Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir teh panas dan Avatar 3D …

… sempurna dengan donat dari albert hein …. [Warning: Ada spoiler-nya lho!]

DosGil sepertinya ndak perlu mengulas dari segi cerita maupun sinematografi, maupun pelajaran yang bisa dipetik tentang mencintai bumi dari nonton film Avatar ini. Beberapa teman di CA sudah mengulasnya, antara lain di sini.

Yang DosGil pelajari dari nonton pelem ini adalah … bagaimana evakuasi kalau ada kebakaran. Lho koq? Iya, karena di tengah-tengah nonton pelem ada alarm kebakaran dan semua penonton dievakuasi keluar gedung bioskop. Beueh .. mana dingin banget di luar … dan sedikit salju. Setelah dipastikan tidak ada kebakaran, penonton dipersilakan masuk lagi. Ha..ha..ha.. Yes .. besok minta sertifikat lulus pelatihan (di-)evakuasi saat ada bahaya kebakaran. ~halah … malah ngelantur.

Di Avatar, dibutuhkan gabungan tentara, scientist, pemimpin, cinta, dan iman untuk selamat dari great sorrow. Adegan yang paling berkesan bagi DosGil adalah ketika Jack datang sebagai Toruk Mokta (the “real” leader due to his power) dan meminta ijin kepada Tsu’ Tey (the formal leader due to blood line) untuk memimpin perjuangan. Cerita akan lebih rumit jika Tsu’Tey menolak dan Jack memaksakan kehendak, sementara musuh sudah mengancam. Mungkin ending-nya tetap sama, tapi sang Toruk Mokta perlu energi lebih banyak untuk meredam aksi boikot dari Tsu’ Tey. Untungnya bangsa Na’vi percaya pada harmoni dan pada pertanda yang diberikan oleh Eyra. Toruk Mokta adalah pertanda, dan tidak ada pilihan lain bagi Tsu’ Tey selain untuk percaya, meskipun pada seorang “pengkhianat”. Dan perjuangan pun dimulai …

Iklan

20 Desember 2009 - Posted by | Secangkir ... |

6 Komentar »

  1. ndak ada ganti rugi dari pihak bioskop? :mrgreen:

    Komentar oleh gunawanrudy | 21 Desember 2009 | Balas

    • ndak ada E … E tapi kebetulan CS-nya manis-manis dan helpful, jadine ya ndak masalah. Yang perlu ganti rugi mungkin para penonton jadwal berikutnya karena jadi bergeser nontonnya.

      Komentar oleh Enade | 21 Desember 2009 | Balas

  2. Dengan kata lain, Toruk Mokta adalah perlambang kemauan massa dalam masyarakat modern?

    Komentar oleh Herman Saksono | 21 Desember 2009 | Balas

    • IMO, dalam masyarakat modern Toruk Mokta adalah driving force yang menggerakkan dan mungkin mendikte kemauan massa, bukan kemauan massa itu sendiri. Driving force paling gampang dan pragmatis saat ini adalah “uang”.

      Komentar oleh Enade | 21 Desember 2009 | Balas

  3. Masih mending bos, kalo di bioskop Indo, baru di evakuasi kalo udah keliatan apinya. False alarm udah pasti dicuekin.
    Hi hi hi…

    Komentar oleh mulutmanisyang berbisa | 21 Desember 2009 | Balas

  4. Excellent blog right here! Also your site rather a lot up very fast!
    What host are you the use of? Can I am getting your associate link for
    your host? I desire my web site loaded up as fast as
    yours lol

    Komentar oleh jual sofa surabaya | 20 Agustus 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: