Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir air putih dan “Selamat jalan …”

Kemarin sekitar pukul 18.00, sembari berdiskusi dengan beberapa anak muda yang semangat untuk belajar bersama DosGil, mendapat kabar duka di facebook. Pak Mulyono meninggal dunia pada hari Rabu pukul 17.15 WIB. Sesaat hampir seluruh kenangan bersama beliau antara lain …

… saat DosGil mengikuti kuliah beliau Farmakologi Dasar yang disampaikan dengan kontekstual dan semangat yang menyala-nyala yang pasti diingat murid-muridnya

… saat diskusi kurikulum untuk mata kuliah Kimia Medisinal dengan debat yang bersemangat antara beliau dan DosGil yg tertular semangatnya saat itu, sampai berdiri di depan forum. “Seperti main wayang orang,” celetuk beliau saat itu. Saat itu ada pesan yang disampaikan ke DosGil oleh Pak Mul kepada DosGil yg suka menggunakan analogi, “Menggunakan analogi itu akan membantu. Tapi tolong diingat bahwa penggunaan analogi itu terbatas dan sebisa mungkin sampaikan batasan itu juga sehingga tidak digeneralisasi …” terus beliau memberi contoh pitfall yg mungkin terjadi dengan menggunakan analogi saat mengajar

… saat pernikahan DosGil, kehadiran Pak Mul dan Bu Mul sangat berkesan. Sulit digambarkan dengan kata2 kesan tersebut.

… saat malam perpisahan/keakraban Apoteker setelah disumpah. Beliau berpesan, pesan yang sering diulang dalam berbagai kesempatan, “Tidak ada itu istilah bekas guru, bekas murid. …” Yg DosGil tangkap dari itu adalah hubungan Guru-Murid itu abadi dan bahkan maut pun tidak bisa memisahkan selama ilmu yang ditransfer terus menerus menemukan jalan untuk berdampak dan berkembang serta memberikan manfaat dalam masyarakat.

… dan masih banyak lagi …

Dari tulisan Alexander Ari “Gosong”, yang dulu pernah belajar bersama DosGil dan Pak Mul, tentang kenangan Pak Mulyono sebagai seorang legenda ada kalimat Pak Mul yang memaksa DosGil berefleksi,

If you can live forever, what do you live for?

Dan salah satu jawabannya adalah mungkin bisa diekstraksi kalimat yang disampaikan oleh Legenda lain yang meninggalkan kita juga hari ini, Steve Jobs:

“Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything – all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.”

Selamat jalan Pak Mulyono. Terima kasih.

Selamat jalan Steve Jobs. Meskipun aku tidak mengenal secara pribadi tapi cerita-cerita tentangmu dan produk-2 tangible-intagible yang hadir dari sentuhanmu sungguh mengubah dan menggerakkan. Terima kasih.

Selamat jalan, terima kasih.

Iklan

6 Oktober 2011 - Posted by | Secangkir ...

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: