Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir air putih dingin dan “Als Ik een Jezuïet was” …

Tulisan di bawah ini ditulis oleh DosGil tiga hari yang lalu, terinspirasi oleh “Als Ik eenst Nederlander was”-nya Ki Hadjar Dewantara dan diposting di blog ini setelah mengetahui fakta bahwa emailnya mental. Mental setelah 96 jam mencoba karena di-greylist oleh pihak yang dituju.

Setelah Luther dan St. Maarten, sekarang saatnya menyampaikan apa yang di benak DosGil tentang Yesuit.

*******
“Als Ik een Jezuïet was”
(Jika saya seorang Yesuit)

Keberadaan saya di fakultas ini adalah rahmat. Rahmat bagi fakultas dan rahmat juga bagi saya. Fakultas harus didampingi supaya tidak lepas dari rel spiritualitas Ignatian. Sementara bagi saya, perutusan di fakultas yang karena alasan sejarah memiliki dinamika unik berciri kental sekuler ini membuat saya semakin peka dan terlatih untuk melakukan pembedaan roh (discernment). Fakultas ini menjadi tempat menerapkan dan mengasah hasil-hasil latihan rohani yang sudah dijalani bertahun-tahun dan mendarah daging. Latihan rohani yang membuat saya bisa bertahan dalam berbagai kondisi dan situasi yang ekstrim, termasuk perutusan untuk menimba ilmu di luar negeri.

Adanya kaul ketaatan mempermudah saya untuk semakin bertahan dalam dinamika yang unik ini. Mempermudah? Iya, sangat mempermudah. Kaul tersebut luar biasa dalam mempermudah saya melakukan pembedaan roh. Misal terjadi konflik di fakultas yang membutuhkan sentuhan saya sebagai bagian integral di dalamnya, maka mengikuti keputusan superior adalah opsi pertama. Walaupun keputusan superior itu mendapat perlawanan hebat dari segelintir kolega yang yang merasa hebat dan pandai berargumen dengan berlandaskan “plain reason“, keputusan superior tetap opsi pertama. Dan hey, harap diingat, “plain reasonis so Luther, so reform. Seperti Ignatius, saya akan ignore “plain reason”, apalagi reformasi. Telah ditulis dalam sejarah bahwa “plain reason” membawa perpecahan dan kerugian materi, jiwa dan rohani yang luar biasa. Jadi, tidak ada opsi bagi saya untuk mendengarkan argumen yang berlandaskan “plain reason“.

Andai di kemudian hari, ternyata roda waktu menunjukkan bahwa hasil dari opsi yang saya pilih keliru, tidak menjadi masalah karena belum tentu hasil dari opsi yang ditawarkan “plain reason” tidak keliru. Dan roda waktu akan segera menggilas kekeliruan tadi. Kemungkinan terburuk adalah roda waktu bergulir sementara roda fakultas macet karena keberadaan “plain reason” dan gerombolan reformis yang diabaikan alias gerombolan sakit hati itu. Jika pun itu yang terjadi, tidak menjadi masalah, roda waktu akan menyelesaikan itu dan kemungkinan besar saya juga tidak di fakultas ini lagi. Perutusan membuat saya tidak boleh melekat pada apapun termasuk pada fakultas ini.

Ah iya, potensi konflik akan terjadi dalam waktu dekat dalam kancah pemilihan dekan. Potensi konflik karena menyangkut siapa yang duduk dalam posisi superior. Posisi yang rentan karena posisi ini sangat singkat di rentang waktu pelayanan di fakultas. Posisi yang harus dijaga kolegial karena suasana kondusif paska “kekuasaan” sangat tergantung pada keputusan-keputusan yang diambil saat “berkuasa”. Sikap saya terhadap hal ini jelas: Saya akan netral, indifferent. Karena jika saya tidak netral maka dalam jangka panjang, saya akan hancur sendiri. Meskipun demikian talenta saya dalam membedakan roh menghantar saya pula untuk melakukan penilaian atau evaluasi. Ini bukan menghakimi lho, karena ada tertulis di Matius 7:1 untuk tidak menghakimi. Penilaian saya jelas: Kalau para reformis dengan argumen “plain reason” itu mau menduduki posisi itu, mereka harus bertobat. Karena saya tidak melihat usaha pertobatan itu dan menurut saya sikap mereka kekanak-kanakan, maka menurut saya, sementara biar kelompok yang berkuasa saat ini yang memegang kendali. Kelompok yang berkuasa saat ini sangat kuat dan dewasa dalam membangun pondasi fakultas untuk bergerak dalam satu tujuan. Tidak sporadis dan tanpa tujuan seperti usulan-usulan dan argumen para reformis itu. Saya kira fakultas akan jauh lebih baik jika stabilitas ini dipertahankan.

Karya Yesuit di fakultas ini tidak hanya tercermin dalam tangible product berupa buku ajar namun juga pendampingan kami tercermin dalam peningkatan kualitas fakultas. Salah satu indikator paling gamblang tentang kualitas yang merangkum produk tangible dan intangible adalah akreditasi. Baiklah, orang boleh berargumen bahwa akreditasi tidak cukup bisa mencerminkan, saya pun memiliki pendapat demikian. Namun, sejauh ini, hanya akreditasi yang bisa kita acu saat ini. Berikut adalah daftar peran Yesuit aktif (memegang jabatan struktural dan atau mengajar) di fakultas dan akreditasi:

1995/1996: 1 orang (PD3)
1996/1997: 1 orang (PD3)
1997/1998: 1 orang (PD3)
1998/1999: 1 orang (PD3)
1999/2000: 1 orang (PD3)
2000/2001: 1 orang (PD3)
—————————————– akreditasi C
2001/2002: 1 orang (PD3)
2002/2003: 1 orang (PD3)
—————————————– akreditasi C
2003/2004: –
2004/2005: –
2005/2006: –
—————————————– akreditasi A
2006/2007: –
2007/2008: 2 orang (mengajar 3 mata kuliah)
2008/2009: 2 orang (mengajar 3 mata kuliah)
2009/2010: 2 orang (mengajar 3 mata kuliah)

Dari daftar itu secara kasar menggambarkan perjalanan institusi ini dari tidak terakreditasi menjadi terakreditasi C, hingga kemudian terakreditasi A dan bagaimana pendampingan Yesuit berperan dalam hal itu. Keberadaan satu orang Yesuit selama ~8 tahun membuat pondasi yang cukup matang di Fakultas sehingga bisa terakreditasi. Bahkan pondasi itu cukup kuat sehingga ketiadaan Yesuit aktif tidak menjadikan masalah. Dengan hibah A1 dari negara dan ditopang pondasi tersebut, fakultas ini bisa mendongkrak akreditasi menjadi A. Saya yakin, dengan keberadaan 2 Yesuit aktif di rentang 2007-2009 ini dan dukungan hibah A3 dari negara, hasil akreditasi 2010 nanti akan jauh lebih baik. Jika ada nilai A+++++, maka hal itu layak kami raih. Itu akan membungkam suara-suara kaum reformis dan biarlah mereka sibuk dengan dunianya yang diwarnai luka batin itu. Luka yang bisa menebar racun jika tidak segera diobati dengan bertobat.

*******

~DosGil yang bukan Yesuit kembali blogwalking dan mengucapkan terimakasih pada mulutmanisyangberbisa untuk inspirasi cerita ini.

Iklan

15 November 2009 - Posted by | Secangkir ...

9 Komentar »

  1. Pertamax 😀

    BTW, kerjaku ning kene marai cerak karo romo2 dg titel SJ lho…

    Komentar oleh OdyDasa | 16 November 2009 | Balas

    • Ho..ho..ho.. Jadi aku bisa menunggu tulisan “Als Ik een Jezuiet was” versi Mas Ody. 😀

      Komentar oleh Enade | 16 November 2009 | Balas

  2. Uuummmmm rumit tenan politik praktis di almamaterku.

    Komentar oleh Dian Ardiyanto | 16 November 2009 | Balas

    • Eh ada Dian … Siapa yang bilang itu almamatermu? 😀

      Komentar oleh Enade | 16 November 2009 | Balas

  3. Sepertinya karakter orang dalam cerita di atas aku kenal deh….:D

    Komentar oleh Yuli | 16 November 2009 | Balas

    • [Penasaran mode: On] Sapa-sapa Bu? Ada ya karakter seperti itu? Atau malah DosGil? [Penasaran mode: Off] Untung DosGil bukan Yesuit ….

      Komentar oleh Enade | 16 November 2009 | Balas

  4. yah, cuman segini … gak seru nih
    kirain bakal ada perang 30 tahun 🙂

    Komentar oleh wikan | 18 November 2009 | Balas

  5. Wah aku sekarang gabung sama romo – romo dari ordo Capusin, belum tau gimana ceritanya nanti…

    Komentar oleh mulutmanisyangberbisa | 24 November 2009 | Balas

  6. […] hanya akan berakhir di Inbox dan tidak akan dibahas maka … click send … Ooopsss … Als Ik een Jezuïet was […]

    Ping balik oleh Secangkir seduhan rosella dan amarah … « Laan van Kronenburg | 13 Desember 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: