Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir campuran 50:50 ocha dan coklat serta “jebakan binary dalam media sosial …”

Berdiskusi (istilah agak keren dari ngobrol ngalor ngidul ndak jelas) CahAndong Pusat featuring Tikabanget dari CahAndong cabang Jakarta sempat menyinggung soal susu formula (sufor) vs. ASI. DosGil ditanya, “Bagaimana pendapat DosGil tentang penggunaan sufor karena sang Ibu mengalami kesulitan dalam menyusui? (jiaaahhh serasa wawancara resmi untuk bahan skripsi: Eh Iya, hari ini Sita wisuda setelah pertarungan hampir tak berkesudahan dengan skripsinya. Selamat Sita!). Jawab DosGil,”Kalau menurutku sih, ya ndak papa toh orang memang gak bisa. Idealnya sih memang ASI esklusif. Tapi kalau memang ndak isa piye?”

Baiklah jawaban di atas masih debatable, dan memicu ke alternatif lain selain sufor (misal di-ASI-kan ke ibu lain) yang bisa memicu diskusi baru lagi. Bukan .. bukan, tulisan ini bukan tulisan mendukung sufor. Kata Mama DosGil, DosGil ASI-nya lebih dari 2 tahun dan sejak disapih pun ndak doyan sufor. Entah kenapa, “Ndak doyan sufor” ini juga nurun ke anak DosGil. Padahal anak DosGil hari-hari pertama hadir di dunia terpaksa konsumsi sufor karena kondisi waktu itu. Yang menggelitik DosGil untuk menulis ini adalah lanjutan dari obrolan itu. “Lha, tapi tekanan masyarakat juga lewat media sosial ki sepertinya seorang Ibu kalau memberikan sufor meski karena terpaksa ki jadi seperti kriminal je …” Dueengggg Iya juga sih, itu yang sering DosGil rasa dari mengamati linimasa saat kurang kerjaan, diskusi di blogosfer, mantengin status fb dll.

Diskusi, twitwar, perang komen dan like di fb cenderung mengerucut ke polarisasi pendapat. 0 atau 1. Either … or … Yup, DosGil sekilas muncul hipotesis: Ada fenonema “jebakan binary” dalam media sosial. Apakah ini terkait kultur dunia maya yang memang dibangun dari serpih-serpih digital 1 dan 0? Atau lebih karena sifat dasar manusia yang gampang terpolarisasi? Sebagai contoh: cicak vs. buaya, dee vs. haque, sufor vs. ASI, FPI vs. (apa ya negasi dari FPI?), …, …, dan silakan tambahkan sendiri contoh-contohnya.

Sedikit analisis ngawur DosGil: Media sosial mungkin memang efektif untuk kampanye, pencitraan, baim (bangun imej; mencontek istilah dari mBak Rini) namun sedikit berbahaya karena keterbatasan/kekhasan fitur-fiturnya (misal twitter yang hanya maksimal 140 karakter). Sinergi antara sifat dasar manusia dan kultur digital dunia maya bisa bisa jadi meningkatkan kuantitas dan kualitas “jebakan binary” yang bahkan bisa “menghakimi” seorang Ibu yang sangat menyayangi anaknya dan karena sesuatu hal terpaksa memberikan sufor menjadi seorang “kriminal”.

Bagaimana menghindari “jebakan binary” ini? Bisakah binary yang bersifat nominal diubah menjadi scale? Misal dalam kasus “kriminalisasi” Ibu sufor, dengan mengubah pola pikir menjadi ASI eksklusif adalah kondisi ideal yang ingin kita capai (misal diberi nilai A). So, usaha Bapak-Ibu jabang bayi untuk memenuhinya hingga kondisi ideal ini yang patut disemangati. Mungkin ada yang dapat nilai A, tapi akan banyak yang dapat nilai B dan C serta pasti ada yang dapat nilai D dan E. Alih-alih menghakimi yang dapat B supaya dapat A, DosGil lebih mengusulkan untuk mendampingi yang C, D dan E untuk berusaha meningkatkan “nilai”nya. Andaikan yang dinyatakan lulus hanya yang mendapat nilai A semua dan IPK 4.0 pasti Graha Sabha Praman tidak sepenuh saat ini. Iya kan Sita?

*DosGil, menguap lagi masih ngantuk … setelah semalam bimbingan skripsi sampai hampir pagi.

Iklan

21 Februari 2012 - Posted by | New idea ..., Secangkir ... | , , , , ,

12 Komentar »

  1. Jebakan binary sebetulnya juga terjadi di dunia nyata, dan diriuhkan oleh media, terutama televisi. Tapi ini juga ada faktor masyarakat, karena masyarakat cenderung mencari jawaban benar-salah. Pakar yang menyajikan argumentasi yang kompleks jadi tidak laku, karena jawaban yang dia berikan rumit.

    Yang pathetic memang, socmed juga terbawa dalam diskusi hitam putih seperti ini.

    Komentar oleh Herman Saksono | 21 Februari 2012 | Balas

    • Terkait binary surga atau neraka?

      Komentar oleh DosGil | 21 Februari 2012 | Balas

  2. Mari giatkan ngeblog lagi, tinggalkan twitter #eh

    Komentar oleh Yahya Kurniawan | 21 Februari 2012 | Balas

    • Mari Pak! Kalau perlu terbitkan buku fisik lagi! *eh

      Komentar oleh DosGil | 21 Februari 2012 | Balas

  3. Pemakaian skala A – E hanya usaha memanjangkan rentang saja. Kutubnya masih hitam dan putih cuma ditengah-tengahnya ditambahi gradasi abu-abu dari 10% sampai 90%. Jadi tidak ada penambahan warna, putih tetap baik, dan hitam tetap buruk, apapun alasannya. ‘Jebakan Binary’ adalah istilah digital untuk ‘menghakimi’. Susah hilang karena kita memang senang menghakimi…

    Komentar oleh Yudo | 21 Februari 2012 | Balas

    • Betul Bro. Ini masalah penghakiman. Dan terpenting lagi (mungkin) terkait pengambilan keputusan. Kalau 1 dan 0, kan sudah jelas satu itu secara umum yang diterima lainnya tidak diterima. Misal dalam kasus sufor, asumsinya kan ASI itu idealnya (1), tidak diberi ASI yang tidak ideal (0) dengan dibuat scale kan masih bisa “menyelamatkan” yang 0.7. 🙂

      Ini akan rumit lagi jika polarisasinya bukan 1 dan 0 melainkan 1 dan -1 (dengan ada kemungkinan 0) di tengahnya. Misal kasus cicak vs buaya?

      Komentar oleh DosGil | 21 Februari 2012 | Balas

  4. postingane apik e.
    iya sih, masyarakat (online offline) cenderung buru2 menghakimi tanpa ada usaha untuk memahami.

    Komentar oleh memeth | 21 Februari 2012 | Balas

    • Ahh dipuji sama Jeung Meth *blushing

      Bagaimana dengan memahami untuk menghakimi?

      Komentar oleh DosGil | 21 Februari 2012 | Balas

  5. Tulisan yang menarik, Kak. :’)

    Komentar oleh Dimas | 22 Februari 2012 | Balas

    • Makasih Kaka’. Minta tandatangannya Kaka’ 😀

      Komentar oleh Enade | 1 Maret 2012 | Balas

  6. benar sekali kalo masyarakat itu cenderung menghakimi tanpa berusaha memahami

    Komentar oleh Yuyut Wahyudi @Berbagi itu Peduli | 22 Februari 2012 | Balas

    • Hehehe bukankah pernyataan ini juga merupakan penghakiman?

      Komentar oleh Enade | 1 Maret 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: