Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir teh dan Martin Luther …

Sebelum menyampaikan sedikit uneg-uneg yang sekarang berputar di kepala, DosGil perlu menyampaikan disclaimer bahwa Dosgil bukan ahli sejarah, filsafat, politik, apalagi theologi. Jadi tulisan berikut hanyalah sesuatu yang sekedar lewat dan butuh penyaluran dalam bentuk tulisan yang debatable atau bahkan ignorable.

Hari ini adalah hari Ulang Tahun Mas Gage sang Sevenova. Selamat Bos! Dan, 3 hari lagi, tepatnya pada tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan dan juga Hari Ulang Tahunnya Martin Luther (lahir di tahun 1483). Secara kebetulan DosGil menonton film (yang katanya teman ndak masuk di bioskop mainstream Indonesia) Luther akhir pekan minggu lalu karena diputar di salah satu statiun TV Belanda. DosGil dengan mengandalkan Google kemudian mencari tahu lebih banyak tentang tokoh satu ini. Komentar Dosgil tentang film ini sendiri adalah: awesome!

Dari menonton film dan mencari tahu di belantara teks di internet, DosGil menyederhanakan kisah Luther sebagai kisah seorang kader muda potensial dan kritis yang merasa perlu ada perbaikan organisasi/institusi dan memperoleh tekanan dari pihak berkuasa karena dianggap sebagai ancaman dan “melawan”. Beruntung “perlawanan”nya mendapat wadah dan dukungan dari pihak lain yang merasa seide dan juga cukup berkuasa (dalam hal ini Pangeran Frederick the Wise). Jadilah bara itu berkobar dan menjadi api yang menyala-nyala, membakar dan secara signifikan merubah wajah Eropa dan Dunia.

Di lain pihak, di jaman yang sama “lawan” Luther beruntung memiliki St. Ignatius (Pendiri ordo Serikat Yesus) yang menjadi salah satu tokoh penting dari gerakan Kontra Reformasi. Dari nama gerakan ini maka dapat diambil kesimpulan kasar bahwa gerakan ini menjadi antagonis gerakan reformasi yang dimotori Luther. Namun jika dicermati lebih lanjut, gerakan ini merupakan gerakan cerdas dengan cara melakukan reformasi dari dalam. Perbaikan-perbaikan sistem dan penguatan organisasi menjadi hal utama sehingga institusi mampu menjadi penyeimbang gerakan reformasi dari pihak Luther.

Baiklah, hasil perenungan ngawur DosGil membawa pada suatu kesimpulan: Ignatius dan Luther memiliki pemikiran yang sama, yaitu ada yang salah dalam suatu organisasi dan perlu ada perbaikan. Namun, Luther dan Ignatius mengambil jalan yang berbeda. Luther memilih frontal dan keras dengan resiko dikeluarkan dan butuh energi lebih banyak untuk membangun (serta korban jiwa yang tidak sedikit) meski hasilnya bisa dilihat lebih cepat, sementara Ignatius memilih lebih sabar untuk memperbaiki dari dalam dengan cara yang lebih strategis dan institusional. Alhasil, bisa dilihat dari biasnya tulisan di ensiklopedia Katolik tentang Martin Luther dan St. Ignatius Loyola.

Salah satu perbedaan mendasar dari kedua tokoh itu adalah prinsip yang mereka pegang. Kaul keempat ordo Yesuit adalah ketaatan kepada Paus. Dari kaul itu, secara gamblang mudah dicerna kenapa Ignatius tidak melakukan perlawanan frontal. Sementara prinsip yang dipegang Luther adalah sebagai berikut:

Unless I am convinced by Scripture and by plain reason and not by Popes and councils who have so often contradicted themselves, my conscience is captive to the word of God. To go against conscience is neither right nor safe. I cannot and I will not recant. Here I stand. I can do no other. God help me.

Jika berada dalam satu insitusi dan merasa perlu ada perbaikan dan bisa melakukan perbaikan, kira-kira apa yang DosGil pilih? Cara Luther atau cara Ignatius atau diam saja dan runtuh bersama runtuhnya institusi?

~DosGil sambil menyeruput teh menanti datangnya pesanan DVD Luther untuk ditonton lagi.

Iklan

7 November 2009 - Posted by | Secangkir ...

2 Komentar »

  1. hayo pilih mana?
    pilih cara dosen gila 🙂

    Komentar oleh wikan | 8 November 2009 | Balas

  2. Lagi terpesona sama Luther, tema pekan ini.
    Ditunggu nonton barengnya…

    Komentar oleh mulutmanisyangberbisa | 12 November 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: