Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir air putih dan “Sang Pemimpi” …

https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/8/89/Sang_Pemimpi_sampul.jpg

Halaman Sampul Sang Pemimpi

Iya iya … sudah lama sekali buku ini terbit. Basbang dan sangat kemamulon membahas buku ini. Anyhow, jemari ini sepertinya memaksa hasrat untuk bercerita yang ada kaitanya dengan buku ini. Cerita diawali dari saat DosGil mampir ke rumah teman kemarin karena diundang buka bersama ~Iya, DosGil memang ndak puasa, tapi kan rejeki ndak boleh ditolak toh … Nah di kamar rekan tadi tergeletak buku bersampul biru yang mengingatkan DosGil pada sebuah percakapan di masa lalu ketika DosGil menemukan seorang teman matanya berkaca-kaca membaca buku itu.

“Eh, kenapa kau nangis?” DosGil mengganggu dengan nada jahil.

“Ah .. siapa juga yang nangis” jawabnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata berusaha menyembunyikan bukti fisik bahwa air mata sempat tergenang di pelupuk matanya.

“Ah ndak usah malu lah. Aku juga terharu dulu sampai berkaca-kaca baca buku itu. Apalagi mbacanya saat dalam pesawat menuju Amsterdam pertama kali.”

“Iya Boi, buku ini mengingatkanku pada banyak hal.” Gaya bicaranya mulai ikut-ikutan gaya Melayu tulisan Hirata itu.

Echt waar?”

“Iya sangat. Mungkin kalau dengan kondisi sekarang buku Edensor atau Negeri van Oranje lebih dekat dengan keadaan. Tapi energi itu Boi … energi itu Boi yang ndak pernah bisa kulupakan. Membaca lagi buku ini serasa mengembalikan energi masa itu. Atau … kita ini sudah tua ya Boi? Ikal dan Arai dalam buku ini masih bisa meledakkan kekuatan mimpi. Kemana energi itu pergi Boi?”

“Aku ndak tahu …” jawab DosGil setelah terdiam lama.

Me neither. Mungkin perlu membaca-baca lagi buku-buku seperti ini atau membuka ulang arsip blogmu, Boi! Lumayan untuk injeksi sesaat energi masa muda itu.”

DosGil hanya tersenyum kecut mencerna rekomendasi itu.

Moreover, banyak quote di buku ini yang mungkin kembali menampar sifat procastinator yang kupupuk di Belanda ini.”

“Contohnya?”

“Lihatlah ini Boi, halaman 165 buku ini.”

DosGil pun mendekat dan membaca bagian yang dia tunjukkan.

Itulah Capo: sederhana, tak banyak cingcong, dan kemampuannya merealisasikan ide menjadi tindakan nyata jauh lebih tinggi dari para intelektual muda Melayu mana pun. Mengajarkan mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata barangkali dapat dipertimbangkan sebagai mata pelajaran baru di sekolah-sekolah kita.

“Baguslah kalau kau, dan mungkin juga aku bisa menginternalisasi mentalitas itu pada diri kita sendiri. Tapi juga ingat masalah kultur kawan. Kultur sekolah-sekolah kita mungkin belum siap menerima hal itu. Siap-siap saja menjadi terasing dan disingkirkan.”

“Bukankah lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan?” kelitnya mengutip Gie.

In my opinion, diasingkan tidak jauh lebih baik daripada menyerah pada kemunafikan secara dua-duanya ndak memberi nilai tambah.”

“So?”

Sambil tersenyum dan beranjak pergi mengambil segelas air, Dosgil menjawab “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Sebelum menenggelamkan diri di laptop, DosGil masih sempat menukas, “Dan yang pertama disebut dari ayat tersebut adalah: cerdik seperti ular!.”

~DosGil sudah ditenggelamkan dengan kesibukannya lagi di negeri kincir. Thanks to rekan-rekan CA yang menemani beberapa waktu lalu saat Dosgil liburan musim panas di Yogya dan masih terkena jetlag (alesyan untuk berkeliaran malam-malam).

Iklan

5 September 2009 - Posted by | Secangkir ...

1 Komentar »

  1. nyastra bgt tulisannya

    Komentar oleh herdianto | 6 September 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: