Secangkir teh dan seniman …
Huahahahahahahahaaa … ~ketawa ala Rahwana
Seorang “hero” di bidang drug discovery hari ini menyampaikan fakta luar biasa: Drug Discovery adalah gabungan dari art dan science. So, kalau suatu saat “bisnis” ini saturated, alih pekerjaan menjadi seniman mungkin lebih menjanjikan dalam segi finansial … (sambil mencontohkan lukisan “molekul” karya seorang seniman yang laku dijual 15.000 Poundsterling …)
Ada yang tertarik membeli “lukisan” di bawah ini untuk digantung di ruang tamu atau ruang kerja?

Eh adakah layanan nge-print di atas kanvas di Yogyakarta? Berapaan ya biayanya? Masih malas nge-google ki …
~DosGil berpikir untuk jadi seniman …
Segelas air putih dan prediksi dunia farmasi 11 tahun ke depan …
Segelas air putih? Iyahhh … segelas air putih koq (setelah tiga gelas Heineken di bar Hotel Woudschoten usai pembukaan course Drug Discovery and Development Cycle).
Kursus yang dimulai pukul 17.00 CET lebih 2 menit sore tadi dimulai dengan tantangan kepada peserta yang isinya adalah peneliti-peneliti muda TI Pharma yang pastinya terlibat di salah satu rantai Drug Discovery and Development Cycle. Fakta-fakta disampaikan dan juga dipaparkan dengan jelas dengan pembicara salah satu pejabat dari Schering-Plough (d/h Organon). Intinya adalah: Drug Discovery mengalami kemunduran 10 tahun terakhir. Investasi menggelembung sementara new chemical entity yang sampai ke pasar menurun setiap tahunnya. Teknologi yang semakin canggih seharusnya memungkinkan percepatan penemuan bukan sebaliknya. How come? Apparently ada 2 dugaan kuat jawaban dari pertanyaan itu (hasil dari diskusi): 1. Hampir semua target yang “mudah” sudah memiliki obat di pasar. Sebagai contoh: Untuk menurunkan kolesterol ada Lipitor dari Pfizer dan teman-temannya. Apakah ada obat dengan target ini yang lebih baik saat ini? So far sulit mendapatkan yang lebih baik. Lipitor sendiri di tahun 2008 menghasilkan 12.8 jt dollar US. Jadi kalau nanti jadi generik di tahun 2011, darimana Pfizer akan menambal pemasukan sebesar itu? 2. Kecanggihan teknologi yang bermata dua, disatu sisi membantu eksplorasi aksi obat di satu sisi regulasi pun semakin ketat, Contoh sederhana: Tembakau dan alkohol kalau ditemukan saat ini tidak akan mendapat persetujuan dari FDA.
So, solusinya adalah (hasil dari diskusi juga): multidisipliner dan bekerja di target baru yang termasuk priority medicine-nya WHO. Meskipun target baru pastinya relatif lebih sulit.
Satu hal yang muncul juga dalam diskusi adalah sistem patent yang kapitalis yang membatasi perkembangan obat baru. Obat baru hanya mendapat pelindungan paten sekitar 15 tahun. Padahal penemuan obat sampai disetujui bisa lebih dari 15 tahun. Dan … ini yang penting, compare dengan produk makanan/minuman yang bisa disembunyikan secret ingredients as long tidak toksik, produk obat harus didaftarkan ke FDA/EMEA yang artinya disclosure dari secret ingredient yang artinya harus didaftarkan paten sebelumnya, yang juga berarti: detik kematian obat yang “baru” ditemukan udah berdetak.
Baiklah, mungkin membaca tulisan ini sudah membosankan. DosGil yang terlibat dalam diskusi pun tadi sudah menguap berkali-kali. Namun di bagian membicarakan paten, tiba-tiba serasa ada pencerahan baru. Paten yang sepertinya menguntungkan negara kapitalis ternyata ada sisi menguntungkan bagi negara berkembang. Dengan banyak obat yang off patent dan dengan pabrik obat yang bertebaran di Indonesia serta juga Fakultas Farmasi yang menjamur. Harusnya dapat diproduksi obat murah sehingga masyarakat Indonesia bisa semakin “healthy and wealthy”. Dari sini terlihat ada setidaknya dua bidang farmasi yang mempunya prospek dikembangkan mengantisipasi ini:
1. Karena terkait obat generik maka “kesamaan” dengan produk original harus terjamin. Artinya hal-hal terkait bioavailability dan bioequivalensi harus mantabs.
2. Untuk memproduksi obat generik dengan kualitas yang “sama” dengan originator kemampuan formulasi harus mumpuni.
Di sisi lain, untuk melindungi masyarakat dari booming obat generik dengan berbagai kualitas maka di bagian regulasi (POM) pun harus siap. Dan juga dilengkapi dengan ahli-ahli farmasi klinik dan komunitas yang berjaga di garis depan pelayanan bertemu dengan pasien.
So, bagaimana dengan drug discovery di Indonesia? Quo vadis?
Dalam benak DosGil, ada beberapa strategi yang bisa diadaptasi. Artinya ndak harus ikut-ikutan dengan teknik yang semakin canggih yang harus invest banyak uang untuk diikuti. Karena teknik itu akan berkembang dan yang efisien yang akan dipakai, yang terbukti tidak efisien akan ditinggalkan( for example combinatorial chemistry yang sudah ditinggalkan). Yang terbukti efisien dan efektif adalah classical drug discovery: animal testing (… errr siap-siap digebuki para pecinta binatang …) dan eksplore kekayaan alam Indonesia yang belum tereksplore dan yang pasti adalah belum tersimpan dalam basis data yang lengkap.
Berikut usulan DosGil dalam penemuan obat di Indonesia:
1. Eksplore obat tradisional (dan bangun basis data yang lengkap dan dapat diakses)
2. Tes toksisitas untuk memastikan keamanan.
3. Formulasi untuk memastikan acceptability
… sampai disini sudah marketable sepertinya sebagai food and beverages ![]()
4. Tes aktivitas untuk memastikan khasiat.
… cukup sampai disini sepertinya … tapi supaya lebih meyakinkan …
5. Uji-uji dengan metode dan teknis yang advance yang diakui international untuk eksplain aktivitas dan toksisitas sehingga bisa menghasilkan publikasi ilmiah yang seksi.
~Ah … sepertinya DosGil sudah rada-rada mabuk ini. Yang ditulis di atas bisa jadi cuma imajinasi akibat tiga gelas Heineken. Yang pasti PP No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian sudah disahkan 1 September 2009 yang lalu. DosGil belum sempat membacanya. Apakah mau baca? Ah entahlah
Secangkir seduhan rosella dan cerita lama (yang t’lah usai?) …
Entah angin apa yang membuat suasana hati tiba-tiba jadi mellow begini. Rasanya koq seperti sunyi sangat. Sepertinya hari ini biasa aja. Ndak terlalu strugle dan ndak terlalu wonderful. Entahlah …. jadi teringat puisi yang pernah ditulis sekitar tiga tahun yang lalu. Ternyata belum begitu lama ya … baru tiga kali putaran bumi mengitari matahari.
Menyapa Embun Pagi …
Jejak kaki ini berhenti di bukit harapan
perbatasan antara nestapa kenyataan
dan indahnya impian
Kotamu terlihat gemerlap pagi ini
Kota tempat kita berbagi impian dan kenyataan
Kota tempat kau pernah membisikkan harapan
yang dengan tegas selalu berakhir dengan,
“Ini hanya harapan, bukan janji, apalagi kepastian.”Senandung sendu menyaput kabut biru
sepanjang jalan dari kotamu
dalam pilu aku mencari kerlip rumahmu
yang bisa kupandangi dalam merindu“Pergilah”,
Kata terakhir yang terucap olehmu dalam lelah
masih terngiang di hati yang gelisah
dan menutupi semua pepatah
serta cerita-cerita masa indahAku telah pergi sekarang
dari hatimu yang lebih keras bagai karang
memang lautan mampu mengubah karang
namun aku bukan lautan, aku juga bukan gelombang
yang mampu mengikis tebing karang saat pasangKabut memilih untuk pergi
meninggalkan embun sendiri menghadapi mahatari
bersembunyi di daun-daun kering disekitar kaki ini
yang enggan diajak melangkah lagiBibir ini masih bergetar mencari hangat kecupanmu
yang dulu selalu menghampiri saat kau lelah dan rindu
biarlah ini menjadi kenangan sebuah masa lalu
yang tiada abadi karena akan berlalu
setelah harapanku dan hasratmu layuKau pernah berkata,
“andai matahari tidak muncul hari ini
embun ini masih akan menemani kita”
namun sepertinya kau sengaja melupakan
bahwa matahari pasti akan segera muncul
dan kisah sang embun pun pasti akan berakhirAngin membisikkan kepadaku saat itu,
“embun hari ini akan jadi kenangan
dan embun esok hari masih berupa angan.”
dan aku memilih menjadi embun.Engkau sudah memutuskan untuk memintaku pergi
Namun kakiku yang mendengar suara hati
masih enggan melangkah lagi
Kapan berakhir ini elegi?
Mungkin saat embun berubah jadi bidadari
dan matahari enggan bersinar lagi
~ DosGil menyeruput seduhan rosella sementara angannya menerawang kembali Ullen Sentalu 4 tahun silam.
Segelas bir hitam dan “melukis” …
Sangat membosankan memang melihat deretan angka meski itu merupakan ukuran vital tubuh Miyabi a.k.a Maria Ozawa yang katanya dijadwalkan ke Indonesia. Otomatis dalam benak kita akan mengembalikan angka-angka dalam “bentuk” yang sebenarnya ~ Kita?!? DosGil aja kaleee ~ Apalagi angka-angka itu berupa berupa luas permukaan protein. Mengutip perkataan Bos, “It will be more pronounce and eye catching if you can provide nice pictures bla..bla.bla…“

Aye-aye Sir. Maka mulailah DosGil menulis “puisi” lagi untuk program PyMol. Jiaaahhhh ditengah jalan karena banyak yang yang perlu di-customized. Alhasil ada baris yang sangaaatttt panjang. Ndak rapi dan ndak enak dipandang. Setelah googling dan tanya-tanya termasuk ke milis CA (Matur tengkyu Kang Sandal dan Kang Suprie!) ditemukanlah cara untuk memenggal baris. Contoh puisi bisa dilihat di bawah. Oh ya jika “puisi” tersebut di”deklamasikan” di working directory yang terdapat file 3D4L.pdb dan sofware PyMol yang properly installed maka akan mendapat gambar “cantik” seperti contoh di atas.
# Script ini berekstensi .pml dan bisa jalan jika PyMol terinstalasi properly
# Ditulis supaya suatu saat lupa cara memisahkan baris yang kepanjangan
# bisa melihat lagi script sebagai contoh.# Judul: Contoh memenggal baris dalam script PyMol
load 3D4L.pdb
create rec, chain A and not resn HOH
create ligand, /3D4L//A/1521
delete 3D4L
hide all
bg white
show stick, ligand
color cyan, ligand and (name C*)set solvent_radius, 2
set ambient=0
set direct=0.7
set reflect=0.0
set backface_cull=0
set transparency, 0.3show surface,(/rec//A/TYR`547 + \
/rec//A/SER`630 + \
/rec//A/TRP`659 + \
/rec//A/TYR`662 + \
/rec//A/HIS`740 + \
/rec//A/VAL`656)set_view (\
-0.070490569, 0.337085545, 0.938831866,\
-0.000344162, 0.941164851, -0.337950140,\
-0.997512162, -0.024145123, -0.066226959,\
0.000000373, 0.000063860, -37.865818024,\
39.430973053, 50.268218994, 38.324359894,\
-368.083343506, 443.811767578, 1.000000000 )
set ray_orthoscopic, on
set orthoscopic, on
set ray_shadows,0ray
~Malam ini DosGil kangen menikmati bir. Akhirnya segelas kecil bir htam jadi korban sebelum nonton Pelham 123 yang cukup menghibur.
Secangkir air putih dan “puisi” hari ini …
Untuk menghitung luas permukaan protein yang dapat diakses oleh air, diperlukan suatu software yang ndak ada di lab.
Untunglah, di salah satu tempat di muka bumi ada yang mengembangkan software tersebut namanya POPs.
Sayangnya, software tersebut “riwil” alias butuh input file dengan format yang baku. Padahal output hasil simulasi dengan amber tidak mempunyai format yang baku.
Untungnya, lab punya software yang bisa mengubah ke format yang baku, namanya MOE.
Sayangnya DosGil biasa pakai GUI-nya. Terpaksa belajar svl script.
Untungnya, ternyata cuma butuh tiga baris, dan diberi nama moepdb.svl.
#svl
ReadPDB ‘amber.pdb’;
WritePDB ‘MOE.pdb’;
Sayangnya POPs masih riwil dan harus ada sedikit sentuhan. Terpaksa membuat “puisi” berikut:
#!/bin/sh
if [ $1 = "enade" ]
thenmkdir result_temp
cd result_temp
cp ../*.pdb.* .
ls *.pdb* > files.lst
pdblist=files.lstDIR=`cat $pdblist`
for enade in $DIR; do
sed ’s/ UNK … / XXX 300 /g’ $enade > amber.pdb
/usr/local/moe-2008.10/bin/moebatch -script /home/`whoami`/scripts/moepdb.svl
mv MOE.pdb moe_$enade
grep -Ev ‘END|TER|CONECT| NME | ACE | UNK ‘ moe_$enade |
sed ’s/ CYX / CYS /g’ | sed ’s/ HIE / HIS /g’ > tmp.tmp
grep “HETATM ” tmp.tmp |
sed ’s/ XXX 300 / UNK 777 /g’ |
sed ’s/ TR1 … / UNK 777 /g’ |
sed ’s/ TR2 … / UNK 777 /g’ |
sed ’s/ TR3 … / UNK 777 /g’ |
sed ’s/ TR4 … / UNK 777 /g’ > pops_lig_$enade
grep -Ev “HETATM ” tmp.tmp > pops_rec_$enade
cat pops_rec_$enade pops_lig_$enade > pops_cpx_$enade
cp pops_*_$enade ../done
cd ..
rm -R result_tempelse
echo “Convert all pdb (in the working directory) from amber MD simulations to be calculated using POPsc”
echo “WARNING: ALL pdb files will be changed and GONE”
echo “Usage: ./amber_md_2_pops.sh enade”fi
~Fiuh … sekarang tinggal buat script untuk otomatisasi kalkulasi di POPs dan extract data yang dibutuhkan saja dari output POPs.
Secangkir air putih dan “I’m invisible” …
Kejadian ini dialami DosGil tepatnya dua hari yang lalu (9/11).
DosGil sedang antre di tempat ngisi kartu pass untuk naik subway untuk cadangan, kalau mau jalan-jalan week end. Eh tiba-tiba ada seorang bapak-bapak tinggi besar, nyerobot antrean. Sponta DosGil menegur beliau, “Excuse, I’m in the queue Sir”
“What (dengan tampang ngajak kelahi)?!?!?!?! I did not see you. You’ve just come.”
Sementara petugasnya ndak banyak komen apa-apa (ngeri juga kalee sama si Bapak) dan kereta subwayku dah datang (yang apparently subway-nya si Bapak juga)
“Oh, okay, have a nice day” , jawabku sambil loncat ke kereta subway menuju kampus, daripada telat.
Sesampai di halte kampus melenggang dengan santai me-recharge kartu pass subway ndak ada yang ngantri ….
I’m invisible.
~DosGil merenung sambil terkenang kejadian sekitar setahun silam. Hebat ya … baru 3 tahun di Belanda sudah “invisible”.
Secangkir air putih dan “Sang Pemimpi” …
Iya iya … sudah lama sekali buku ini terbit. Basbang dan sangat kemamulon membahas buku ini. Anyhow, jemari ini sepertinya memaksa hasrat untuk bercerita yang ada kaitanya dengan buku ini. Cerita diawali dari saat DosGil mampir ke rumah teman kemarin karena diundang buka bersama ~Iya, DosGil memang ndak puasa, tapi kan rejeki ndak boleh ditolak toh … Nah di kamar rekan tadi tergeletak buku bersampul biru yang mengingatkan DosGil pada sebuah percakapan di masa lalu ketika DosGil menemukan seorang teman matanya berkaca-kaca membaca buku itu.
“Eh, kenapa kau nangis?” DosGil mengganggu dengan nada jahil.
“Ah .. siapa juga yang nangis” jawabnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata berusaha menyembunyikan bukti fisik bahwa air mata sempat tergenang di pelupuk matanya.
“Ah ndak usah malu lah. Aku juga terharu dulu sampai berkaca-kaca baca buku itu. Apalagi mbacanya saat dalam pesawat menuju Amsterdam pertama kali.”
“Iya Boi, buku ini mengingatkanku pada banyak hal.” Gaya bicaranya mulai ikut-ikutan gaya Melayu tulisan Hirata itu.
“Echt waar?”
“Iya sangat. Mungkin kalau dengan kondisi sekarang buku Edensor atau Negeri van Oranje lebih dekat dengan keadaan. Tapi energi itu Boi … energi itu Boi yang ndak pernah bisa kulupakan. Membaca lagi buku ini serasa mengembalikan energi masa itu. Atau … kita ini sudah tua ya Boi? Ikal dan Arai dalam buku ini masih bisa meledakkan kekuatan mimpi. Kemana energi itu pergi Boi?”
“Aku ndak tahu …” jawab DosGil setelah terdiam lama.
“Me neither. Mungkin perlu membaca-baca lagi buku-buku seperti ini atau membuka ulang arsip blogmu, Boi! Lumayan untuk injeksi sesaat energi masa muda itu.”
DosGil hanya tersenyum kecut mencerna rekomendasi itu.
“Moreover, banyak quote di buku ini yang mungkin kembali menampar sifat procastinator yang kupupuk di Belanda ini.”
“Contohnya?”
“Lihatlah ini Boi, halaman 165 buku ini.”
DosGil pun mendekat dan membaca bagian yang dia tunjukkan.
Itulah Capo: sederhana, tak banyak cingcong, dan kemampuannya merealisasikan ide menjadi tindakan nyata jauh lebih tinggi dari para intelektual muda Melayu mana pun. Mengajarkan mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata barangkali dapat dipertimbangkan sebagai mata pelajaran baru di sekolah-sekolah kita.
“Baguslah kalau kau, dan mungkin juga aku bisa menginternalisasi mentalitas itu pada diri kita sendiri. Tapi juga ingat masalah kultur kawan. Kultur sekolah-sekolah kita mungkin belum siap menerima hal itu. Siap-siap saja menjadi terasing dan disingkirkan.”
“Bukankah lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan?” kelitnya mengutip Gie.
“In my opinion, diasingkan tidak jauh lebih baik menyerah pada kemunafikan secara dua-duanya ndak memberi nilai tambah.”
“So?”
Sambil tersenyum dan beranjak pergi mengambil segelas air, Dosgil menjawab “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”
Sebelum menenggelamkan diri di laptop, DosGil masih sempat menukas, “Dan yang pertama disebut dari ayat tersebut adalah: cerdik seperti ular!.”
~DosGil sudah ditenggelamkan dengan kesibukannya lagi di negeri kincir. Thanks to rekan-rekan CA yang menemani beberapa waktu lalu saat Dosgil liburan musim panas di Yogya dan masih terkena jetlag (alesyan untuk berkeliaran malam-malam).
Secangkir air mineral dan menghadapi flu (babi?) …
Eitss… jangan salah! Ini tips bukan untuk melawan flu babi melainkan beberapa pilihan strategi yang sempat dipikirkan DosGil menghadapi penerbangan lebih dari 11 jam dari Amsterdam ke Yogyakarta (transit di Kuala Lumpur).
Cerita diawali dari rasa ingin tahu DosGil akan keberadaan distrik lampu merah yang lain di Amsterdam selain De Walletjes. Iyahhh ternyata ada tiga distrik lampu merah di Amsterdam: De Walletjes, di De Pijp, dan Singel (DosGil tidak tahu keberadaan dua yang terakhir). Ada tiga sodara-sodara … dan DosGil yang beredar selama tiga tahun di kota yang meng-klaim penuh toleransi ini, hanya tahu satu. Ke Mana Aja Lu Mon! Keingintahuan ini muncul dari cerita seorang kawan tentang de pijp, yang tidak pernah masuk agenda DosGil kala menjadi guide dadakan. So, pada hari itu, hari Sabtu 25 Juli 2009, DosGil mencoba menjelajahi De Pijp dan mencoba menemukan salah satu dari distrik lamp merah yang berada di area tersebut. Setelah jalan kaki hampir seharian dan kebetulan ketemu teman yang ndak mau diajak berpetualang, pencarian berhenti di kandang beruang a.k.a kamar DosGil masak gule dan tongseng kambing. Angin dingin Amsterdam yang menyaru di teriknya matahari sukses melesakkan angin ke tubuh DosGil. Alhasil demam, batuk dan pilek bersarang di tubuh DosGil. Bukan masalah sih kalau hari biasa. Yang menjadikan DosGil kepikiran adalah: masih ada tumpukan kerjaan yang belum selesai sebelum terbang ke Yogya dan terbang ke Yogya itu sendiri. Why? Ya iyalah, gak lucu dong, waktu liburan yang sedikit ini jadi semakin sedikit kalau terpaksa masuk karantina akibat kasus-kasus flu Babi.
Langkah-langkah pencegahan untuk dikarantina pun dimulai: Bolos kerja di hari Senin untuk tidur seharian dan minum obat flu “import” dari Indonesia, yang ber-merk Panadol. Sukses mengurangi gejala demam dan hari Selasa memaksa masuk menyelesaikan tugas-tugas yang harus selesai. Nah, pada hari selasa itu melakukan diskusi intensif dengan beberapa teman antara lain yang memiliki gelar dr dan apt bagaimana cara melewati pemindaian panas. Antibiotik cipro tersedia, obat-obat flu seperti panadol tersedia, makanan sehat tersedia. Ada yang memberikan tips: minum parasetamol sebelum terbang. Ada yang memberikan peringatan: kalau terdeteksi panas dan ternyata ketahuan minum obat setelah test urine maka akan makin menimbulkan masalah. So? Bingung-bingung deh ….
Setelah berpikir sejenak dan bersiap meracik secangkir seduhan rosella, akhirnya ide cemerlang itu muncul: Antangin JRG dari Cindy, si cantik dari Deltomed dan pemilik blog Clara_Cindy. Yups… tanpa pikir panjang digunakanlah Antangin JRG ini untuk mengatasi gejala-gejala demam dan konco-konconya itu. Dan di hari Rabu pun sudah sangat berkurang dan akhirnya penerbangan hari Kamis yang kemudian mendarat di Yogya tanpa menghadapi kendala karantina akibat flu babi.
Thanks to Cindy dan antanginnya. Juga untuk ijin pemasangan foto di sini.
~DosGil di Wisma Dago Bandung untuk menghadiri ICMC 2009 di ITB. Thanks atas ucapan dan doa-doa baik lewat sms, telpon, facebook maupun email dan milist. I love you full, all!
Secangkir seduhan rosella dan berjalan di tepian sungai Amstel …
![]() |
| Makan di sini |
A bad day? Ah ada pilihan kata yang lebih elegan: One day which I struggled. Nee … hari ini hari yang agak longgar. Baiklah, hari yang cukup indah sebenarnya. Hari yang ditutup dengan nonton “The Hangover” di pathe de Munt. Review? Hanya satu kata: “Awesome!“
Keluar dari Pathe de Munt, ada banyak pilihan untuk pulang dan DosGil memilih untuk jalan kaki ~ah hanya 3 mil ini~ Dan rute yang dipilih tidak melewati jalan konvensional dan ramai melainkan menyusuri sungai Amstel sambil menikmati suasana saat matahari mulai tenggelam.
![]() |
| Awal Perjalanan |
![]() |
| Akhir perjalanan menyusuri sungai … |
~ Foto-foto diambil dengan kamera Hape. DosGil menenggak habis seduhan rosella sambil mencari counterpain untuk ngurut kaki … dan mengutuk aktor intelektual dan pelaku teror bom di Jakarta Jum’at pagi ini serta menyampaikan duka yang mendalam bagi para korban.
Secangkir seduhan rosella dan komunikasi …

Kata orang sih, dalam suatu relasi terlebih-lebih dalam lembaga pernikahan, kuncinya adalah komunikasi.
~menyeruput rosella dan melihat log voip yang dipenuhi kalimat “The other party did not answer your call”
Ilustrasi diambil dari http://groundjet.files.wordpress.com/










