Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir teh pahit kental dan penutup kisah bendera …

Diare kambuh lagi. Hmmmpfff, akhirnya secangkir teh pahit kental jadi harapan untuk melewati masa ini.

Sekedar penutup kisah-kisah tentang bendera selama liburan. Rasa kangen pada bendera merah putih yang berkibar membuatku pulang memilih tidak pas Lebaran melainkan pas sebelum 17 Agustus. Tanggal 17, ikut upacara sekalian nostalgia di SD Sinduadi Timur, tempat aku belajar membaca dan menulis. Pembina upacaranya Bapak Kadus dengan pemimpin upacara teman main benthik waktu kecil dahulu. Pengalaman dengan bendera selama liburan yang lalu kadang membanggakan dan kadang membuat mengurut dada.

Bendera berkibar di Ketep Pass

Mejeng dengan latar belakang bendera berkibar di Plaza Pancasila,

Kebanggaan yang menyelinap saat melihat bendera itu berkibar di angkasa, terusik dan geram ketika melihat bendera menjadi alat (yang bahkan sampai terseret-seret di tanah) untuk melanggar disiplin oleh konvoi segerombolan oknum yang memakai jaket “penegak disiplin”.

Konvoi penegak disiplin yang tidak sebagian besar tidak pakai helm!!

...dan bendera bangsaku terseret-seret di aspal.

Iklan

28 September 2008 - Posted by | Secangkir ... | , ,

1 Komentar »

  1. salam kenal pak dosen 😉

    Komentar oleh mantan kyai | 29 September 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: