Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir teh dan seniman …

Huahahahahahahahaaa … ~ketawa ala Rahwana

Seorang “hero” di bidang drug discovery hari ini menyampaikan fakta luar biasa: Drug Discovery adalah gabungan dari art dan science. So, kalau suatu saat “bisnis” ini saturated, alih pekerjaan menjadi seniman mungkin lebih menjanjikan dalam segi finansial … (sambil mencontohkan lukisan “molekul” karya seorang seniman yang laku dijual 15.000 Poundsterling …)

Ada yang tertarik membeli “lukisan” di bawah ini untuk digantung di ruang tamu atau ruang kerja?

Permukaan DPP4

Eh adakah layanan nge-print di atas kanvas di Yogyakarta? Berapaan ya biayanya? Masih malas nge-google ki …

~DosGil berpikir untuk jadi seniman …

Iklan

23 September 2009 Posted by | Secangkir ... | 1 Komentar

Segelas air putih dan prediksi dunia farmasi 11 tahun ke depan …

Healthy and Wealthy

Healthy and Wealthy

Segelas air putih? Iyahhh … segelas air putih koq (setelah tiga gelas Heineken di bar Hotel Woudschoten usai pembukaan course Drug Discovery and Development Cycle).

Kursus yang dimulai pukul 17.00 CET lebih 2 menit sore tadi dimulai dengan tantangan kepada peserta yang isinya adalah peneliti-peneliti muda TI Pharma yang pastinya terlibat di salah satu rantai Drug Discovery and Development Cycle. Fakta-fakta disampaikan dan juga dipaparkan dengan jelas dengan pembicara salah satu pejabat dari Schering-Plough (d/h Organon). Intinya adalah: Drug Discovery mengalami kemunduran 10 tahun terakhir. Investasi menggelembung sementara new chemical entity yang sampai ke pasar menurun setiap tahunnya. Teknologi yang semakin canggih seharusnya memungkinkan percepatan penemuan bukan sebaliknya. How come? Apparently ada 2 dugaan kuat jawaban dari pertanyaan itu (hasil dari diskusi): 1. Hampir semua target yang “mudah” sudah memiliki obat di pasar. Sebagai contoh: Untuk menurunkan kolesterol ada Lipitor dari Pfizer dan teman-temannya. Apakah ada obat dengan target ini yang lebih baik saat ini? So far sulit mendapatkan yang lebih baik. Lipitor sendiri di tahun 2008 menghasilkan 12.8 jt dollar US. Jadi kalau nanti jadi generik di tahun 2011, darimana Pfizer akan menambal pemasukan sebesar itu? 2. Kecanggihan teknologi yang bermata dua, disatu sisi membantu eksplorasi aksi obat di satu sisi regulasi pun semakin ketat, Contoh sederhana: Tembakau dan alkohol kalau ditemukan saat ini tidak akan mendapat persetujuan dari FDA.
So, solusinya adalah (hasil dari diskusi juga): multidisipliner dan bekerja di target baru yang termasuk priority medicine-nya WHO. Meskipun target baru pastinya relatif lebih sulit.

Satu hal yang muncul juga dalam diskusi adalah sistem patent yang kapitalis yang membatasi perkembangan obat baru. Obat baru hanya mendapat pelindungan paten sekitar 15 tahun. Padahal penemuan obat sampai disetujui bisa lebih dari 15 tahun. Dan … ini yang penting, compare dengan produk makanan/minuman yang bisa disembunyikan secret ingredients as long tidak toksik, produk obat harus didaftarkan ke FDA/EMEA yang artinya disclosure dari secret ingredient yang artinya harus didaftarkan paten sebelumnya, yang juga berarti: detik kematian obat yang “baru” ditemukan udah berdetak.

Baiklah, mungkin membaca tulisan ini sudah membosankan. DosGil yang terlibat dalam diskusi pun tadi sudah menguap berkali-kali. Namun di bagian membicarakan paten, tiba-tiba serasa ada pencerahan baru. Paten yang sepertinya menguntungkan negara kapitalis ternyata ada sisi menguntungkan bagi negara berkembang. Dengan banyak obat yang off patent dan dengan pabrik obat yang bertebaran di Indonesia serta juga Fakultas Farmasi yang menjamur. Harusnya dapat diproduksi obat murah sehingga masyarakat Indonesia bisa semakin “healthy and wealthy”. Dari sini terlihat ada setidaknya dua bidang farmasi yang mempunya prospek dikembangkan mengantisipasi ini:
1. Karena terkait obat generik maka “kesamaan” dengan produk original harus terjamin. Artinya hal-hal terkait bioavailability dan bioequivalensi harus mantabs.
2. Untuk memproduksi obat generik dengan kualitas yang “sama” dengan originator kemampuan formulasi harus mumpuni.

Di sisi lain, untuk melindungi masyarakat dari booming obat generik dengan berbagai kualitas maka di bagian regulasi (POM) pun harus siap. Dan juga dilengkapi dengan ahli-ahli farmasi klinik dan komunitas yang berjaga di garis depan pelayanan bertemu dengan pasien.

So, bagaimana dengan drug discovery di Indonesia? Quo vadis?

Dalam benak DosGil, ada beberapa strategi yang bisa diadaptasi. Artinya ndak harus ikut-ikutan dengan teknik yang semakin canggih yang harus invest banyak uang untuk diikuti. Karena teknik itu akan berkembang dan yang efisien yang akan dipakai, yang terbukti tidak efisien akan ditinggalkan( for example combinatorial chemistry yang sudah ditinggalkan). Yang terbukti efisien dan efektif adalah classical drug discovery: animal testing (… errr siap-siap digebuki para pecinta binatang …) dan eksplore kekayaan alam Indonesia yang belum tereksplore dan yang pasti adalah belum tersimpan dalam basis data yang lengkap.

Berikut usulan DosGil dalam penemuan obat di Indonesia:
1. Eksplore obat tradisional (dan bangun basis data yang lengkap dan dapat diakses)
2. Tes toksisitas untuk memastikan keamanan.
3. Formulasi untuk memastikan acceptability
… sampai disini sudah marketable sepertinya sebagai food and beverages 😀
4. Tes aktivitas untuk memastikan khasiat.
… cukup sampai disini sepertinya … tapi supaya lebih meyakinkan …
5. Uji-uji dengan metode dan teknis yang advance yang diakui international untuk eksplain aktivitas dan toksisitas sehingga bisa menghasilkan publikasi ilmiah yang seksi.

~Ah … sepertinya DosGil sudah rada-rada mabuk ini. Yang ditulis di atas bisa jadi cuma imajinasi akibat tiga gelas Heineken. Yang pasti PP No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian sudah disahkan 1 September 2009 yang lalu. DosGil belum sempat membacanya. Apakah mau baca? Ah entahlah

23 September 2009 Posted by | New idea ..., Secangkir ... | 9 Komentar