Secangkir seduhan rosella plus madu dan nostalgi …
Di hari-hari yang melelahkan dan sepi ditambah kejar-kejaran dengan deadline demi deadline, sambil menunggu kereta pulang yang telat datang DosGil duduk di bangku peron 5/6 Stasiun Bandara Schiphol. Ada yang menarik dari bangku yang diduduki DosGil, disitu ditulis “quote-quote” tentang perjalanan. Berikut adalah satu quote yang DosGil kutip di wall fb:
You are only here for a short visit. Don’t hurry. Don’t worry. And be sure to smell the flowers along the way.
Dan akhir-akhir ini begitu kuat hembusan angin di FB yang membawa hadir aroma bunga-bunga masa lalu, seperti note FB Nizhar Marizi yang DosGil kopas (dengan sedikit modifikasi) di bawah ini:
———-
Gara-gara memajang kartu-kartu bersejarah di album “Dibuang Sayang”, saya jadi penasaran ingin tahu siapa saja teman-teman satu graha waktu masih calon siswa (casis) di SMA Taruna Nusantara. Otomatis mereka adalah teman-teman saya pertama di kampus itu, di luar teman-teman yang sama-sama dari Lampung tentunya he..he… Sepertinya ingatan ini lebih baik saya tuliskan sekarang, karena semakin lama akan semakin sulit untuk diingat.
Ceritanya dari awal ya… dari Lampung ![]()
Tahun 1994 itu ada 11 anak lulusan SMP di Lampung yang dipanggil untuk mengikuti ujian akhir di Magelang. Dari 11 orang itu, 7 diantaranya lulus dan diterima menjadi siswa SMA TN. Perjalanan dari Bandar Lampung ke Magelang bukan lah perjalanan yang layak untuk dikenang, setidaknya untuk saya, karena kami harus duduk berdesak-desakan. Ditambah lagi sang supir yang ternyata tidak familiar dengan rute menuju Magelang. Fuihh… benar-benar melelahkan! Tapi ada satu yang saya ingat, di salah satu perhentian untuk makan pagi, menunya adalah lele goreng. Itulah untuk pertama kali dalam hidup saya menyantap lele goreng yang ternyata gurih dan membuat ketagihan hehe…
Setiba di kampus SMA TN, kehadiran kami sedikit menarik perhatian (sedikit lho… yang dari panda lain jangan protes ya… hehe…), karena kami mengenakan kaos berwarna biru yang belakangnya bertuliskan asal panitia daerah (panda), PANDA XX LAMPUNG. Padahal saya sangat tidak nyaman mengenakannya, soalnya ukurannya tidak pas dengan badan saya yang sedikit lebih berisi dari pada teman-teman yang lain (penekanan pada kata ’sedikit’ ya!) hahahaha… Siang hingga sore itu saya ditempatkan sementara di Graha 5 yang berisi teman-teman casis dari Jawa Barat, sementara teman-teman Lampung yang lain ditempatkan di graha-graha casis yang lain. Keterkejutan pertama saya adalah pada saat akan mandi, karena ternyata tempatnya hanya berupa bak mandi panjang dan kita harus telanjang. Yah, intinya begitulah…
Malam harinya, setelah makan malam, panitia mengumumkan nomor urut casis, membagikan kartu casis, dan penempatan di graha. Saya mendapat nomor urut 40 atau lengkapnya 94.0040 dan ditempatkan di Graha 1. Saat memasuki Graha 1, ke-44 casis bingung dengan pembagian kamar yang belum diumumkan. Untuk mengamankan posisi hehe…, saya cepat-cepat memasuki salah satu kamar bersamaan dengan seorang casis yang tidak terlalu tinggi tapi putih sekali bernama Hery Sofiaji dari Jakarta. Tadinya kami sudah bersepakat menghuni kamar tersebut, tapi ternyata saya kurang beruntung… pembagian kamar berdasarkan nomor urut casis. Saat itu ada 18 kamar yang bisa dihuni 36 casis, sehingga casis no urut 37-44 harus merelakan diri tidur di bawah dengan kasur, 4 orang disisi kanan pintu masuk kamar mandi dan 4 orang di sisi kiri… nasib hehe…. Saya sudah lupa apakah saya di sisi kanan atau di kiri, yang pasti saya saat itu senasib dengan I Gusti Ketut Ari Wijaya Saputra – Mataram, Sugiarto – Jakarta, dan Andri Mirzal – Riau. Kami berempat menghuni salah satu sisi itu.
Mulai keesokan harinya, proses seleksi dimulai. Selama masa casis, kami menggunakan seragam SMP kami masing-masing, bercelana pendek kecuali teman-teman casis dari sebuah SMP di Lhokseumawe yang bercelana panjang. Graha 1 terlebih dahulu mengikuti wawancara, satu tahap dengan pengurus lembaga/sekolah dan berikutnya dengan para pamong pengajar pengasuh (P3). Mulai pagi hari itu, kami segraha duduk rapi berjejer sesuai nomor urut casis di depan ruang wawancara untuk kemudian satu persatu masuk ke dalam ruangan. Saya yang nomor 40 tentunya sudah mati gaya menunggu… sementara ada teman saya yang sudah mahir tidur sambil duduk di kursi hehe. Selama mengantri, teman sebelah saya, Andri Mirzal, dengan suara khasnya selalu mengeluh bahwa sekolah ini ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan, dan dia berpikir untuk mengundurkan diri pada saat diwawancara. Saya sendiri bilang kalau saya tidak terlalu berharap, jadi kalau tidak lulus ya sudah, saya akan kembali ke Lampung dan melanjutkan ke SMA N 2 Tanjungkarang yang sudah menerima saya hehe…
Akhirnya tiba giliran saya. Setelah mengetuk pintu dua kali, dipersilakan masuk, dan kemudian dipersilakan duduk, barulah saya duduk. Saya sudah lupa sebagian besar pertanyaan yang diajukan, tapi seingat saya seputar motivasi dan latar belakang. Sementara satu orang berseragam militer duduk di depan saya, beberapa pengurus ada di sebelah kiri saya yang membuat grogi saja. Satu pertanyaan yang sangat saya ingat adalah mengenai Japung. Kalau tidak salah pertanyaannya, “Kamu tahu Japung? Sebagai orang Lampung, bagaimana pendapat kamu tentang Japung?” dan saya jawab, “Tahu, Pak… saya waktu kecil sering menangkap capung….” belum selesai kalimat saya, tiba-tiba saja satu ruangan tertawa kecuali saya hahaha….. Makanya pertanyaan ini saya ingat sekali, karena ternyata saya salah mendengar waktu itu. Japung yang dimaksud adalah Jawa-Lampung jadi orang-orang asli Jawa yang sudah sejak nenek moyangnya tinggal di dan menjadi penduduk Lampung. Hehe… jadilah saya ikut-ikutan tersenyum. Iji… Iji…
Keluar dari ruangan itu, seharusnya saya masuk ke ruang 6 (ruang yang kemudian menjadi ruang kelas saya sewaktu kelas II-6), tetapi karena jam makan siang telah lewat saya dipersilakan menyusul teman-teman saya ke ruang bersama untuk makan dan kembali ke ruang 6 pada satu jam kemudian. Satu jam kemudian saya sudah berdiri di depan pintu ruang 6, mengetuk, dan masuk ke dalam. Seingat saya ada 5 orang P3 berpakaian biru sudah duduk setia menunggu saya. Duduk di tengah adalah seorang Bapak dengan pandangan penuh selidik, tajam dan seram menurut saya, belakanga saya tahu namanya Pak Sukarman (CMIIW) (btw, di ruangan yang sama saat duduk di kelas II-6 saya membuat kasus dengan beliau hehe…), lalu ada Pak Usdiyanto, Ibu Ela, Pak Pius, dan Pak Edi Purwito. Pertanyaan/instruksi yang saya ingat antara lain saya diminta memeragakan PBB dengan memberi aba2 sendiri (oleh Pak Karman), lalu saya diminta menyanyikan lagu berbahasa Lampung dan menerjemahkannya (oleh Pak Us), diminta berbicara tentang Lampung dalam Bahasa Inggris (oleh Pak Us), menunjukkan letak Banyuwangi yang waktu itu baru saja terkena tsunami di peta (oleh Pak Edi P.), menggambarkan konsepi sin cos tg (oleh Pak Pius) yang ketika duduk lagi baru saya sadari ternyata keliru hehe… Bu Ela juga bertanya apakah saya mengenal siswa2 SMA TN dan tentu saja saya jawab iya dan saya menyebutkan nama-nama mereka, kakak-kakak kelas saya di SMP, tanpa sebutan ‘abang’. Di akhir sesi, Bu Ela berpesan seandainya saya diterima, saya harus memanggil mereka dengan sebutan abang, ups! Hehe…
Selain wawancara, casis juga menjalani pemeriksaan kesehatan yang sebenarnya sudah kami jalani saat seleksi di tingkat provinsi masing-masing. Tes ini meliputi pemeriksaan darah, mata, dan gigi. Untuk pemeriksaan darah, lagi-lagi kami harus mengantri diambil darahnya di selasar (tempat membaca koran dan menonton TV namanya apa sih? sudah lupa) ruang kelas II. Untuk pemeriksaan yang lain, secara bergantian kami diantarkan ke RS dikomplek Akmil. Kegiatan utama casis selain mengikuti seleksi adalah latihan PBB, meskipun hasil seleksi belum diumumkan tetapi latihan PBB sudah menjadi kegiatan casis.
Selama menjadi casis dan tinggal di Graha 1, banyak cerita yang saya kenang hingga saat ini. Sepertinya akan lebih mudah jika saya bercerita satu persatu teman casis ini. Andri Mirzal atau AMI mempunyai suara khas dan berani, dia berani menyindir teman casis dari Palembang sebagai anak mami… memang akhirnya teman tersebut tidak menjadi bagian TNLIMA. Lalu ada Sugiarto, anak Jakarta ini benar-benar tidak seperti anak Jakarta. Dia akhirnya menjadi manusia TNLIMA yang paling sopan menurut saya hehe… I Gusti Ketut Ari Wijaya Saputra ini dari Mataram, kami sering bersama-sama ke Graha 9 untuk mengunjungi teman kami yang sama-sama ingin pulang. Nurkholisoh Ibnu Aman – Sorong, teman yang satu ini sempat bikin saya minder
… prestasinya banyak banget soalnya. Sugiono – Takengon, ini si serba 001 semua nomor yang tertera di kartu casisnya adalah 001. Teddy Wesman -tanah Malinkundang, ‘bakat’nya sudah terlihat sejak casis hehe…. Enade Perdana Istyastono – Yogyakarta, sandalnya sering saya pinjam… Hery Sofiaji – Jakarta, alim hehe… itu aja ah. Agus Harimurti Yudhoyono – Jakarta, selalu jadi penjuru barisan karena memang paling tinggi… Deny Dwiantoro – Jakarta, selalu merasa lebih tinggi dari saya kalau dalam barisan
Setyo Koes Heriyatno – Pati, wiiiy dari casis sudah berisik hehe… Mereka semua akhirnya lulus. Tapi tidak demikian dengan Elmondo – Medan, yang harus pulang. Padahal kalau dari gaya dan penampilan, sepertinya dia lebih pantas jadi siswa SMA TN dari pada saya hehehe…. Lalu Badarsyah – Palembang, yang selalu merapal bahwa ia ingin mengundurkan diri saja tapi saya tidak tahu apa benar dia mengundurkan diri atau memang tidak lulus
Banyak casis yang mengalami kebimbangan karena jauh dari orang tua sehingga banyak pula yang surut semangatnya ketika menjalani seleksi akhir di Magelang.
Menurut saya, soal lulus atau tidak lulus menjadi siswa SMA TN sebenarnya salah satu rezeki dari Allah, dan ternyata Allah memberikan rezeki itu kepada 250 casis dan menggantinya dengan yang lebih baik kepada lebih dari 50 casis lainnya. Malam hari sebelum pengumuman, kami sudah semakin akrab (terutama yang kamarnya di tengah) dan berkumpul bersama tapi tidak untuk berdoa hanya bertukar cerita untuk melupakan pengumuman esok harinya. Cerita-cerita seram menyangkut kampus akhirnya cukup membuat takut beberapa casis sehingga memutuskan untuk tidak kembali ke kamar masing-masing dan tidur bersama di kasur bawah. Pada hari pengumuman, semua casis berkumpul di GOR (sekarang GSG eh atau terbalik ya?) dengan membawa semua barang-barangnya. Ada 4 bus biru SMA TN yang telah menanti di sebelah gedung. Acara diawali dengan atraksi para casis, seingat saya yang tampil dari graha saya adalah casis dari Pati dengan mocopatnya tapi ternyata dia tidak lulus. Ada magic show dari graha tetangga kami Graha 5 yang dipandu Hery Lesmana, ada mocopat dari Ruruh Wicaksono, dan Rio Neswan yang menjadi satria bergitar tapi bukan dangdut
Di sela-sela hiruk-pikuk acara itu, Andri Mirzal dipanggil ke belakang barisan dan ternyata diwawancarai kembali oleh beberapa orang P3 yang belakangan saya tahu dari dia bahwa dia diminta ketegasan ingin bersekolah di SMA TN atau tidak. Hehe.. rupanya para pamong bisa melihat potensi dia yang memang sangat sayang kalau dilepas… AMI!
Setelah acara hiburan, dimulailah prosesi pengumuman. Ada puluhan casis yang dipanggil satu per satu lengkap dengan nomor bus yang harus dinaiki. Sebelumnya telah diberitahu bahwa dari 4 bus tersebut, 2 bus membawa para casis yang tidak lulus sedangkan 2 bus membawa para casis yang lulus dan akan kembali ke GOR. Saya sendiri termasuk yang dipanggil untuk menaiki bus nomor 3. Berkali-kali kami dicek apakah ada yang salah menaiki bus. Seikhlas-ikhlasnya saya, tentu saya masih deg-degan dan harap-harap cemas hehe… Apakah bus saya ini membawa kelompok casis yang lulus atau tidak? Di dalam bus saya harus berdiri karena jumlah casis tidak sebanding dengan kursi yang tersedia. Saya amati, ternyata saya satu bus dengan Nurkholisoh, Teddy, dan Sugiono (hanya itu yang ingat hehe…) dan saya berpikir berarti kalau saya tidak lulus mereka juga tidak. Tapi, Nurkholisoh tidak lulus? Kok sepertinya tidak mungkin ya? Hahaha…. Sorry Choy, anda benar-benar jadi benchmark saya waktu di bus ini. Tapi kan, semua masih mungkin terjadi. Perlahan-lahan bus meninggalkan kampus. Saat sudah di luar kampus, saya melihat bus nomor 1 dan 2 di depan kami melaju kencang dan saat di perempatan (belakangan saya tahu namanya Pakelan) kedua bus ini lurus sementara bus kami dan di belakang kami belok ke kanan. Kalau waktu itu saya sudah tahu jalan di daerah itu saya bisa memastikan bahwa saya pasti lulus hehe…. sayangnya saya kan tidak tahu hingga akhirnya bus kami masuk ke komplek perumahan TNI (Panca Arga) dan muncul di sebelah kampus SMA TN untuk kemudian memutar masuk kembali ke kampus melalui gerbang utama. Whaaa….. alhamdulillah, saya lulus! Hehehe….
Tiba di GOR kembali ternyata teman-teman casis yang tidak naik bus telah berbaris sesuai dengan asal panda. Saya mencari barisan Panda XX/Lampung, ternyata dari 5 orang yang naik bus hanya saya yang kembali. Tahun itu, hanya 7 casis dari Lampung yang lulus, benar-benar sedikit untuk daerah sebesar Lampung hehe… Pembagian graha diatur ulang dan tetap sesuai nomor urut casis. Saya kali ini beruntung hehe…., dari awalnya 44 casis di Graha 1 tersisa 36 casis. Oiya, kami tetap disebut casis karena kami belum secara resmi dilantik. Jumlah itu sangat pas dengan kapasitas graha, dan kali ini pembagian kamar ditetapkan berdasarkan urutan huruf nama depan. Jadilah saya penghuni kamar 12A dengan teman sekamar Nurkholisoh di 12B. Di depan kamar kami adalah M. Mabruri – Majalengka dan M. Ali Nurofik – Tegal, sementara sebelah kiri kami Purwanto – Banjarnegara (iya bukan ya?) dan Rahmat Siswanto – Padang.
Hari-hari kami penuh dengan berlatih untuk persiapan upacara pelantikan di Balairung Pancasila. Di masa persiapan ini graha kami dibimbing oleh tiga orang abang yaitu Bang Cornelius Agung B. (TN III), Bang Armaji Sayoko (TN IV), dan Bang Arrad Taufik (TN IV). Sementara, abang-abang kelas III (angkatan III) dan II (angkatan IV) lain tak lama juga mulai berdatangan setelah habis masa liburannya. Kehidupan penuh toleransi pun sudah dimulai. Adik harus mengenal abangnya dan tahu asalnya… satu hal yang dulu sempat tidak masuk akal bagi saya, tapi akhirnya sangat saya syukuri kemudian. Percayalah, mengenal abang itu lebih baik dari pada tidak mengenal hahaha… maksudnya, kelak di kemudian hari hal itu bermanfaat. Misalnya, saya jadi terbiasa untuk mencari cara mengingat seseorang yang baru saja saya kenal hingga saat ini. Saya kira itu kebiasaan yang baik
Pelantikan angkatan kelima SMA TN dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Juli 1994 dengan Inspektur Upacara Ketua Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara (LPTTN)/Asrenum Pangab. Dengan dihadiri keluarga masing-masing, acara itu meresmikan kami 250 casis dari seluruh Indonesia menjadi siswa Angkatan V SMA Taruna Nusantara. Acara ini dilengkapi dengan upaya mengecoh keluarga kami untuk mencari anak/saudaranya yang baru dilantik. Kami berbaris di lapangan sepak bola menghadap ke kebun tebu membelakangi GOR, dengan melepas papan nama, dan menunggu keluarga kami menemukan kami. Dengan pakaian yang sama, potongan rambut yang sama, postur yang serupa tapi tak sama hehe…, sudah lebih dari dua minggu tidak bertemu, 1 dari 250 orang, dan dari belakang, tentunya sulit bagi orang tua dan keluarga untuk mencari anak/saudaranya. Tapi, semua prosesi itu saya, dan pasti teman-teman juga, jalani dengan bangga dan bahagia. Kami resmi menjadi TNLIMA!!
————————————-
~DosGil bersiap untuk menghadapi hari terakhhir pekan ini. Thanks to Nizhar Marizi yang mengijinkan tulisannya dikopas di sini.
Secangkir kopi pahit dan pempek Den Haag …
Melengkapi ulasan teman-teman CA tentang pempek yang di sini, situ, dan sana, DosGil yang tidak mau ketinggalan dalam postingan kali ini akan mengulas pempek yang dijual di Ming Kee, sebuah warung makan yang tidak jauh dari Kantor Kecamatan Den Haag, di sekitar Spui. Warung makan ini dibahas dengan cukup lengkap di salah satu bab di novel Negeri van Oranje.
Dari segi kelengkapan dengan pempek yang sering saya dapati di Jogja, pempek ini disajikan cukup lengkap. Dari segi rasa pempeknya, biasa saja dibandingkan Pempek Ny. Kamto, tapi masih sedikit lebih enak dibanding Pempek Palembang Mang Pari 19 ilir dan setara jika dibandingkan Pempek 26 yang lokasinya di Jalan Kaliurang km 5di sebelah Pempek Palembang Mang Pari 19 ilir. Kuah cuko-nya? Superb, bisa disejajarkan dengan kuah cuko Pempek Ny. Kamto. Dari segi harga? Murah cuma 6.5 euro. Ya jangan dikonversi ke rupiah dong ya … silakan dibandingkan dengan harga nasi goreng di warung yang sama yang rata-rata 6.5 euro juga.
Oh ya, sebelum makan pempek DosGil sengaja makan sepiring nasi ayam goreng dengan kecap (4.5 eur) suaya menghilangkan faktor subyektivitas karena lapar.
~DosGil kangen saksang
Secangkir seduhan rosella dan … ah sudahlah …
DosGil mendarat kembali di Negara di bawah permukaan laut dan disambut dengan suhu -1 derajat. Mendapat sms kalau kemarin sore Awan mencari-cari dan kecewa karena Bapak Awan tidak ditemukannya …
“Bapak Awan … Bapak Awan …” teriak Awan sambil mencari di tempat DosGil selama liburan kemarin menyimpan laptop, koper dan lain-lain. “Nono .. nono …” [pengucapan "o" seperti "o" pada colok] dengan tampang kecewa Awan menggeleng-gelengkan kepala karena tidak menemukan jejak ayahnya lagi. Eyang Putri Awan mencoba menghibur dengan mendekati Awan namun ditolak dan dimarahi, “Nan MOH … nan MOH …” Dan Bunda Awan pun turun tangan menghibur jagoan kecilnya. “Bapak Awan kemana?” tanya Bunda Awan. “Andada” jawab Awan yang berusaha melafalkan Belanda. “Naik apa?” tanya Bunda Awan lagi. “At ng..ng..ng…” jawab Awan sambil mengangkat tangannya yang artinya dia ingin ikut naik pesawat.
Kembali ke adegan sehari sebelum itu. Saat DosGil berpamitan pada Awan. Ini pertama kalinya Awan melihat DosGil masuk pesawat untuk pergi melintasi benua. Pada kesempatan sebelumnya, Awan selalu sedang tidur saat Bapak Awan pamitan untuk pergi ke Andada. Saat itu Awan tidak terlihat protes dan melambaikan tangan seperti hari-hari biasa jika Bapak Awan pergi di siang hari. Mungkin dalam benak anak itu, Bapak Awan akan kembali sore harinya atau mengajak Awan sore harinya seperti hari-hari sebelumnya. Namun … tidak kali ini. Awan setidaknya harus menunggu enam bulan lagi untuk main bola bersama Bapak Awan ….
~DosGil masih jet lag dan memaksa diri tetap bangun dan tetap tegar, meski langkah pun kadang gemetar …
Secangkir air putih hangat dan kebersamaan …

Pernah dengar kisah tentang lima monyet atau five monkeys? Versi teks ada di sini dan versi video ada di sini.
Intinya adalah dalam suatu komunitas yang “established“, ide-ide baru atau inovasi akan mendapat perlawanan hebat. Dus, kalau ingin eksekusi sesuatu yang baru dan penuh resiko, lakukanlah “sendiri” atau siapkan energi untuk menghadapi perlawanan hebat dari kolega, selain untuk eksekusi ide tersebut. Good luck teruntuk para inovator dan pembaharu! ~Eh ini kesimpulan yang ndak sambung atau curcol?
~DosGil lelah setelah menghadapi serangan telak atas nama kebersamaan. Ternyata masih belum lulus ujian untuk rendah hati.
Gambar diambi dari sini.
Secangkir air putih dan kisah-kisah senja …
DosGil dulu pernah mencoba bikin kumpulan cerita fiksi dengan latar belakang studi di Belanda. Masih tersimpan di www.dosengila.blogspot.com. Juga pernah mencoba bikin novel dengan tema “Kimia dan Cinta”. Hanya sampai tiga bab dan ndak mood lagi meneruskan. Entah arsipnya ada dimana. Sepertinya pernah diposting juga di sebuah blog, tapi blog yang mana ya … Dan gara-gara e-Novelnya ndorokakung, DosGil terinspirasi untuk mempublikasikan tulisan isengnya untuk umum. Semoga menghibur dan menambah ruang bagi kelompencapir ala tikabanget untuk berkreasi. Dimulai dari “Long Pura” …
———–
Long Pura
Aku dah sampai Amsterdam
Begitu pesan singkat yang baru saja mendarat di hape jadul yang ada senter alias sentolop-nya. Hape yang sama yang digunakan untuk mengirim pesan singkat ini karena memang dulu belinya sama. Senter? Iyah … itu bagian penting karena alasan praktis. Aku disini sedikit takut gelap. Apalagi ada Bagas, buah hati kami yang sering terbangun tengah malam. Sedangkan dia disana, katanya sih, membutuhkan senter kalau buang air besar. Secara toilet di samping lab penelitiannya menggunakan sensor gerak. Apa hubungannya? Ada lah hubungannya. Dia itu kalau buang air besar agak lama karena pikirannya sering kemana-mana, katanya, kalau sedang melakukan ritual itu. Jadi lampu toilet mati secara tidak dideteksi adanya gerakan yang berarti. Maka, hape bersenter jadi salah satu solusi praktis.
Eh, dia sudah sampai Amsterdam berarti sudah jam makan siang di sini. Pantas aku sudah merasa lapar. Ini juga saatnya makan dan minum susu buat Bagas. Ah memang lelah bersama Bagas, namun setidaknya aku ada teman yang menemani. Bukan seperti dia yang seperti berjuang sendiri di sana. Hm.. dengar-dengar sih dia sering sok punya gebetan di sana. Ah paling itu gombalannya juga.
*****
Message sent
Yup sudah terkirim. Saatnya perjuangan panjang dimulai. Dan perjuangan ini akan semakin sempurna ketika …
“Hai En …, sorry telat. Gak lama toch nunggunya?”
“Pertanyaan yang aneh Cin.”
“Koq aneh? Apanya yang aneh?”
“Biasanya orang minta maaf tuh nanyanya, ‘Lama nunggunya?’ … Lha kamu malah …”
“Iya … iya… maaf … gitu aja dibahas!”
Mendaratlah kecupan Cindy ke pipi montok Enade, tiga kali, khas Belanda. Sebelum akhirnya bibir merah pucat Cindy yang sangat jarang dipoles dengan lipstick ini berlabuh di bibir pecah-pecah yang baru saja melintasi samudera dan benua.
Setelah melepas kangen itu, Enade yang menunggu di meeting point bandara Schiphol membuka tas ranselnya untuk membuka oleh-oleh buat Cindy. Tak sengaja terlihat olehnya seorang perempuan muda, menggendong anak kecil seusia Bagas. Air mata mengalir di pipi perempuan itu sedangkan anak kecil yang digendongnya terlihat melambaikan tangan ke arah departure gate. Entah melambaikan tangan dalam arti “good bye” atau “come here, please” ke arah siapa ….
“Cin, ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu.”
*****
Aku menatap punggung Enade yang bergerak menjauh. Aku hanya bisa terbengong-bengong, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Di tangan ini tergenggam gelang giok dari Kalimantan, oleh-oleh Enade. Seharusnya gelang itu menjadikan cinta kami semakin bersemi. Namun, entah “pencerahan” dari mana turun padanya sehingga terucap kalimat perpisahan itu. Meskipun terangkai indah dan keluar dengan merdu, kalimat itu begitu sempurna menghancurkan harapan-harapan kosong ini. Memang hanyalah harapan kosong, secara dia sudah memiliki belahan jiwa dan buah hati yang berada di belahan bumi yang lain. Tapi di sini, sekali lagi DI SINI, dia seharusnya milikku. Seutuhnya milikku.
Kurang ajar sekali lelaki sok tampan itu. Aku bangun pagi dan lebur ke hiruk-pikuknya bandara ini bukan untuk gelang giok ini, melainkan untuknya. Dia yang kadang merusak mimpi-mimpiku saat dia ambil cuti. Ranjangku dingin dan sepi sementara dia pasti bergelora dan bercanda dengan keluarga kecilnya di sana. Aku di sini, hanya menghitung hari kapan dia akan kembali. Dan yang kudapati hanya gelang giok ini. Hatiku ini hancur, seperti hancurnya harapan kosong ini. Meskipun kosong, harapan ini mampu memicu munculnya percikan-percikan singkat yang indah dan mungkin terlalu indah untuk dilupakan. Ah …. basi banget sih … atau malah terlalu dangdut ini. Biarlah, seperti lagu Olga Syahputra … dalam benak ini hanya ada dua kata hancur hatiku … hancur …hancur…hatiku.
Perjumpaan pertama kali dengannya adalah saat pertemuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amsterdam sekitar tiga tahun silam, di Hospitium, Laan van Kronenburg. Saat itu sedang ada acara kumpul-kumpul dalam rangka penyambutan teman-teman yang yang baru datang. Infonya sih ada sekitar 20an lebih mahasiswa baru yang datang atas beasiswa StuNed, sebagian besar pegawai negeri dari departemen keuangan. Pengen liat aja, kaya’ apa mereka-mereka itu dihadapkan dengan kultur Amsterdam yang jelas-jelas berbeda. Di tengah acara, datanglah sosok kekanak-kanakan, gendut, rambut cepak dibalut jaket berwarna biru BNI’45, antara hijau muda atau biru muda ndak jelas. Karena terlambat, dikerjain lah dia oleh pembawa acara secara alasan terlambatnya nyolot banget: ketiduran. Jelas-jelas dia tinggal di gedung yang sama, hanya butuh turun 4 lantai, pakai lift pula. Hanya saja, dengan kepiawaian bersilat lidah. Hmm… dia memang piawai dalam bersilat lidah dalam arti literal hi..hi..hi… Dengan piawainya dia balas mengerjain balik si pembawa acara. Aku kira memang itu salah satu trik dia untuk “grab the attention“: datang terlambat dan show off. Yup, jika memang itu tujuannya, dia cukup berhasil. Sayangnya, dosen muda di sebuah universitas swasta di Yogyakarta ini sudah menikah. Tiga minggu sebelum berangkat ke Amsterdam ini atau berarti sekitar 5 minggu sebelum acara pertemuan itu, dia menikah. Istrinya ditinggal di Yogyakarta.
Tidak. Tidak ada yang istimewa bagiku dari dia meskipun membuat aksi itu. Hanya saja memang peristiwa itu membuat aku aware akan keberadaan “bocah tua nakal” itu. Hingga dua tahun kemudian atau sekitar setahun yang lalu, saat musim gugur sudah membuat taman-taman dan jalanan di Amsterdam seperti disepuh emas. Kami menjadi dekat karena aku sedang dikerjain habis-habisan oleh tugas akhir kuliahku di international business and management studies (IBMS) yang membutuhkan sentuhan program statistik yang namanya SPSS, yang sering diplesetkan olehnya menjadi Smart Program for Stupid Students. Saat itu aku membutuhkan program itu dan sedikit bantuan intruksi pemakaiannya untuk analisis data, dan dari temanku Myra yang pernah satu almamater dengannya aku mendapat informasi bahwa dia sering pakai SPSS untuk risetnya di Belanda ini. Lewat Myra pula aku mendapat jalur untuk akses memasuki ranah pribadinya: kamar, laptop, masakannya dan cerita-ceritanya yang sering lebay dan kadang gak masuk akal. Sejak aku bertanya tentang SPSS kepadanya, dia menjadi mentorku sekaligus tempat aku meminjam laptop dan kamarnya untuk mengerjakan tugas akhir itu. Sementara dia memakai PC yang sudah diset khusus, katanya, untuk dapat mengakses server kampus. Dia hanya memakai laptop untuk untuk chatting dan urusan entertainment lainnya. Kadang-kadang, hanya kadang-kadang memang, dia membutuhkan laptop itu untuk bikin laporan dan presentasi. So, selama musim gugur dan musim dingin itu, praktis laptop ini “milikku”. Mungkin juga hatinya. Ah, tapi aku ragu tentang hatinya.
Selama musim yang merana itu, kadang karena bekerja sampai larut malam, aku memilih tidur di kamarnya, bersamanya. Dan … tidak terjadi apa-apa. Jujur, aku sudah pasrah waktu itu. Aku mungkin sudah terpikat olehnya seiring waktu dan intensitas pertemuan ini. Andai dia menyentuhku pun aku akan menyambutnya dengan senang hati. Sayang aku masih terjerat oleh kultur timur yang membuatku tidak berani memulai. Sedangkan dia, dari pandangan matanya yang kadang sering mencuri-curi menuju ke buah dadaku yang tidak terlalu aduhai ini namun kencang dan berisi, dan juga saat kita bicara face to face sering kudapati fokus matanya ke arah bibirku, seperti hendak melumatnya. Aku yakin dia tertarik padaku. Namun entah karena apa, dia tidak pernah memanfaatkan “kesempatan” yang ada.
Damn! Aku ndak boleh menyerah begitu saja. Ini masih menit 29. Aku yakin keretanya belum berangkat. Kereta ke Groningen via Amsterdam baru berangkat menit 35 dari spoor 3.
******
~bersambung … eh iya disclaimer: cerita ini fiksi belaka … kemiripan nama, peristiwa, dan tempat hanyalah kebetulan belaka … atau sengaja dibuat untuk menimbulkan kesan “real”.
Secangkir air putih dan Ramayana …
Semalaman atau “setahun” menyelesaikan epos Ramayana yang diceritakan ulang oleh C.Rajagopalachari telah membuka mata DosGil pada beberapa detil yang selama ini tidak dimengerti dan selama ini memuat DosGil salah paham. Kesalahpahaman ini menuntun DosGil untuk tidak suka terhadap Rama.
Hasil refleksi DosGil tahun 2009 ini menunjukkan bahwa tema tahun tersebut adalah “bertahan dalam kesalahpahaman”. Beberapa postingan sejak awal tahun 2009 seringkali berupa refleksi setelah miskomunikasi yang berujung salah paham. Dan setup tema tahun 2010 ini adalah Rekonsiliasi atau Revolusi. Rekonsiliasi terjadi jika “adegan” dan “pelaku”-nya seperti tokoh Bharata dan Rama setelah “kerusakan” yang ditimbulkan akibat ulah Dewi Kaikeyi (Ibunda Bharata yang menginginkan anaknya menjadi Raja instead of Rama yang putra dari Permaisuri yang lain) yang terhasut oleh Mantara. Sementara revolusi akan terjadi jika kisah dan tokohnya adalah Subali dan Sugriwa. Let it flows … let it flows … let it flows …
Modifikasi dari postingan tahun lalu:
“Selamat Tahun Baru 2010! Tahun baru, harapan baru dan semangat yang diperbarui untuk makes your dreams come true! “
~Semoga DosGil semakin jernih dalam mengambil keputusan dan bertindak.
Secangkir seduhan rosella dan menghitung hari …
Di sore hari nan sepi… ibuku bertelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut
Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibuku dengar ada namaku disebut….
Ada namaku di sebut
Sejarah hari Ibu di Indonesia disajikan dengan manis oleh Matriphe di sini. So, DosGil ndak akan membahas sejarah tentang hari Ibu, namun DosGil hanya akan menuliskan apa yang muncul di benak kala melihat banyak status di FB mengutip lagu anak-anak “Kasih Ibu kepada Beta … dst.. dst…”. Ya, DosGil baru sadar kalau ini hari Ibu di Indonesia. Dan DosGil teringat salah satu lagu yang bila mendengarnya atau menyanyikannya akan membuat pipi DosGil yang tembem ini basah oleh air mata. Lagu yang tidak disarankan untuk dinyanyikan di koor manapun! Karena berdasarkan pengalaman DosGil, para penyanyi akan terisak dan lagu jadi bubar. Sebagian lirik lagi tersebut dikutip di awal tulisan ini. Lagu ini berjudul Di Doa Ibuku.
DosGil kemudian mencoba menengok ke belakang. nDak usahlah di dramatisir, cerita perjalanan DosGil hingga terdampar di sini dan masih dalam perjuangan ini bolehlah sebelas dua belas gabungan kisah ‘Sang Pemimpi’ dan ‘Negeri van Oranje”. He..he..he.. Seperti biasa kisah-kisah perjuangan mewujudkan mimpi yang lain, ada saat-saat desolasi. Dan ternyata ada tiga hal yang otomatis muncul saat DosGil mengalami desolasi dan menjadikan DosGil berusaha untuk tetap tegar berdiri. Tuhan kah? errr … indirectly yes kali ye … tapi kalau secara langsung sepertinya itu ndak muncul di benak ~ooppsss sorry Tuhan … Yang langsung berkelebat adalah 1. Bayangan Mama bertelut berdoa sebelum tidur dan mengajar DosGil kecil berdoa. 2. Cerita tentang apa yang Mama lakukan sesaat setelah menerima kabar Papa telah tiada … masuk kamar dan mendoakan DosGil kecil yang masih berumur sepuluh bulan. 3. Cerita Mama tentang “kenakalan” dan “perjuangan” Papa dari kecil hingga lulus AKABRI Udara dan menjadi pilot pesawat tempur (Iya, Papa (alm) dan Mama sejak kecil tetanggaan, jadi memang teman sejak anak-anak). Dan biasanya pula DosGil lalu meng-sugesti diri sendiri: 1. “Everything gonna be alright. God is in my side cause my Mom prays for me.” 2. “Papa pernah mengalami yang lebih berat dari aku hadapi, dan dia survive maka aku akan survive. 3. Andai aku “gagal” dalam perjuangan ini, kali ini, there is still a place that I can call home.
Meskipun Mama DosGil dibilang jago masak, kerja di area masak-memasak dan sempat buka katering segala, DosGil yang aneh ini tidak pernah kangen dengan masakan beliau. Entah kenapa karena tidak ada masakan beliau yang spesial di lidah DosGil. Mungkin karena semuanya spesial. Efek sampingnya adalah sulit mengapresiasi masakan orang lain, kecuali masakan yang belum penah dimasak oleh Mama, misal pempek, sangsang, sengsu dan rica-rica … ~oopsss E tapi … Es Teler-nya Mama DosGil juara satu sedunia … waaaa … jadi kangen Es Teler Mama …..
~DosGil membayangkan salju itu diaduk sama air kelapa, susu, alpukat, nangka .. sepertinya lezat sekali …
Secangkir teh panas dan Avatar 3D …
… sempurna dengan donat dari albert hein …. [Warning: Ada spoiler-nya lho!]
DosGil sepertinya ndak perlu mengulas dari segi cerita maupun sinematografi, maupun pelajaran yang bisa dipetik tentang mencintai bumi dari nonton film Avatar ini. Beberapa teman di CA sudah mengulasnya, antara lain di sini.
Yang DosGil pelajari dari nonton pelem ini adalah … bagaimana evakuasi kalau ada kebakaran. Lho koq? Iya, karena di tengah-tengah nonton pelem ada alarm kebakaran dan semua penonton dievakuasi keluar gedung bioskop. Beueh .. mana dingin banget di luar … dan sedikit salju. Setelah dipastikan tidak ada kebakaran, penonton dipersilakan masuk lagi. Ha..ha..ha.. Yes .. besok minta sertifikat lulus pelatihan (di-)evakuasi saat ada bahaya kebakaran. ~halah … malah ngelantur.
Di Avatar, dibutuhkan gabungan tentara, scientist, pemimpin, cinta, dan iman untuk selamat dari great sorrow. Adegan yang paling berkesan bagi DosGil adalah ketika Jack datang sebagai Toruk Mokta (the “real” leader due to his power) dan meminta ijin kepada Tsu’ Tey (the formal leader due to blood line) untuk memimpin perjuangan. Cerita akan lebih rumit jika Tsu’Tey menolak dan Jack memaksakan kehendak, sementara musuh sudah mengancam. Mungkin ending-nya tetap sama, tapi sang Toruk Mokta perlu energi lebih banyak untuk meredam aksi boikot dari Tsu’ Tey. Untungnya bangsa Na’vi percaya pada harmoni dan pada pertanda yang diberikan oleh Eyra. Toruk Mokta adalah pertanda, dan tidak ada pilihan lain bagi Tsu’ Tey selain untuk percaya, meskipun pada seorang “pengkhianat”. Dan perjuangan pun dimulai …
Secangkir air putih dan guyuran salju di malam minggu …
Malam ini di Den Haag, DosGil kedatangan seorang saudara muda yang mau pamitan untuk pergi meninggalkan Belanda dan mengadu nasib ke negara Paman Sam. Memang masih ada proses administrasi terkait visa yang mengganjal, namun DosGil yakin dia akan terbang bagai rajawali dan memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara dan dunia. Janji yang pernah dia ucapkan sekitar 2 tahun yang lalu.
Dan … saat berbincang sambil menyusuri jalanan Den Haag yang masih tertutup salju itu, salju mengguyur dengan deras diiringi angin membuat jiwa narsis DosGil muncul dan kali ini mencoba bergaya Don Nono (alter ego DosGil di Mafia Wars, aplikasi game di facebook) …

~bagi semua pemimpi yang berusaha mewujudkan mimpinya, DosGil sampaikan ucapan selamat berjuang, good luck, dan May God be with you …
Secangkir air putih dan “warm Christmas” …
I am dreaming of a warm Christmas
Just like the ones I used to know
Where my Mom grills satay
and I wait calmly
while Dad buys saksang and gudeg
I’m dreaming of a warm Christmas
With every Christmas meat I eat
May your days be merry and bright
And may all your Christmases be warm
I’m dreaming of a warm Christmas
With all the meals and joys I get
May your days be merry and bright
And may all your Christmases be warm
~hmm..pantes tambah ndut …







