Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir seduhan rosella dan “advance drug delivery system” …

Dalam course ini (baca dua postingan sebelumnya untuk keterangan lebih lanjut), ada sesi debat dengan juri para “hero” di bidang masing-masing baik di academia maupun company yang diundang sebagai pembicara. Beruntung DosGil berada dalam group yang cukup komplit latar belakangnya sehingga bisa beraksi dan mendapat kesempatan untuk jadi pemenang debat 😀

Hari ini DosGil terlibat dalam diskusi yang hangat dan cukup keras tentang Quo Vadis drug discovery and development today? Apakah lebih baik untuk menemukan obat baru (dari target baru) atau lebih mengalihkan energi ke pengembangan formulasi atau bahasa kerennya “development advance drug delivery system”.

“Development advance drug delivery systems is essential to compensate for droping revenues because of the low success rates within drug discovery.”

Pendapat DosGil (dan karena saking ngotot dan antusias diberi kesempatan untuk memberikan closing statement … 😀 ) adalah “Absolutely, Yes!” Tiga argumen pokok dalam hal ini:
1. Kesembuhan bukan hanya terkait pada ketangguhan obat melainkan sangat tergantung juga pada ketaatan pasien, so obat harus dibuat senyaman mungkin untuk pasien alias acceptable.
2. Problem kesehatan sekarang yang belum ada obatnya boleh jadi bukan karena belum ada senyawa yang efektif, melainkan senyawa yang ada tidak bekerja pada tempat yang tepat dan dosis yang tepat. Contoh: Penyakit yang belum ditemukan biasanya selain karena virus yang dalam drug discovery sering disebut flying target (alias cepat bermutasi sehingga obat resisten) maupun yang terkait dengan sistem syaraf pusat (Alzheimer, Parkinson, eh .. obesitas termasuk sepertinya). Kenapa? Karena sulit menemukan obat yang bisa mencapai sistem syaraf pusat dan bekerja di tempat yang tepat.
3. The drugs are there, tersedia dalam bentuk sintesis maupun masih bersembunyi dalam alam, dalam bentuk herbal medicine. It’s obvious, isn’t it?

Dengan ini industri farmasi seharusnya lebih fokus pada formulasi dan fokus pada pasien (cieehhhh… koq jadi ingat sebuah Fakultas Farmasi yangpunya jargon Patient Oriented). Maksudnya fokus pada pasien adalah, instead of menemukan obat baru (yang juga penting) lebih baik fokus pada kebutuhan pasien sehingga bisa memproduksi obat dengan formulasi yang lebih nyaman bagi pasien. Contoh sederhana: Inhaled Insulin sebagai pengembangan dari Injected Insulin, secara insulin tidak bsia diberikan per oral karena langsung akan dibabat habis oleh enzym-enzym dalam saluran pencernaan. Poin yang dua hari yang lalau sempat diusulkan oleh DosGila dalam dua postingan sebelum ini (fokus ke toksisitas dan formulasi), hari ini diklarifikasi dengan jelas oleh Prof. Herman Vromans. Obat-obat “ini” (maksudnya obat-obat yang sudah beredar dan jadi cash cow industri namun masih bisa didevelop alias diformulasi lebih baik lagi) sudah teruji aktivitas dan toksisitas di pasar. So, dana pengembangan hampir pasti jauh lebih rendah dibandingkan biaya membawa New Chemical Entity (NCE) ke pasar. Hal ini pula yang dicurigai menjadi penyebab akuisisi dan merger pelaku-pelaku industri obat. Tahun ini Organon diakusisi oleh Schering-Plough dan tidak sampai satu semester, diakusisi oleh Merck. Why? Salah satu kecurigaan DosGil adalah industri yang diakuisisi memiliki produk yang menarik yang bisa “diperpanjang” patentnya dengan advance drug delivery oleh industry yang mengakuisisi. Dan pula, industri yang diakuisisi sudah memiliki pipeline yang establish dalam produksi produk yang diincar. Apa hubungannya? Ya karena pabrik obat sangat tergantung dari patent, begitu patent berakhir dan tidak ada obat baru yang bisa dijadikan cash cow (baca dua postingan sebelum ini). It’s over, kompetisi akan ketat dengan terlibatnya pabrik yang produksi generik. Nah, dengan mematenkan aplikasi dan teknologi baru dari NCE … maka umur patent bisa diperpanjang. Andai harus berkompetisi dengan generik pun, produk originator dengan formulasi yang lebih baik, masih akan mendapat tempat di hati masyarakat.

Terus bagaimana nasib unmet medical needs alias penyakit-penyakit yang belum ada obatnya? Nah kalau paragraf sebelumnya membahas poin pertama dari argumen, maka jawaban pertanyaan ini akan mnyambung ke point kedua sekaligus point ketiga. Penyakit itu mungkin atau memang sudah ada senyawa aktifnya. Silakan telusuri uji in vitro tentang penyakit yang belum ada obatnya? Namun belum bisa dikembangkan menjadi obat karena tidak tepat dosis di tempat yang tepat. So far, pengembangan senyawa baru biasanya akan memperbaiki satu properti namun akan merusak properti yang lain, yang ujung-ujungnya ndak jadi obat juga. Jadi sebenarnya bukan belum ada obatnya tapi NCE yang ada belum memenuhi syarat jadi obat, dan “advance drug delivery system” bisa jadi merupakan solusi yang tepat. Lha kalau benar-benar penyakit baru terus gimana? Nah ini … Perlu sedikit pragmatis, penelitian perlu uang, siapa yang melakukan penelitian kalau industri farmasi bangkrut dan tutup. Fyi, salah satu fakta yang disampaikan dalam diskusi hari ini adalah: dana penelitian satu perusahaan obat sudah melebihi dana penelitian yang disediakan oleh pemerintah Belanda (bukan hanya untuk obat saja) setiap tahunnya. Maka dalam kasus dan kondisi krisis NCE ini, sepertinya quoted pernyataan di atas sudah sangat tepat.

Nah, saatnya berpikir tentang Republik tercinta. Apa yang bisa dilakukan terkait issue ini? Sama dengan usulan di dua postingan sebelumnya: Manfaatkan obat-obat off patent dengan memproduksi generic yang bisa dipertanggungjawabkan bioequivalent/bioavailabilitas-nya yang tentu saja hanya akan bisa dicapai dengan kompetensi teknologi farmasi yang mumpuni.

Terus bagaimana kaitan issue ini dengan penemuan obat baru di Indonesia? Untuk hal ini thanks to Prof. Meindert Danhof, Prof. De Mey, dan Prof. van Gerven yang menyampaikan ide dan pengetahuan tentang pharmacology today (lengkap dengan konsep “system pharmacology approach”) baik dalam course maupun diskusi di saat makan malam. Posisi DosGil dalam hal ini jelas: Explore dan explain aksi pharmacology dari herbal medicines! Untuk memaparkan satu kalimat ini, konsep “dialog antar Dragon dan Phoenix” akan digunakan.

“Dragon” (atau Naga) dalam hal ini mewakili komunitas timur jauh pengguna traditional/herbal medicines, sementara Phoenix (burung api?) mewakili komunitas barat. Kenapa Dragon dan Phoenix dipakai? DosGil dalam hal ini terinspirasi dengan berbagai cerita baik dalam komik, novel maupun film. Dragon di timur jauh dikenal sebagai protagonis dan Phoenix sebagai antagonist (silakan baca komik Chinmi dan Legenda Naga), sementara di barat sebaliknya (silakan baca Harry Potter atau film-film barat maupun kisah St. George). “Perseteruan” itu akan berakhir dengan damai, diawali dengan perundingan dan komunikasi. Perundingan akan terjadi ketika ada bahasa yang sama (atau setidaknya penerjemah) sehingga maksud-maksud masing-masing pihak tersampaikan. Phoenix memilki konsep dasar “selektif dan spesifik” dan Dragon memiliki dasar “keseimbangan”.

Konsep Phoenix mungkin saja “ideal”, namun terbukti sering menimbulkan masalah baru (adverse effect) maupun belum bisa bicara banyak untuk penyakit-penyakit degeneratif dan penyakit-penyakit terkait lifestyle. Komunitas Phoenix mulai bergeser dari “single drug, single target” ke “system pharmacology”. Moreover, polypharmacy (yang sangat “ditentang” karena issue interaksi obat dll. karena konsep selective-specific) mulai di”saran”kan dalam bentuk introducing “polypills” di UK, untuk menjaga “keseimbangan”. Sementara itu komunitas Dragon mencoba mengisolasi senyawa yang bertanggung jawab dari traditional medicine, dan mencoba menjelaskan aksi dari “serendipity polypharmacy”. Banyak penemuan obat merupakan serendipity, anyhow! Sebenarnya DosGil agak kurang setuju untuk mengerahkan energy untuk mengembangkan obat baru based senyawa hasil isolasi. That’s good. However, DosGil lebih menyarankan untuk melakukan pengembangan formulasi sehingga traditional medicine menjadi lebih menarik untuk dikonsumsi. Tentu saja harus sudah proven tidak toksik. Untuk masalah aksi farmakologis memang agak sedikit lebih rumit, secara berdasar pada filosofi “keseimbangan” tentunya proses tidak akan drastis. Sayangnya butuh kesabaran dan “iman” untuk menggunakan obat-obatan ini compare to menggunakan obat-obat phoenix yang cepat dan biasanya langsung dapat dirasakan efeknya.

Dan, salah “dua” bahasa yang dimengerti dua belah pihak adalah adalah bahasa molekul dan bahasa numerik. So, mungkin pemodelan molekul, PK/PD modeling, epidemiology bisa menjadi sarana dan jembatan komunikasi dalam “dialog Dragon dan Phoenix”.

~DosGila menikmati malam terakhir di Woudschoten sebelum minggu depan datang lagi untuk course business-entrepreneurial-skills

Phoenix Dragon

Gambar diambil dari sini dan sini.

Iklan

25 September 2009 - Posted by | Secangkir ... | ,

2 Komentar »

  1. Gosh… that was mind-opening and makes me dizzy at the same time…

    IMHO perlu adanya kesadaran akan pentingnya Drug Delivery System untuk obat herbal di lingkungan akademik Farmasi Indonesia. Kalau dari yang saya lihat disini sih anak-anak FBA (Farmasi Bahan Alami) sudah banyak sih pak yang nggarap skripsi sediaan-sediaan untuk obat herbal even cuman tablet, lozenges dan tablet effervescent. Untungnya disini skripsi formulasi sangat digandrungi sampai-sampai banyak yang ngantri kalau mau nge-lab. Meskipun delivery system untuk bahan herbal disini masih belum advance mungkin suatu saat nanti bisa, yah tinggal menunggu waktu saja. Maklum FBA masih barang baru disini…

    Cuman yang saya sayangkan mereka masih main-main dengan ekstrak yang masih belum benar-benar jelas apa kandungannya, mungkin satu saat nanti mereka bisa bermain-main dengan natural product (single or few compound, dari ekstrak terpurifikasi mungkin?) yang sudah teruji khasiatnya namun memiliki profil farmakokinetik yang kurang memenuhi persyaratan sehingga perlu dilakukan advanced drug delivery system.

    Untuk bisa mengimbangi konsep selective-specific dengan konsep balance itu adalah tugas yang teramat berat bagi ilmuwan timur. Well, at least Dragon dan Phoenix punya bahasa yang saling dimengerti masing-masing. Time will tell…

    Komentar oleh dep05 | 25 September 2009 | Balas

    • Eh .. eh.. mengubah serbuk jadi tablet, lozenges dan tablet effervescent kan sudah termasuk “advance drug delivery system” toh?

      Kalau “mereka” bermain-main dengan ekstrak yang sudah jelas kandungannya, berarti si Dragon terpaksa tunduk pada “kekuasaan” Phoenix dong?

      Komentar oleh Enade | 26 September 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: