Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Sepiring nasi lauk sayur tahu dan cerita tentang wajah jogja …

Enak sekali sayur tahu masakan Om Bambang. Tahu dan tempe untungnya bukan barang langka di Belanda, apalagi dibanding Australia dan Prancis.

Ya, kemarin Tante Ida dam Om Bambang mengundang kami, beberapa pelajar perantau di Amterdam dari Indonesia untuk syawalan di rumah mereka . Beliau berdua sudah lama tinggal di Belanda. Om Bambang sendiri sudah meninggalkan Indonesia sejak 1962 karena mendapat beasiswa untuk sekolah di Uni Sovyet. Kenapa tidak pulang? Melihat tahunnya dan tempat sekolahnya mungkin jawabannya sudah bisa ditebak.

Salah satu teman yang dinanti kedatangannya adalah Mas Lukman, dokter pekerja keras yang ringan tangan. Sayang, beliau telepon pamit tidak bisa datang karena ada pekerjaan di laboratorium yang tidak bisa ditinggalkan. Akhir-akhir ini memang beliau sering penelitian sampai jam 10 malam. Mas Lukman dinanti-nanti secara profil beliau muncul dalam peluncuran www.wajahjogja.com. Situs yang diluncurkan anak-anak CahAndong tangal 27 Oktober 2008 itu (sehari sebelum peluncuran www.pipo-usd.com), “bercerita tentang Jogja melalui tokoh-tokoh yang membuat kota ini lengkap”.

Acara makan-makan ditutup setelah cerita dari Om Bambang tentang pengalaman saat mahasiswa dahulu (dan setelah selesai membungkus makanan yang baru saja kuhabiskan ini .. lumayan tidak perlu masak hari ini … hi..hi..hi..hi.. Thanks Om Bambang dan Tante Ida …). Udara Amsterdam yang sudah mulai dingin membalut kulit kami ketika menempuh perjalan ke pondokan masing-masing. Kemarin.

Hari ini suhu terasa semakin rendah saja ….

Iklan

29 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | , | 3 Komentar

Secangkir teh dan kisah legenda pogung …

Bagi orang Djogja yang didalamnya ada gerombolan anak-anak CA, dusun-dusun Pogung yang terletak di utara dan barat Fakultas Teknik UGM mungkin tidak asing. Nah dibawah ini kisah legenda Pogung, seperti dituturkan seorang Seta di warung Mie Ayam samping Fakultas Farmasi UGM.

Saat itu belum ada Keraton Mataram di Ngajogdjakarta Hadiningrat ini, hanya sebuah kerajaan kecil di dekat pantai selatan Djogdja yang berpusat di tepi muara sungai Code. Sejak dulu sungai tersebut sudah bernama “Code”, sedangkan kerajaannya menamakan dirinya kerajaan “Laut Kidul” yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi “Laut Selatan”. Kerajaan tersebut diperintah oleh seorang raja yang sangat menggemari gamelan. Dia bersahabat dengan seorang ahli gamelan yang fasih memainkan ketipung dan gong serta pandai bercerita menggunakan tembang-tembang Jawa. Mereka sahabat sejak kecil, dan saat sang Pangeran Kecil diangkat menjadi raja, si ahli gamelan yang waktu itu juga beranjak dewasa diangkat menjadi punggawa kerajaan dengan gelar “Ki Dalang”. Gelar tersebut diberikan karena talentanya membuat sebuah cerita biasa menjadi luar biasa dan memainkan emosi pendengarnya, apalagi sering dibarengi dengan kemampuannya mengolah perasaan pendengar dengan permainan ketipung dan gong. Ki Dalang sangat dicintai warga kerajaan.”

Iustrasi Putri Campa di laut selatan

Seta berhenti sejenak untuk menikmati coklat yang mulai dingin. “Hingga suatu saat ada sebuah kapal berbendera Ular Naga, syahdan dari Negara Campa, merapat di tepi pantai Kerajaan Laut Kidul. Karena keterbatasan bahasa, mereka hanya berkomunikasi lewat bahasa tarzan. Saat itu dilakukan perdagangan dengan cara yang unik, hasil bumi dari Kerajaan Laut Kidul ditukar dengan keramik dan gerabah yang menawan. Mereka bersandar hanya kurang dari seumur jagung dan berlayar lagi entah kemana. Hanya tinggal seorang tabib beserta seorang putrinya yang cantik jelita. Si tabib ini ingin mempelajari kearifan lokal Kerajaan Laut Kidul dalam mengobati penyakit yang diderita. Seiring perjalanan waktu, kemolekan putri campa melampaui indahnya cahaya rembulan, Sang Raja dan Ki Dalang jatuh cinta pada putri tersebut. Cinta adalah bahasa tanpa kata dan sejak saat itu Ki Dalang selalu memainkan dan menggubah lagu cinta yang saat ini dikenal sebagai Asmarandana. Karena setia terhadap persahabatan, Ki Dalang memilih untuk memendam perasaannya.

Waktu bergulir dan Sang Raja ingin menyatakan cinta pada si Putri Campa, namun aturan kerajaan melarang dia menikah dengan orang asing, sementara cinta Ki Dalang semakin menjadi-jadi. Adalah suatu dilema bagi Ki Dalang untuk mencintai seseorang yang dicintai sahabatnya. Suatu saat, Sang Raja minta bantuan kepada Ki Dalang untuk menggubah lagu untuk si Putri Campa, dan cinta Sang Raja tidak bertepuk sebelah tangan. Pada kesempatan itu pula akhirnya terbukalah cinta terlarang ini kepada rakyat Kerajaan Laut Kidul. Rakyat dan segenap prajurit murka dan menuduh si Tabib dan Putri Campa telah meneluh Sang Raja. Dengan beringas mereka membunuh si Tabib dan mengusir Putri Campa. Sang Raja dengan berat hati untuk menghindari amuk massa mengabulkan permintaan rakyat untuk mengusir Putri Campa. Dia meminta tolong Ki Dalang untuk ‘mengamankan” Putri Campa dengan menemani kepergian si Putri Campa. Ki Dalang dengan restu Sang Raja membawa Putri Campa ke arah gunung Merapi dan dia meminta izin untuk membawa ketipung dan gong kesayangannya.

Karena begitu berat penderitaan Sang Raja kehilangan sahabat dan kekasih yang sangat dicintainya, Sang Raja jatuh sakit dan tidak bisa pulih seperti sedia kala. Rakyat juga berduka dan rakyat akhirnya menyadari kesalahannya. Dua tahun telah berlalu, dan Sang Raja sudah sangat kritis, hanya bisa mengigau menyebutkan nama si Putri Campa, Ki Dalang, Ketipung, Gong dan Utara. Lalu rakyat dengan swadaya membentuk pasukan pencari kemana si Putri Campa pergi supaya bisa mempertemukan dengan Sang Raja. Berdasar igauan Sang Raja, pasukan tersebut bergerak ke arah utara. Pasukan yang mengikuti aliran sungai Code tiba di sebuah hutan lebat dan sayup-sayup mendengar suara ‘Pong-Gung’ berulang-ulang seperti suara ketipung dan gong yang dipukul bergantian. Mereka mencari sumber bunyi tersebut dan mendapati seorang wanita yang sangat cantik sedang menyuapi anak kecil yang baru berjalan berjalan. Dan tidak jauh dari tempat itu mereka mendapati Ki Dalang sedang memukul gong dan ketipung bergantian sembari menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Kepala pasukan kemudian menghadap Ki Dalang dan memohon untuk sudi mengizinkan Putri Campa yang sekarang menjadi istri Ki Dalang menemui Sang raja yang sudah sakit keras.

Lalu Ki Dalang, Putri Campa dan anak mereka diringi oleh pasukan pencari kembali ke Kerajaan Laut Kidul dan menemui Sang Raja. Setelah bersua dengan Sang Raja, Putri Campa menggamit tangan Sang Raja dan Sang Raja dengan sangat lemah membuka matanya. Senyum Sang Raja kemudian menghiasi raut mukanya ketika melihat Putri Campa disisinya. Ketika Sang Raja memandang ke sekeliling dia mendapati Ki Dalang sedang menggendong anak kecil dengan raut wajah sangat mirip dengan Putri Campa. Seketika senyumnya hilang dan menatap tajam ke mata Putri Campa. Namun Putri Campa dengan lembut membalas tatapan tersebut dihiasi dengan senyum tipis yang memang tidak pernah hilang dari wajahnya. Tatapan Putri Campa seperti isyarat yang mengatakan, “Kanda, bahagiakah Kanda melihat aku bahagia.”. Kemudian Sang Raja terdiam sesaat dan seperti mengerti arti isyarat dalam tatap mata itu, Sang Raja menjawab, “Ya, Kanda bahagia melihat engkau bahagia”. Dalam hati Sang Raja ada tambahannya, “Dan aku akan lebih bahagia andai kau bahagia karena aku dan bersama-sama dengan aku.” Lalu Sang Raja memandang kesekeliling sekali lagi dan menutup mata selama-lamanya.

Melihat hal itu sebagian besar rakyat sedih dan murka dan sebagian lagi bisa menyadari kesalahan mereka dahulu yang menghalangi cinta antara dua insan. Rakyat yang marah lalu membuat kerusuhan dan ingin membunuh Putri Campa. Sang Putri Campa yang sedang sedih melarikan diri ke laut dan ditelan ombak yang kemudian mengganas menyapu semua orang yang mengejar berusaha membunuhnya. Ombak tersebut bergulung-gulung membabat habis Kerajaan Laut Kidul dan hanya sedikit yang tersisa dan selamat secara ajaib. Salah satunya adalah Ki Dalang dan anaknya. Ki Dalang sangat sedih nestapa melihat kejadian ini. Dalam waktu sekejap dia kehilangan hampir semua miliknya. Hanya tersisa anak mungil yang merupakan buah cintanya dengan Putri Campa, dan sepasang Ketipung dan Gong. Namun dia sadar, bahwa dia tidak boleh larut dalam kesedihan, karena dia tahu bahwa Putri Campa akan bersedih melihat dia menderita. Dia harus bangkit untuk masa depan yang lebih baik.

Ki Dalang pun mengajak semua orang yang tersisa ke tempat dimana dia dan Putri Campa memadu cinta setelah diusir dua tahun silam. Di tempat itu masih tersisa perkakas dan perlengkapan untuk bertahan dan membangun kehidupan. Sesampainya di tempat itu mereka bahu-membahu membangun sebuah desa. Sejak matahari terbit mereka bergotong-royong sementara Ki Dalang bermeditasi sambil memukul ketipung dan gong secara bergantian. Mereka bekerja dengan semangat diiring suara ‘Pong-Gung’ yang berulang-ulang. Di malam hari mereka beristirahat sambil bersenda gurau ditemani oleh hiburan cerita-cerita lucu yang disampaikan Ki Dalang. Hingga pada hari yang ke-40, telah berdiri sebuah desa sederhana seluas suara ‘Pong-Gung’ berkumandang. Mereka menamai desa tersebut desa “Pogung” berasal dari suara Pong-Gung’ yang berulang-ulang yang mempertahankan semangat saat mereka membangun desa. Kemudian untuk mempermudah pengelolaan desa baru tersebut, Ki Dalang membagi desa tersebut menjadi empat dusun dan mereka sepakat memberi dusun nama tempat tinggal Ki Dalang: Pogung Dalangan, berasal dari kata Dalang. Kemudian dusun di tepi Kali Code, daerah paling subur dengan nama Pogung Rejo. Rejo merupakan bahasa Jawa dari kata makmur. Dusun di sebelah selatan Pogung Dalangan diberi nama Pogung Kidul berasal dari kata Kidul yang artinya selatan, sedangkan dusun di sebelah utara diberi nama Pogung Lor, berasal dari kata Lor atau utara dalam bahasa Jawa. Setelah pemberian nama disepakati, mereka berpuasa prihatin selama tujuh hari tujuh malam. Dan pada hari ketujuh mereka melihat keajaiban: Sang Raja dan Putri Campa bergandengan tangan menampakkan diri sambil bernubuat, ‘Nek ono rejaning jaman, panggonan iki bakal dadi papan kanggo wong kang ngangsu kawruh. Saka bangsamu dewe lan saka bangsa manca,’ yang artinya kurang lebih demikian, ‘Kalau zaman sudah makmur, tempat ini bakal menjadi tempat orang yang datang untuk belajar. Baik dari bangsa sendiri maupun dari bangsa lain’.

Begitulah kisah legenda Pogung.

Ilustrasi Putri Campa di laut selatan diambil dari sini. Terima kasih untuk Lexsi di Jakarta Barat.

11 Oktober 2008 Posted by | New idea ..., Secangkir ... | , , , | 11 Komentar

Secangkir teh panas dan cerita tentang lampu merah …

Baiklah-baiklah, sembari menunggu air panas mendidih untuk membuat secangkir teh di pagi hari yang semakin dingin ini, akan kuceritakan secara singkat tentang daerah lampu merah atau red light district (lebih enak disingkat RLD, bisa juga pakai kode forbidden kingdom-nya Mas Iman) yang sangat terkenal itu. Postingan ini sekaligus untuk memenuhi hasrat Goen, Mas Alya, Bung Peter, dan rekan-rekan lain dari gerombolan cahandong (Waktu aku datang juminten-an, sepertinya ada yang malu-malu mau tanya. Haish, pakai malu-malu segala! he..he..he..).

Begitu mendarat di bandara international Schiphol, RLD bisa dicapai dengan naik kereta menuju Station Amsterdam Centraal. Setelah itu keluar ke arah kota mengikuti arus orang yang ada, ke Damrak. Pemandangan begitu keluar station cukup menarik (apalagi kalau cuaca cerah). Sembari menyusuri jalan bisa cuci mata, di sebelah kanan di deretan pertokoan, dapat ditemukan Museum S*x, di sebelah kiri tak kalah menjanjikan, adalah kanal yang menawarkan boat trip keliling Amsterdam (Bayangkan: berdua saja dengan orang yang dicintai, minum wine segelas dua botol, lalu sedikit mabuk merayu, “Would you like to ….. with me?” Silakan titik-titik diisi sendiri). Untuk menuju RLD, diujung kalan ada gang ke kiri. Masuk gang tersebut dan ikuti arus manusia. Kalau di sebelah kanan ada S*x Shop yang diatas pintunya seperti foto berikut, maka anda berada di jalur yang benar.

Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos

Silakan di-google arti kata “Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos”, niscaya anda akan semakin kagum dengan RLD. Lalu setelah berkeliling-keliling dengan deretan penjaja yang mejeng di etalase di kanan kiri sepanjang RLD, maka akan anda temukan sebuah gereja yang masih aktif (di Belanda banyak gereja yang sudah tidak aktif). Di sekeliling gereja juga merupakan tempat mejeng, bahkan terkenal dekat dengan salah satu gang (sangat sempit) yang dihuni oleh penjaja yang cantik-cantik. Persis di samping gereja akan ditemukan salah satu coffee shop (di Belanda, coffee shop menyediakan ganja dan produk turunannya secara legal, kalau coffe shop “biasa” maka dijuluki “cafe”).

diantara gereja, RLD dan coffe shop

Dari foto diatas (sayang kurang jelas, hujan rintik-rintik), gereja ada di sebelah kanan, gang menuju kawasan “cantik” dibelakangku (ada lengkungan lampu warna merah) dan coffee shop ada di sebelah kiri (ada lampu warna-warni).

Setelah mengitari gereja, kita kan kembali ke jalan yang sama, maka disarankan menyusuri sisi jalan yang berbeda, dan kita kembali ke “jalan yang benar” (maksudnya ke Damrak), setelah mendapati ada toko kondom lucu-lucu di sebelah kiri anda.

www.condomerie.com

4 Oktober 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 9 Komentar

Secangkir kopi pahit dan kisah 10 kota dalam 60 jam.

Secangkir kopi sudah siap. Belum beli gula, jadi tersisa kopi kental saja dan pahit. Biasanya malas minum kopi, namun hari ini istimewa: belum beli teh dan gula. Maklum week end pertama setelah merapat lagi ke Amsterdam, kota dengan segala tawaran dan godaan. Masih capek dan jiwa ini serasa masih dalam mimpi menyusuri jalan-jalan Yogyakarta. Menyapa titik nol km, tempat cahandong jumintenan. Hanya saja udara dingin yang sinergi dengan libasan angin membuat tersadar bahwa ini Amsterdam, bukan Jogjaku yang kucinta.

Masuk angin komplikasi diare akibat mampir di 10 kota di dua benua yang berbeda sudah berangsur membaik. Sepuluh kota? Iya sepuluh kota. Bukan hal yang patut dibanggakan, hanya karena cari tiket murah saja.

Awan, usia 5 bulan 10 hari.

Berawal di Jogja, hari Minggu tengah hari seputaran pukul 12, Bandara Adisucipto kembali jadi saksi perpisahan dengan belahan jiwa dan Awan, darah dagingku yang mungil dan lagi lucu-lucunya. Pesawat, yang tumben tanpa delay, membawa terbang ke Bandara Soekarno Hatta dan langsung menuju hotel Sofyan. Semalam menyusuri Jakarta bersama dua orang sahabat sejak SMP yang dua-duanya masih menjomblo. Penguasa Tebet betul mereka, dari WarMo yang terkenal lengkap dan enak sampai rumah susun yang penghuninya berbagai kalangan pun dikenalnya. Capek, mereka pamitan setelah menembus dini hari, dilanjutkan aku tertidur setelah mencoba membuat website yang sekarang tayang di sini.

Jakarta, sebuah kota yang membuatku bergidik dan merinding. Entah perasaan tidak nyaman selalu hinggap jika berada di atmosfer Jakarta. Untung perjalanan sudah diatur dan semua lancar. Pemberhentian selanjutnya adalah Depok, guna mengunjungi kolega dan sahabat di sebuah universitas negeri yang sudah tua di Indonesia. Setelah Depok, bergerak ke salah satu Universitas Swasta yang memiliki Fakultas Farmasi tertua kedua di Indonesia setelah Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Pemberhentian selanjutnya adalah Cisarua, menemani rekan yang akan rapat tentang regulasi kosmetik dan aku istirahat di tempat berbukit yang indah nian (tidak mungkin ditemui di Belanda). Cisarua bergerak ke Bandara CGK, Tangerang. Dan pesawat malam itu membawaku ke Kuala Lumpur (satu jam tanpa turun), Kuwait (transit sekitar 5 jam), Roma (satu jam tanpa turun), berakhir di Paris. Dari Bandara CDG naik kereta dan subway menuju Paris Gallieni, untuk meneruskan perjalanan selama 7 jam naik Bus menuju Amsterdam. Sampai Amsterdam tepat di depan kamar, arloji dari orang yang (pernah) mencintai aku menunjukkan pukul 06.00 dini hari. Yogyakarta-Jakarta-Depok-Cisarua-Tangerang-Kuala Lumpur-Kuwait-Roma-Paris-Amsterdam, 10 kota/kabupaten di 2 benua yang berbeda dalam 60 jam, menggunakan 5 jenis transportasi publik yang berbeda pula: taxi, pesawat, kereta, subway, bus. Suatu cerita yang tidak ingin diulangi lagi kalau sendirian.

Pengalaman paling menarik dalam perjalanan ini adalah mengamati karakter petugas keamanan masing-masing bandara. Di Indonesia, seperti telah banyak dibahas, terasa perbedaan tingkat keramahan (mungkin juga prosedur) antara group check in (tujuan Kuwait, banyak TKI-nya) dan individual check in, di Kuwait tidak terasa ada perbedaan, tapi terasa sekali kadar keramahan yang tipis, bentakan-bentakan mudah didengar di segala sudut bandara dan sulit sekali melihat senyuman ramah dari petugas bandara. Senyum ramah hanya pernah didapat dari penjaga toko souvenir tempat aku belanja sedikit kenang-kenangan bahwa pernah ke Kuwait. Di bandara Charles de Gaule Paris, suasana tidak seseram Schphol Amsterdam. Pemeriksaan identitas dan dokumen singkat dan cepat. Biasanya kalau di Amsterdam melalui beberapa pertanyaan, saat ini di Paris tidak ditanya apa-apa. Bagasi juga datang relatif lebih cepat dibanding Amsterdam.

Ah sudah pukul 14.30. Saatnya belanja dan nonton film. The Forbidden Kingdom sepertinya menarik

27 September 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , , | 4 Komentar

Segelas besar teh tawar panas dan delay satu jam di Bandara Juanda

Dosengila sembari tersenyum kecut bertanya pada petugas check in, “Delay satu jam?”
“Begitulah Pak. Ada latihan oleh TNI AU di Jogja sehingga bandara ditutup selama satu jam. Terpaksa pesawat di kami delay.”

Dosengila lalu melangkah gontai menuju gate 2 tempat pesawat yang direncanakan delay dalam membawanya terbang ke Kasultanan nDoyokarta berhati Zamatriphe. Memasuki gate, dosengila bersiap untuk melewati pemeriksaan, dan ditolak. Alasan penolakanya karena pesawat delay jadi masuknya gate juga ditunda. Bayangan dosengila untuk menikmati ruang tunggu sembari meneruskan tidurnya yang tertunda karena mengambil penerbangan kepagian sirna sudah.

Akhirnya dosengila balik kanan dan menuju tempat yang bisa untuk merokok, Wismilak Diplomat Kafe. Dan setelah duduk dan mengambil laptop, setelah memesan nasi rawon dan teh tawar panas, hati yang gontai cukup terobati karena ada WiFi gratis. Dan dosengila pun segera menuliskan kisah-kisah mengharukan menyayat hati dan membuat setiap pembaca mengucurkan air mata dan darah ini.

Ya. Dosengila memang terdampar di Surabaya sejak hari Minggu 14 September kemarin. Acara intinya adalah menghadiri buka bersama (bubar) rekan-rekan seangkatan waktu SMA dulu yang berdomisili di Surabaya, dengan acara sampingan berkunjung dan diskusi untuk merancang proyek rahasia yang didanai Istanadiskusi dan sharing di Fakultas Farmasi UNAIR.

Dua belas orang hadir dalam acara bubar, dan sebagian besar sudah tidak bertemu dengan dosengila lebih dari 10 tahun. Dan dosengila memiliki “massa” terbesar dibandingkan mereka. Mungkin karena tuntutan profesi yang membuat rekan-rekan tetap relatif “slim”.

Masih ada Budut ...

Budut pulang diganti Yimmi Kur

Rawon sudah siap, teh tawar panas sudah menunggu untuk menghangatkan perut. Selamat makan …

16 September 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 2 Komentar

Segelas besar es sokelat dan cerita tentang tugu, cahandong, dan rel kereta

Warning: Banyak foto.

Hm… banyak cerita yang bisa ditulis. Segelas besar es sokelat dan sepiring kecil salad buah sudah siap menemani menulis di break kafe jakal km 5.

Seminggu sejak buka bersama dengan cahandong di rumah Om Yahya, akhirnya berhasil juga menghadiri Juminten-nya rekan-rekan cahandong. Berangkat dari rumah sekitar pukul 10.00 WIB melaju ke km 0 Yogya, tempat ritual mingguan tersebut dilaksanakan. Eh di tugu melihat segerombolan anak muda sedang berfoto dengan tugu sebagai objek. Dan, aku mengenali anak-anak muda tersebut, mahasiswa-mahasiswa yang pernah kuajar dua tahun silam.

Putar balik, bergabunglah daku dengan mereka. Dan hasilnya dapat dilihat disini:
Mahasiswa gendeng murid dosengila

Dosengila dikelilingi bidadari (?)

Dosengila dengan bodyguard

Setelah puas poto-poto di tugu dan memegang tugu (mitosnya kalau megang tugu akan selalu balik ke Jogja) segera bergabung ke km 0. Dan setelah putar-putar tiga kali menemukan wajah funkshit dan ritual khas salam-salaman lalu duduk menanti anggota yang lain. Dan setelah lewat tengah malam (koq jadi ingat Sidney Sheldon), semakin banyak yang bergabung:

Sebagian anggota. Terlihat Momon, Selo, Ocha, Ama, dan Ekowans

Briefing oleh Goen

Lalu pasukan bergerak untuk melaksanakan “Sahur on the Rail“. Cerita lengkap bisa dibaca di postingan rekan Alle. Poto-poto “Sahur on the Rail“:

Penyerahan bingkisan

di pos 739

di pos 737

Goed gedaan mijn vrienden!

13 September 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 7 Komentar