Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Segelas besar teh tawar panas dan delay satu jam di Bandara Juanda

Dosengila sembari tersenyum kecut bertanya pada petugas check in, “Delay satu jam?”
“Begitulah Pak. Ada latihan oleh TNI AU di Jogja sehingga bandara ditutup selama satu jam. Terpaksa pesawat di kami delay.”

Dosengila lalu melangkah gontai menuju gate 2 tempat pesawat yang direncanakan delay dalam membawanya terbang ke Kasultanan nDoyokarta berhati Zamatriphe. Memasuki gate, dosengila bersiap untuk melewati pemeriksaan, dan ditolak. Alasan penolakanya karena pesawat delay jadi masuknya gate juga ditunda. Bayangan dosengila untuk menikmati ruang tunggu sembari meneruskan tidurnya yang tertunda karena mengambil penerbangan kepagian sirna sudah.

Akhirnya dosengila balik kanan dan menuju tempat yang bisa untuk merokok, Wismilak Diplomat Kafe. Dan setelah duduk dan mengambil laptop, setelah memesan nasi rawon dan teh tawar panas, hati yang gontai cukup terobati karena ada WiFi gratis. Dan dosengila pun segera menuliskan kisah-kisah mengharukan menyayat hati dan membuat setiap pembaca mengucurkan air mata dan darah ini.

Ya. Dosengila memang terdampar di Surabaya sejak hari Minggu 14 September kemarin. Acara intinya adalah menghadiri buka bersama (bubar) rekan-rekan seangkatan waktu SMA dulu yang berdomisili di Surabaya, dengan acara sampingan berkunjung dan diskusi untuk merancang proyek rahasia yang didanai Istanadiskusi dan sharing di Fakultas Farmasi UNAIR.

Dua belas orang hadir dalam acara bubar, dan sebagian besar sudah tidak bertemu dengan dosengila lebih dari 10 tahun. Dan dosengila memiliki “massa” terbesar dibandingkan mereka. Mungkin karena tuntutan profesi yang membuat rekan-rekan tetap relatif “slim”.

Masih ada Budut ...

Budut pulang diganti Yimmi Kur

Rawon sudah siap, teh tawar panas sudah menunggu untuk menghangatkan perut. Selamat makan …

16 September 2008 Posted by | Secangkir ... | , , , | 2 Komentar