dua situs yang sekarang dikelola oleh dosengila yang orang baru di dunia web sekaligus mohon feedback untuk pengembangan lebih lanjut. Sekarang dosengila sedang belajar moodle untuk menyiapkan program penemuan obat berbasis komputer online. [Takashi castle mode: On]Doakan saya ya …. [Takashi castle mode: Off]

Terima kasih kepada Bang Romi, yang jadi inspirator sekaligus guru. Dan refer kepada Bang Romi, komunitas adalah kunci. Kepada rekan-rekan blogger maupun pembaca blog ini silakan berkunjung di situs tersebut berkontribusi dalam arus informasi yang semoga bermanfaat ini.

~pulang, cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, gosok gigi, bobok … capek setelah menulis dengan gaya sok serius … he..he..he..

28 Oktober 2008 Posted by | New idea ... | , , | 2 Komentar

“Metode Penelitian” dalam Cinta

Sedikit renungan dari hasil penelitian mendalam dangkal tentang aplikasi “metode penelitian” dalam meraih cita cinta.

https://i1.wp.com/www.autograph-math.com/images/Valentine.png

Seringkali ketika orang jatuh cinta maka yang digunakan adalah “rasa” dan kadang “menjadi bodoh”. Hal ini, dibahas cukup tuntas oleh National Geography edisi Indonesia bulan Februari 2006. Pertanyaan yang timbul berikutnya adalah: ketika kita jatuh cinta, mampukah menggunakan sedikit rasio dan “pengamatan empirik” dalam mendapatkan cinta seseorang yang kepadanya, kita “jatuhi cinta”?

Jika jawabannya: mampu, maka langkah yang disarankan berikutnya adalah seperti tahapan-tahapan metode penelitian: dedukto-hipotetiko-verifikatif.

I. Perumusan masalah dalam hal ini adalah sebagai berikut: Apakah dia mau jadi kekasihmu? Lanjutkan dengan sedikit percobaan pendahuluan dan studi literatur. Yang harus bisa dijawab adalah: kesukaan dia, referensi mantan pacar dan mengapa putus, dan sedikit percobaan seperti jalan sebentar, ngajak ngobrol sebentar dll. Tahap ini paling penting dan disarankan cukup lama dan mendalam. Hanya saja, berkenalan saja “sulit” dan sudah menjadi masalah, bagaimana mau “percobaan pendahuluan dan studi literatur”.

II. Berdasarkan langkah pertama tarik hipotesis dari perumusan masalah: “Apakah dia mau jadi kekasihmu?” Menurut petunjuk dari seseorang yang aku lupa namanya jika hipotesisnya adalah “tidak” maka dia “mungkin” jadi kekasihmu, jika “mungkin” maka dia “akan” jadi kekasihmu, jika “ya” maka dia “pasti” jadi kekasihmu. Positive thinking will help!

III. Verifikasi! Ini adalah langkah penting dan butuh keberanian. Apa artinya tahap 1 dan 2 kalau tidak punya nyali disini? Seperti halnya penelitian, verifikasi butuh keberanian untuk menerima hasil verifikasi dan kejujuran untuk mengungkapkannya baik bagi diri sendiri maupun publik. Caranya: Tanyakan aja dan mintalah dia untuk menjadi kekasih dengan tahapan “bertanya dan meminta” sesuai strategi yang disusun berdasarkan analisis pada tahap pertama!

Namun jika ini dianggap tidak masuk akal, berarti betul pernyataan bahwa orang jatuh cinta akan “menjadi bodoh”.

Kopi paste dengan sangat sedikit sekali polesan dari sini atas seijin yang punya blog.

25 Oktober 2008 Posted by | New idea ... | , , , | 11 Komentar

Secangkir teh tawar yang sudah dingin

Ayah dan anak yang aneh .... bangun tidur langsung nongkrongin internet ...

Teh sudah dingin karena ditinggal chatting dan melihat email-email provokatif selama dua minggu ini. Aku lelah sudah. Saatnya untuk beralih dan benar-benar beralih. Mengutip salah satu kutipan di Best Geek Quotes Ever: “I’m not anti social, I’m just not user friendly” (yang juga dipakai rekan Sandal di signature emailnya.). Mungkin itu benar adanya bagiku. Mungkin butuh banyak kontak dengan manusia untuk detoksifikasi, terlalu lama kontak dengan komputer ternyata toksik juga. Paracelcus memang benar, “Everything is poison, nothing is poison. It is the dose that makes a poison

25 Oktober 2008 Posted by | New idea ..., Secangkir ... | , , | 2 Komentar

Sebatang garfilt dan terlalu banyak cerita ….

Banyak yang bisa diceritakan, tapi tidak ada yang diceritakan. Minggu ini diisi dengan perpisahan. Beberapa teman sudah menyelesaikan studinya, dan meneruskan “perjalanan” di tempat lain.

Eh iya, ketemu Emha hari Sabtu lalu saat makan di restaurant Cina di Nieuw Markt. Di Yogya tidak pernah ketemu… eh malah ketemunya di Amsterdam.

mejeng bareng Emha

22 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | | Tinggalkan komentar

Secangkir sokelat dingin di KRI SULTAN ISKANDAR MUDA

Bagi yang pernah membaca postingan ini, pasti melihat foto anak kecil imut lucu dengan nama panggilan Awan. Sekarang berusia 6 bulan 9 hari. Nama lengkapnya adalah Kurniawan Respati Istyastono, jika disingkat menjadi KRI. Bukan koq.. bukan … Postingan ini bukan tentang Awan melainkan tentang KRI yang lain yaitu KRI Sultan Iskandar Muda, kapal perang jenis korvet kelas Sigma (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang segera memperkuat armada laut negeri tercinta Indonesia. Baiklah… baiklah tidak akan saya bahas panjang lebar tentang hal-hal teknis terkait KRI Sultan Iskandar Muda karena bisa di lihat di sini dan berita-berita terkait lainnya di portal yang sama.

Masih ingat tulisan ini? Tulisan tentang bendera pertama kali di blog ini. Beliau-beliau yang berdiri di foto dalam postingan tersebut lah salah empat dari beberapa perwira yang bertanggung jawab terhadap operasional KRI Sultan Iskandar Muda. Mereka terdiri dari tiga perwira pelaut dan satu perwira bertanggung jawab di logistik. Foto tersebut diambil saat mereka berkunjung ke Amsterdam sekitar 3 bulan yang lalu.

Ster = Star = Bintang

Hari ini kami berkumpul lagi untuk memenuhi undangan makan siang di kapal dalam rangka perpisahan. Minggu depan kapal akan bertolak ke Indonesia. Acara diawali dengan penerimaan di statiun kereta Vlissingen, dilanjutkan jalan kaki di pinggir pantai menuju kapal. Di geladak kapal kami disambut oleh bendera merah putih yang bekibar di atmosfer Belanda. Badan otomatis membentuk sikap siap sempurna (meskipun kesulitan karena ukuran tubuh sudah sesuai untuk mempelajari kungfu panda), tangan kami langsung hormat pada bendera.

Acara dilanjutkan makan siang dan tour keliling kapal. Diteruskan dengan nongkrong di buritan sambil nostalgia menyanyikan lagu jaman SMA dulu. Mars, hymne, hymne alumni mengalun dengan berbagai debat karena ada beberapa lirik yang senantiasa berganti setiap angkatannya. Ketika matahari sudah bosan dengan wajah kami hari ini, kami kembali berpisah di station tempat kami bertemu pagi tadi. Sikap siap sempurna dan hormat tangan perpisahan terjadi menggariskan tanya, “Kapan bertemu kembali?”. Selamat jalan para pengawal bahari Nusantara. Semoga Tuhan memberkati sumpah dan janjimu!

12 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | , , | 1 Komentar

Secangkir teh dan kisah legenda pogung …

Bagi orang Djogja yang didalamnya ada gerombolan anak-anak CA, dusun-dusun Pogung yang terletak di utara dan barat Fakultas Teknik UGM mungkin tidak asing. Nah dibawah ini kisah legenda Pogung, seperti dituturkan seorang Seta di warung Mie Ayam samping Fakultas Farmasi UGM.

Saat itu belum ada Keraton Mataram di Ngajogdjakarta Hadiningrat ini, hanya sebuah kerajaan kecil di dekat pantai selatan Djogdja yang berpusat di tepi muara sungai Code. Sejak dulu sungai tersebut sudah bernama “Code”, sedangkan kerajaannya menamakan dirinya kerajaan “Laut Kidul” yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi “Laut Selatan”. Kerajaan tersebut diperintah oleh seorang raja yang sangat menggemari gamelan. Dia bersahabat dengan seorang ahli gamelan yang fasih memainkan ketipung dan gong serta pandai bercerita menggunakan tembang-tembang Jawa. Mereka sahabat sejak kecil, dan saat sang Pangeran Kecil diangkat menjadi raja, si ahli gamelan yang waktu itu juga beranjak dewasa diangkat menjadi punggawa kerajaan dengan gelar “Ki Dalang”. Gelar tersebut diberikan karena talentanya membuat sebuah cerita biasa menjadi luar biasa dan memainkan emosi pendengarnya, apalagi sering dibarengi dengan kemampuannya mengolah perasaan pendengar dengan permainan ketipung dan gong. Ki Dalang sangat dicintai warga kerajaan.”

Iustrasi Putri Campa di laut selatan

Seta berhenti sejenak untuk menikmati coklat yang mulai dingin. “Hingga suatu saat ada sebuah kapal berbendera Ular Naga, syahdan dari Negara Campa, merapat di tepi pantai Kerajaan Laut Kidul. Karena keterbatasan bahasa, mereka hanya berkomunikasi lewat bahasa tarzan. Saat itu dilakukan perdagangan dengan cara yang unik, hasil bumi dari Kerajaan Laut Kidul ditukar dengan keramik dan gerabah yang menawan. Mereka bersandar hanya kurang dari seumur jagung dan berlayar lagi entah kemana. Hanya tinggal seorang tabib beserta seorang putrinya yang cantik jelita. Si tabib ini ingin mempelajari kearifan lokal Kerajaan Laut Kidul dalam mengobati penyakit yang diderita. Seiring perjalanan waktu, kemolekan putri campa melampaui indahnya cahaya rembulan, Sang Raja dan Ki Dalang jatuh cinta pada putri tersebut. Cinta adalah bahasa tanpa kata dan sejak saat itu Ki Dalang selalu memainkan dan menggubah lagu cinta yang saat ini dikenal sebagai Asmarandana. Karena setia terhadap persahabatan, Ki Dalang memilih untuk memendam perasaannya.

Waktu bergulir dan Sang Raja ingin menyatakan cinta pada si Putri Campa, namun aturan kerajaan melarang dia menikah dengan orang asing, sementara cinta Ki Dalang semakin menjadi-jadi. Adalah suatu dilema bagi Ki Dalang untuk mencintai seseorang yang dicintai sahabatnya. Suatu saat, Sang Raja minta bantuan kepada Ki Dalang untuk menggubah lagu untuk si Putri Campa, dan cinta Sang Raja tidak bertepuk sebelah tangan. Pada kesempatan itu pula akhirnya terbukalah cinta terlarang ini kepada rakyat Kerajaan Laut Kidul. Rakyat dan segenap prajurit murka dan menuduh si Tabib dan Putri Campa telah meneluh Sang Raja. Dengan beringas mereka membunuh si Tabib dan mengusir Putri Campa. Sang Raja dengan berat hati untuk menghindari amuk massa mengabulkan permintaan rakyat untuk mengusir Putri Campa. Dia meminta tolong Ki Dalang untuk ‘mengamankan” Putri Campa dengan menemani kepergian si Putri Campa. Ki Dalang dengan restu Sang Raja membawa Putri Campa ke arah gunung Merapi dan dia meminta izin untuk membawa ketipung dan gong kesayangannya.

Karena begitu berat penderitaan Sang Raja kehilangan sahabat dan kekasih yang sangat dicintainya, Sang Raja jatuh sakit dan tidak bisa pulih seperti sedia kala. Rakyat juga berduka dan rakyat akhirnya menyadari kesalahannya. Dua tahun telah berlalu, dan Sang Raja sudah sangat kritis, hanya bisa mengigau menyebutkan nama si Putri Campa, Ki Dalang, Ketipung, Gong dan Utara. Lalu rakyat dengan swadaya membentuk pasukan pencari kemana si Putri Campa pergi supaya bisa mempertemukan dengan Sang Raja. Berdasar igauan Sang Raja, pasukan tersebut bergerak ke arah utara. Pasukan yang mengikuti aliran sungai Code tiba di sebuah hutan lebat dan sayup-sayup mendengar suara ‘Pong-Gung’ berulang-ulang seperti suara ketipung dan gong yang dipukul bergantian. Mereka mencari sumber bunyi tersebut dan mendapati seorang wanita yang sangat cantik sedang menyuapi anak kecil yang baru berjalan berjalan. Dan tidak jauh dari tempat itu mereka mendapati Ki Dalang sedang memukul gong dan ketipung bergantian sembari menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Kepala pasukan kemudian menghadap Ki Dalang dan memohon untuk sudi mengizinkan Putri Campa yang sekarang menjadi istri Ki Dalang menemui Sang raja yang sudah sakit keras.

Lalu Ki Dalang, Putri Campa dan anak mereka diringi oleh pasukan pencari kembali ke Kerajaan Laut Kidul dan menemui Sang Raja. Setelah bersua dengan Sang Raja, Putri Campa menggamit tangan Sang Raja dan Sang Raja dengan sangat lemah membuka matanya. Senyum Sang Raja kemudian menghiasi raut mukanya ketika melihat Putri Campa disisinya. Ketika Sang Raja memandang ke sekeliling dia mendapati Ki Dalang sedang menggendong anak kecil dengan raut wajah sangat mirip dengan Putri Campa. Seketika senyumnya hilang dan menatap tajam ke mata Putri Campa. Namun Putri Campa dengan lembut membalas tatapan tersebut dihiasi dengan senyum tipis yang memang tidak pernah hilang dari wajahnya. Tatapan Putri Campa seperti isyarat yang mengatakan, “Kanda, bahagiakah Kanda melihat aku bahagia.”. Kemudian Sang Raja terdiam sesaat dan seperti mengerti arti isyarat dalam tatap mata itu, Sang Raja menjawab, “Ya, Kanda bahagia melihat engkau bahagia”. Dalam hati Sang Raja ada tambahannya, “Dan aku akan lebih bahagia andai kau bahagia karena aku dan bersama-sama dengan aku.” Lalu Sang Raja memandang kesekeliling sekali lagi dan menutup mata selama-lamanya.

Melihat hal itu sebagian besar rakyat sedih dan murka dan sebagian lagi bisa menyadari kesalahan mereka dahulu yang menghalangi cinta antara dua insan. Rakyat yang marah lalu membuat kerusuhan dan ingin membunuh Putri Campa. Sang Putri Campa yang sedang sedih melarikan diri ke laut dan ditelan ombak yang kemudian mengganas menyapu semua orang yang mengejar berusaha membunuhnya. Ombak tersebut bergulung-gulung membabat habis Kerajaan Laut Kidul dan hanya sedikit yang tersisa dan selamat secara ajaib. Salah satunya adalah Ki Dalang dan anaknya. Ki Dalang sangat sedih nestapa melihat kejadian ini. Dalam waktu sekejap dia kehilangan hampir semua miliknya. Hanya tersisa anak mungil yang merupakan buah cintanya dengan Putri Campa, dan sepasang Ketipung dan Gong. Namun dia sadar, bahwa dia tidak boleh larut dalam kesedihan, karena dia tahu bahwa Putri Campa akan bersedih melihat dia menderita. Dia harus bangkit untuk masa depan yang lebih baik.

Ki Dalang pun mengajak semua orang yang tersisa ke tempat dimana dia dan Putri Campa memadu cinta setelah diusir dua tahun silam. Di tempat itu masih tersisa perkakas dan perlengkapan untuk bertahan dan membangun kehidupan. Sesampainya di tempat itu mereka bahu-membahu membangun sebuah desa. Sejak matahari terbit mereka bergotong-royong sementara Ki Dalang bermeditasi sambil memukul ketipung dan gong secara bergantian. Mereka bekerja dengan semangat diiring suara ‘Pong-Gung’ yang berulang-ulang. Di malam hari mereka beristirahat sambil bersenda gurau ditemani oleh hiburan cerita-cerita lucu yang disampaikan Ki Dalang. Hingga pada hari yang ke-40, telah berdiri sebuah desa sederhana seluas suara ‘Pong-Gung’ berkumandang. Mereka menamai desa tersebut desa “Pogung” berasal dari suara Pong-Gung’ yang berulang-ulang yang mempertahankan semangat saat mereka membangun desa. Kemudian untuk mempermudah pengelolaan desa baru tersebut, Ki Dalang membagi desa tersebut menjadi empat dusun dan mereka sepakat memberi dusun nama tempat tinggal Ki Dalang: Pogung Dalangan, berasal dari kata Dalang. Kemudian dusun di tepi Kali Code, daerah paling subur dengan nama Pogung Rejo. Rejo merupakan bahasa Jawa dari kata makmur. Dusun di sebelah selatan Pogung Dalangan diberi nama Pogung Kidul berasal dari kata Kidul yang artinya selatan, sedangkan dusun di sebelah utara diberi nama Pogung Lor, berasal dari kata Lor atau utara dalam bahasa Jawa. Setelah pemberian nama disepakati, mereka berpuasa prihatin selama tujuh hari tujuh malam. Dan pada hari ketujuh mereka melihat keajaiban: Sang Raja dan Putri Campa bergandengan tangan menampakkan diri sambil bernubuat, ‘Nek ono rejaning jaman, panggonan iki bakal dadi papan kanggo wong kang ngangsu kawruh. Saka bangsamu dewe lan saka bangsa manca,’ yang artinya kurang lebih demikian, ‘Kalau zaman sudah makmur, tempat ini bakal menjadi tempat orang yang datang untuk belajar. Baik dari bangsa sendiri maupun dari bangsa lain’.

Begitulah kisah legenda Pogung.

Ilustrasi Putri Campa di laut selatan diambil dari sini. Terima kasih untuk Lexsi di Jakarta Barat.

11 Oktober 2008 Posted by | New idea ..., Secangkir ... | , , , | 11 Komentar

Secangkir teh panas dan cerita tentang lampu merah …

Baiklah-baiklah, sembari menunggu air panas mendidih untuk membuat secangkir teh di pagi hari yang semakin dingin ini, akan kuceritakan secara singkat tentang daerah lampu merah atau red light district (lebih enak disingkat RLD, bisa juga pakai kode forbidden kingdom-nya Mas Iman) yang sangat terkenal itu. Postingan ini sekaligus untuk memenuhi hasrat Goen, Mas Alya, Bung Peter, dan rekan-rekan lain dari gerombolan cahandong (Waktu aku datang juminten-an, sepertinya ada yang malu-malu mau tanya. Haish, pakai malu-malu segala! he..he..he..).

Begitu mendarat di bandara international Schiphol, RLD bisa dicapai dengan naik kereta menuju Station Amsterdam Centraal. Setelah itu keluar ke arah kota mengikuti arus orang yang ada, ke Damrak. Pemandangan begitu keluar station cukup menarik (apalagi kalau cuaca cerah). Sembari menyusuri jalan bisa cuci mata, di sebelah kanan di deretan pertokoan, dapat ditemukan Museum S*x, di sebelah kiri tak kalah menjanjikan, adalah kanal yang menawarkan boat trip keliling Amsterdam (Bayangkan: berdua saja dengan orang yang dicintai, minum wine segelas dua botol, lalu sedikit mabuk merayu, “Would you like to ….. with me?” Silakan titik-titik diisi sendiri). Untuk menuju RLD, diujung kalan ada gang ke kiri. Masuk gang tersebut dan ikuti arus manusia. Kalau di sebelah kanan ada S*x Shop yang diatas pintunya seperti foto berikut, maka anda berada di jalur yang benar.

Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos

Silakan di-google arti kata “Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos”, niscaya anda akan semakin kagum dengan RLD. Lalu setelah berkeliling-keliling dengan deretan penjaja yang mejeng di etalase di kanan kiri sepanjang RLD, maka akan anda temukan sebuah gereja yang masih aktif (di Belanda banyak gereja yang sudah tidak aktif). Di sekeliling gereja juga merupakan tempat mejeng, bahkan terkenal dekat dengan salah satu gang (sangat sempit) yang dihuni oleh penjaja yang cantik-cantik. Persis di samping gereja akan ditemukan salah satu coffee shop (di Belanda, coffee shop menyediakan ganja dan produk turunannya secara legal, kalau coffe shop “biasa” maka dijuluki “cafe”).

diantara gereja, RLD dan coffe shop

Dari foto diatas (sayang kurang jelas, hujan rintik-rintik), gereja ada di sebelah kanan, gang menuju kawasan “cantik” dibelakangku (ada lengkungan lampu warna merah) dan coffee shop ada di sebelah kiri (ada lampu warna-warni).

Setelah mengitari gereja, kita kan kembali ke jalan yang sama, maka disarankan menyusuri sisi jalan yang berbeda, dan kita kembali ke “jalan yang benar” (maksudnya ke Damrak), setelah mendapati ada toko kondom lucu-lucu di sebelah kiri anda.

www.condomerie.com

4 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 9 Komentar