Laan van Kronenburg

dan perdjoeangan masih panjang

Secangkir teh pahit kental dan cerita lanjutan bendera …

Mendarat di Bandara Soekarno Hatta kurang lebih pukul 10.00 WIB tanggal 16 Agustus 2008, sehari sebelum peringatan proklamasi kemerdekaan. Suasana aman dan terkendali. Hanya saja ketika menukar sim card dengan nomor lokal, sim card Belanda-ku hilang. Jadi rekan-rekan di Belanda nanti kukabari nomor Belanda yang baru. Sepatu pun jebol dan minta diganti. Hm… gak ada skrinsyut, nanti menyusul deh.

Masih di jakarta, menunggu pesawat ke Jogja yang dijadwalkan terbang sekitar jam 19.00 WIB, mencoba peruntungan mau ke kota, cari sepatu ganti. Haish, ternyata jalan ke kota macet dan dengan cemas mengkuti kemacetan balik ke Bandara. Ho…ho..ho.. masih ada waktu untuk check in, kurang lima menit sih sebenarnya. Sambil berlari menuju gate tempat pesawat yang akan membawaku menanti. Ternyata tidak perlu berlari itu, ada delay sebentar karena kendala teknis. Ssstttt jangan bilang-bilang ya, kendala teknisnya setelah selidik punya selidik adalah karena ada tambahan crew yang mau ikut terbang ke Jogja. Mau tahu siapa crew tambahan tersebut? Empat orang perempuan cantik tinggi semampai berjalan pelan dengan baju eksotis (bukan seragam), yang terlambat karena fitness di gym . Sudah menumpang, terlambat, berjalannya tidak menunjukkan kesan terburu karena sudah mengganggu kepentingan banyak orang, tidak ada penyesalan sedikit pun terbersit. Capek deh … Ah sudahlah, karena ternyata orang-orang di juga tidak peduli. Mengapa? Karena calon penumpang sedang menyaksikan final ganda putra di Olimpiade Beijing sambil berharap dan berdoa bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya berkumandang di negeri Tirai Bambu itu.

Kursi tunggu di depan televisi yang menghiasi gate penuh sesak dengan para calon penumpang yang bersorak kala poin bertambah untuk Indonesia (dan kadang mengumpat ketika lawan memperoelh poin atau sekedar kesempatan menambah poin). Dan sejarah mengukir bahwa ganda putra Indonesia, Markis Kido dan Hendra Setiawan, meraih emas dan sekali lagi Bendera Merah Putih berkibar serta Lagu Indonesia Raya berkumandang di kancah internasional. Selamat dan terima kasih.

Ganda putra peraih medali emas Olimpiade 2008
Foto dari http://hinamagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/markis-hendra.jpg

Ah, perutku melilit, sepertinya terserang diare karena penyesuaian dengan makanan di Jogja. Secangkir teh pahit kental semoga membantu.

Iklan

9 September 2008 - Posted by | Secangkir ... | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: