Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir teh panas dan cerita tentang lampu merah …

Baiklah-baiklah, sembari menunggu air panas mendidih untuk membuat secangkir teh di pagi hari yang semakin dingin ini, akan kuceritakan secara singkat tentang daerah lampu merah atau red light district (lebih enak disingkat RLD, bisa juga pakai kode forbidden kingdom-nya Mas Iman) yang sangat terkenal itu. Postingan ini sekaligus untuk memenuhi hasrat Goen, Mas Alya, Bung Peter, dan rekan-rekan lain dari gerombolan cahandong (Waktu aku datang juminten-an, sepertinya ada yang malu-malu mau tanya. Haish, pakai malu-malu segala! he..he..he..).

Begitu mendarat di bandara international Schiphol, RLD bisa dicapai dengan naik kereta menuju Station Amsterdam Centraal. Setelah itu keluar ke arah kota mengikuti arus orang yang ada, ke Damrak. Pemandangan begitu keluar station cukup menarik (apalagi kalau cuaca cerah). Sembari menyusuri jalan bisa cuci mata, di sebelah kanan di deretan pertokoan, dapat ditemukan Museum S*x, di sebelah kiri tak kalah menjanjikan, adalah kanal yang menawarkan boat trip keliling Amsterdam (Bayangkan: berdua saja dengan orang yang dicintai, minum wine segelas dua botol, lalu sedikit mabuk merayu, “Would you like to ….. with me?” Silakan titik-titik diisi sendiri). Untuk menuju RLD, diujung kalan ada gang ke kiri. Masuk gang tersebut dan ikuti arus manusia. Kalau di sebelah kanan ada S*x Shop yang diatas pintunya seperti foto berikut, maka anda berada di jalur yang benar.

Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos

Silakan di-google arti kata “Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos”, niscaya anda akan semakin kagum dengan RLD. Lalu setelah berkeliling-keliling dengan deretan penjaja yang mejeng di etalase di kanan kiri sepanjang RLD, maka akan anda temukan sebuah gereja yang masih aktif (di Belanda banyak gereja yang sudah tidak aktif). Di sekeliling gereja juga merupakan tempat mejeng, bahkan terkenal dekat dengan salah satu gang (sangat sempit) yang dihuni oleh penjaja yang cantik-cantik. Persis di samping gereja akan ditemukan salah satu coffee shop (di Belanda, coffee shop menyediakan ganja dan produk turunannya secara legal, kalau coffe shop “biasa” maka dijuluki “cafe”).

diantara gereja, RLD dan coffe shop

Dari foto diatas (sayang kurang jelas, hujan rintik-rintik), gereja ada di sebelah kanan, gang menuju kawasan “cantik” dibelakangku (ada lengkungan lampu warna merah) dan coffee shop ada di sebelah kiri (ada lampu warna-warni).

Setelah mengitari gereja, kita kan kembali ke jalan yang sama, maka disarankan menyusuri sisi jalan yang berbeda, dan kita kembali ke “jalan yang benar” (maksudnya ke Damrak), setelah mendapati ada toko kondom lucu-lucu di sebelah kiri anda.

www.condomerie.com

Iklan

4 Oktober 2008 - Posted by | Secangkir ... | , , ,

9 Komentar »

  1. *sakit perut liat bentuk2 kondomnya*

    Haduh… kok lucu2.

    Dan saya sudah tau arti Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos ini. ckckckckck, bener2 deh.

    Komentar oleh och4mil4n | 4 Oktober 2008 | Balas

  2. @ Ocha: yang lebih lucu komentar orang-orang di sepanjang jalan yang lewat saat aku mau photo. 😀

    Komentar oleh dosengila | 4 Oktober 2008 | Balas

  3. Loh kok ada nama saya, fitenah itu!

    Komentar oleh Goenawan Lee | 4 Oktober 2008 | Balas

  4. @ Goen: Oh iya salah… maaf. Yang kau minta liputan daerah “laskar pelangi” ding ya … sek bentar. Entar sore bergerak meliput.

    Komentar oleh dosengila | 4 Oktober 2008 | Balas

  5. Wakakakaa, asem ik… *mlayu*

    😆

    Komentar oleh Goenawan Lee | 4 Oktober 2008 | Balas

  6. yang perempuan dalam jendela etalase masih ada nggak ?
    hi hi..

    Komentar oleh Iman Brotoseno | 4 Oktober 2008 | Balas

  7. @Mas Iman: Masih! Itu kan “main course”-nya. Dibahas di paragraf tiga tuh. Sayang gak boleh motret. 😦

    Komentar oleh dosengila | 4 Oktober 2008 | Balas

  8. Wah…hebat banget “daya jelajahnya”, but terima kasih sudah memberiku cakrawala baru tentang RLD di sana. Ditunggu liputan “aneh” lainnya.

    cheers,
    ARIS

    Komentar oleh Aris Widayati | 6 Oktober 2008 | Balas

  9. Hati-hati, jangan motret di peep shop!

    Komentar oleh juliach | 14 Oktober 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: